Oleh: Ummu Ayyub
Mediaoposisi.com- Gempa kembali mengguncang Indonesia. Pulau NTB diguncang gempa 7° Skala Ritcher. Ribuan bangunan luluh lantak, korban jiwa mencapai lebih dari 500 orang, ribuan orang terluka. Bahkan sampai hari ini, masih terjadi ratusan gempa susulan. Pagi ini terjadi lagi gempa 5,5° Skala Ritcher.
Melalui media, kita tahu bahwa pemerintah sudah all out menangani bencana ini, bahkan Bapak Presiden juga sudah berkunjung kesana. Tapi, ternyata fakta di lapangan berkata lain. Dari tulisan seorang guru di Lombok yang viral di media sosial, kita bisa tahu bahwa masih banyak korban yang belum tertangani disana.
Sekedar minta terpal diposko kecamatan saja tidak ada, apalagi air bersih, nasi bungkus dan sembako.Di Desa Anyar, pusat kecamatan, untuk sholat, air untuk wudhu saja tidak ada.Orang krisis makanan, pasar-pasar tutup, kios-toko tutup. Perekonomian macet total. BBM nihil dalam radius 100 km.
Anak-anak kedinginan karena tenda yang tidak memadai. Air bersih langka. Rumah ambruk tak terurus. Anak tidak terurus, tidak mandi, tidak sekolah?Dimana all out-nya? Atau memang seperti ini yang dinamakan all out? Miris membaca tulisan pak guru ini.
Bahkan ada seorang kepala desa yang berani menantang presiden dan gubernur untuk datang kedesanya yang terpencil dan belum dapat bantuan apapun.
Disisi lain, pemerintah berhasil menyelenggarakan acara Pembukaan Asean Games 2018 yang spektakuler yang disebut-sebut menelan dana sebesar 47 juta dollar atau sekitar Rp 685,2 miliar. Ditambah lagi, pemerintah mengumumkan akan menaikkan gaji pokok dan pensiun pokok bagi para aparatur sipil negara atau PNS pada tahun 2019 mendatang.
Rencana itu bakal dimasukkan ke dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja (RAPBN) tahun anggaran 2019. Besarnya biaya Pembukaan Asean Games dan Pengumuman kenaikan gaji PNS di tengah bencana Lombok menunjukkan sensitifitas penguasa yang rendah terhadap rakyatnya.
Dalam hal ini, sepertinya kita harus belajar dari Rasulullah SAW dan Khalifah Umar bin Khattab, hal pertama yang seharusnya kita lakukan ketika menyikapi gempa adalah mengingat Allah, bertaubat dan introspeksi atas dosa-dosa dan maksiat yang kita lakukan.
Hal ini juga menjadi penjaga kesadaran kita agar senantiasa taat kepada syari’at-Nya. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya baik dalam skala individu, masyarakat maupun negara. Karena gempa bisa datang kapan saja  dan memusnahkan orang tanpa melihat apakah diantara mereka ada ahli ibadah atau ahli maksiat.
Penanggulangan bencana dalam Islam ditegakkan di atas akidah Islam dan dijalankan pengaturannya berdasarkan syariat Islam serta ditujukan untuk kemaslahatan ummat. Penanggulangan bencana ini termasuk dalam pengaturan urusan ummat yang merupakan kewajiban negara. Karena Kepala Negara (Imam) adalah penanggung jawab sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya ” (HR.Al Bukhari dan Muslim).
Negara dalam hal ini Khalifah akan merumuskan kebijakan penanggulangan bencana gempa yang  meliputi tiga aspek yakni sebelum, saat terjadi dan  pasca gempa. Negara juga akan melakukan inovasi sains dan teknologi untuk mendukung keoptimalan penanganan bencana gempa baik pra, ketika dan pasca bencana gempa sebagai konsekuensi dari kewajiban melakukan pengurusan ummat.
Demikianlah cara Islam menanggulangi bencana gempa. Sudah saatnya kita mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dan merenungkan firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 96 yang artinya
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.[MO/sr]

Posting Komentar