Oleh :  Henny Ummu Ghiyas Faris

Mediaoposisi.com- Diberitakan nasional.tempo.co (6/8/2018) jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter di Lombok Utara dan sekitarnya pada Minggu, 5 Agustus 2018,  sebanyak 82 orang. Demikian pernyataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nusa Tenggara Barat, Senin dini hari, 6 Agustus 2018, tentang korban gempa Lombok Utara.

Dan Gempa bumi kembali mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (9/8/2018) sekitar pukul 12.25 WIB. Menurut analisis BMKG, gempa bumi bermagnitudo 6,2. BMKG melaporkan, lokasi pusat gempa berada di 8.36 LS,116.22 BT, sekitar 6 km ke arah barat laut Lombok Utara. Pusat gempa berada di kedalaman 12 kilometer. Gempa bumi tidak berpotensi tsunami (regional.kompas.com,9/8/2018).

Sebuah bencana adalah murni rahasia Allah Subhanahu Wa Ta’aala. Kita sebagai manusia hanya dapat mengupayakan yang terbaik agar musibah itu dapat ditanggulangi. Begitupun dengan terjadinya bencana gempa.

Gempa yang mengguncang Lombok menjadikan begitu banyak pertanyaan dibenak kita, mengapa terjadi gempa ? apalagi jika melihat ke belakang, mengaca kepada kejadian gempa yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 ataupun di Padang tahun 2009.

Para ahli mengatakan, apabila dilihat secara geologi, baik dari lempengan dan patahan yang ada, gempa memang sudah pasti akan terjadi di Indonesia.

Menurut Dr Daryono kepala bidang informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Indonesia itu sangat berpotensi terjadi gempa bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.

Dari tumbukan ini terimplikasi adanya sekitar enam tumbukan lempeng aktif yang berpotensi memicu terjadinya gempa kuat. Wilayah Indonesia juga sangat kaya dengan sebaran patahan aktif atau sesar aktif.

Ada lebih dari 200 yang sudah terpetakan dengan baik dan masih banyak yang belum terpetakan sehingga tidak heran jika wilayah Indonesia itu dalam sehari itu lebih dari 10 gempa yang terjadi. (bbc.com, 7/8/2018)

Posisi Indonesia dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yaitu daerah 'tapal kuda' sepanjang 40.000 km yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.

Gempa di Lombok yang terjadi hari Minggu (05/08) telah menyebabkan banyak korban meninggal disamping ribuan orang harus mengungsi. Sementara gempa Aceh 2004 yang berkekuatan 9,3 pada skala Richter, menyebabkan 180 ribu orang meninggal dengan kerugian Rp45 triliun.

Tidak hanya korban, sudah pasti kerugian pun ada. Jadi apakah kerugian, termasuk kerugian material seperti rumah, jalan, jembatan, dan lain-lain akan terus terjadi mengingat tingginya potensi terjadinya gempa di Indonesia? Mengingat besarnya potensi dan risiko gempa di Indonesia dan telah panjang catatan sejarahnya, bukankah langkah pencegahan seharusnya sudah diambil?

Menurut BMKG  pemerintah mengatakan berbagai cara untuk mengantisipasi bencana alam ini telah dilakukan, termasuk dengan menggunakan teknologi tinggi.

Sistem monitoring gempa bumi, sistem processing dan diseminasi penyebaran itu sudah sangat bagus, menggunakan teknologi yang. Dalam waktu kurang dari tiga menit itu sudah bisa mendapatkan informasi parameter gempa. Waktu gempa, kekuatan, kedalaman dan lokasinya. Juga bisa mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan cepat (bbc.com, 7/8/2018).

Kini kita dihadapkan pada bencana gempa, apapun penyebabnya kita di Indonesia harus hidup di Cincin Api Pasifik. Yang jelas terjadinya gempa dan bencana alam lainnya adalah bagian dari mekanisme yang diatur oleh Allah Subhanahu Wa Ta’aala dengan segala keteraturannya.

Bagi umat muslim bencana ini adalah ujian, agar hambanya selalu bersyukur di dalam kondisi apapun serta pengingat diri untuk berbenah menjadi invidu yang setiap saat selalu lebih baik.

Mungkin juga, bagi negeri yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan ini, dengan diterapkannya aturan-aturan yang memberi celah maksiat bertebaran dimana-mana, bisa jadi mekanisme ini jugalah yang dipakai Allah Subhanahu Wa Ta’aala untuk menyadarkan suatu negeri agar kembali kepada jalan yang benar yang diridhai Allah.

jika Allah Subhanahu Wa Ta’aala sudah berkehendak tidak ada satu orang pun yang bisa menolaknya. Maha benar Allah dengan Firman-Nya:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)

Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum ajal menjemput. Dan potensi alam yang begitu melimpah di negeri ini dapat kita jadikan sebagai sarana ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala.[MO/sr]

Posting Komentar