Oleh: Nelsa Kurnia
(Alumni FKM Unair)

Mediaoposisi.com- Masa depan sebuah negara tergantung pada bagaimana pemudanya hari ini. Kita menemukan pemuda hari ini sangat update, namun kurang kekritisannya dalam mengikuti sesuatu. Tak heran Fenomena Challenge akhir-akhir ini membius kalangan pemuda. Mulai dari Skip Challenge, Eraser Challenge, Cinnamon Challenge  hingga touch-my-body.

Berbagai tantangan produk sistem liberalis kapitalis ini sengaja dikemas semenarik mungkin dan dijajakan kepada generasi muslim. Keinginan untuk aktualisasi diri dan mejadi populerlah yang membuat pemuda megikuti setiap gaya hidup barat. Entah masuk akal atau tidak sekalipun.

Lihatlah bagaimana Keke challenge sukses menarik perhatian dan dipraktikkan di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia. Pelaku aksi harus melompat keluar dari mobil dan berjoget sambil diiringi lagu In My Feeling Challenge dari Drake, di mana pintu mobil dibiarkan  terbuka sembari mobil berjalan pelan. 

Perempuan muslimah pun tak malu menari dengan aneka gaya untuk dipamerkan di media sosial. Ini bukti semakin menjamurnya generasi alay yang abai terhadap identitas dirinya.

Challenge berikutnya yang perlu diwaspadai adalah Momo Challenge yang diperuntukkan untuk gadis berusia 12 tahun, Sebuah tantangan game yang tersebar melalui aplikasi WhatsApp (WA). Dalam tantangannya, Momo meminta orang-orang untuk menambahkan kontaknya di aplikasi WA.

Anehnya orang tersebut akan didesak untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri. Hal ini membuktikan betapa tercemar dan rusaknya lingkungan generasi muda muslim saat ini.

Padahal pemuda digadang-gadang sebagai tokoh utama dalam perannya melakukan perubahan. Dalam sejarah peradaban bangsa pemuda adalah aset yang mahal harganya. Kemajuan atau kemunduran suatu negeri bergantung pada pemuda.

Karena pemuda memiliki potensi yang bisa diharapkan untuk masa depan gemilang. Pemuda memiliki semangat yang sulit dipadamkan. Apalagi jika semangatnya bercampur dengan pengetahuan yang dipraktekkan melalui tindakan. Akan tercipta peradaban suatu negeri yang mencengangkan.

Sampai-sampai Imam Syafi’i menyampaikan bahwa pemuda itu dilihat dari kualitas ilmu dan kepribadiannya. Apabila kedua hal ini tidak melekat pada dirinya maka ia tidak layak disebut pemuda.

Kesadaran sebagai khairu ummah -umat terbaik- adalah kunci yang tidak boleh hilang dari diri pemuda muslim.  Potensi pemuda yang visioner, produktif, kreatif dan inovatif harus mendapat perhatian serius  dari negara. Sebab pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Sehingga tujuan hidup pemuda muslim sekali lagi bukan untuk eksis, dengan mengikuti tren-tren zaman sekarang, dimana tren-tren ini tidak sesuai dengan kepribadian pemuda muslim. Justru, tren-tren itu menjauhkan kita dari model pemuda muslim calob penghuni surga. Kita tak pernah kehilangan contoh terbaik dari generasi para sahabat Rasul.

Mereka sangat semangat menuntut ilmu dan menyebarkannya. Mereka terdepan membela dakwah Rasul dan selalu update dengan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Selalu terdepan dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Bahkan kita tidak pernah kehabisan contoh kehebatan pemuda-pemuda islam yang hidup pada masa kegemilangan islam. Tidak hanya ahli dalam berbagai bidang ilmu, mereka juga faqih dalam ilmu agama. Sebut saja Ibnu Sina, masa kecil beliau dihabiskan untuk menyelesaikan Al-qur’an kemudian mempelajari ilmu kedokteran.

Bahkan penemuan beliau masih digunakan hingga melampaui zamannya.  Kita juga bisa merujuk pada Muhammad Al-Fatih yang mempelajari ilmu politik setelah menyelesaikan pendidikan agamanya.

Sepanjang sejarah kegemilangan Islam, pemuda muslim tidak pernah memisahkan Islam dalam pengaturan kehidupan. Namun sayangnya hari ini wahyu Tuhan dianggap sudah tidak relevan dengan zaman karena manusia merasa lebih tahu dan berhak menata kehidupan. Walhasil yang terjadi justru kerusakan dan kebebasan yang diumbar sesuai selera.

Ini justru salah. Karena berubahnya zaman tidaklah mengubah fakta bahwa masa depan suatu bangsa tetap menjadi tanggung jawab pemudanya. Sekarang kita coba menebak bagaimana gambaran masa depan indonesia jika para pemuda menganggap bebas sumber kebahagiaan meniru peradaban barat yang mendewakan kebebasan?

Bukan orang lain Kawan, tapi kitalah para pemuda yang harus memperbaikinya dan membuat bayangan masa depan bangsa ini lebih terarah. Masa depan itu ada di tangan kita para pemuda. Para pemuda muslim, masa muda itu hanya sebentar! So, mulai sekarang mari perbaiki diri untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang diridhoi Allah SWT.

Inilah tantangan yang sebenarnya. Menjadikan negeri ini baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang terbebas dari masalah, yang dijalankan dalam ketaatan kepada perintah dan larangan-Nya serta layak dihujani rahmat-Nya. Acept the challenge, Guys?[MO/sr]

Posting Komentar