Oleh: Sitti Komariah,S Pd.I 
(Komunitas Peduli Umat Konda, Konawe Selatan)

Mediaoposisi.com- Belum kering air mata ini menyaksikan rentetan bencana banjir yang menimpa masyarakat hampir di semua wilayah Indonesia. Akibat bencana banjir ini banyak rumah masyarakat yang terendam banjir, dan mereka mengungsi di tempat-tempat yang aman.

Belum lagi gempa bumi yang baru-baru terjadi  pada minggu, 29 Juli 2018 berkekuatan 6,4 Skala Richer di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)  khususnya lereng gunung Rinjani. Akibat gempa bumi ini 1 orang meninggal dunia, enam orang luka-luka dan beberapa rumah warga rusak (tirto.id, 29/7/2018).

Kini masyarakat Indonesia kembali berduka akibat gempa susulan berkekuatan 7.0 Skala Richer di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB)  pada minggu, 5 Agustus 2018. Akibat gempa tersebut 347 orang meninggal dunia, puluhan orang luka-luka, belum termaksud yang dinyatakan hilang, ratusan rumah warga, tempat ibadah dan fasilitas umum rata dengan tanah.

Saat ini, ribuan masyarakat wilayah tersebut harus bertahan di pengungsian dalam batas waktu yang belum ditentukan, dengan fasilitas seadanya (Jakarta, CNN Indonesia, 8/8/2018).

Dilansir dari Antara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Lombok Utara mendapat laporan dari seluruh camat soal korban tewas itu. “Data tersebut dilaporkan pada pertemuan para camat bersama bupati hari ini,” kata kepala BPBD Lombok Utara Iwan Asmara, (8/8/2018).

Data sementara korban meninggal dunia tersebar di kecamatan Gangga 54 orang, Kayangan 171 orang, Bayan 11 orang, Tanjung 54 orang, dan Pemenang 57 orang.  “ itu data sementara yang kami terima dari seluruh camat hingga Rabu siang,” katanya.

Sementara  itu kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan jumlah korban tewas saat ini memang belum pasti. “Jumlah ini akan terus bertambah,” kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta.

Selain itu, sebanyak 1,477 orang mengalami luka berat dan dirawat inap. Mereka tersebar di sejumlah wilayah. Sebanyak 42,239 unit rumah dan 458 bangunan sekolah rusak akibat gempa tersebut. Sementara itu, 156,003 orang masih mengungsi dengan mengunakan fasilitas seadannya dan makan seadanya sambil menunggu bantuan datang.

Bencana alam yang melanda negera Indonesia ini tentu tidak terjadi begitu saja, akan tetapi  disebabkan banyak faktor.  Para ilmuwan berpendapat bencana alam ini terjadi karena sebuah fenomena natural yang memiliki sebab-sebab material. Begitupun juga dengan gempa yang terjadi di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Menurut Pusat Vulkanologi dan mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pemicu gempa tersebut karena endapan gunung api yang berumur Tersier hingga Kuarter, sedimen dan metamorf Tersier sampapi Pra Tersier yang telah lapuk (Jakarta, IDN Times).

Namun pada saat yang sama sebagai seorang muslim yang percaya akan kekuasaan Sang Pencipta tentu harus meyakini bahwa hal tersebut merupakan ketetapan Allah yang diturunkan kepada ummat manusia baik berupa ujian maupun teguran, tentu tidak ada kontradiksi di dalamnya, karena setiap fenomena yang terjadi di muka bumi ini termaksud bencana alam baik melalui sebab-sebab material ataupun tidak itu semua tidak terlepas dari kehendak Allah yang Maha Pencipta.

Sebagai Ujian 
Disadari atau tidak bencana alam yang menimpa ummat manusia termaksud gempa di Lombok Utara yang menelan banyak korban itu adalah salah satu bentuk kecintaan Allah SWT terhadap hambaNya.  Karena semakin tinggi tingkat keimanan seorang hamba, maka ujian dan cobaan yang menimpanya akan semakin berat.

Rasulullah SAW telah bersabda,  “Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Ujian itu senantiasa menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikitpun.’' (HR. Ahmad).

Perlu disadari bahwasannya bentuk kecintaai Allah SWT kepada hambanya tidak harus selalu berbentuk materi dan kemewahan yang banyak, ataupun doa yang spontanitas dikabulkan, namun juga bisa berupa ujian yang tidak menyenangkan bahkan menyayat hati.

Jika kita kembali membuka dan melihat sejarah para Nabi dan Rasul terdahulu, dan para sahabatnya tentu kita akan dapat melihat bagaimana Allah menguji mereka dengan ujian yang jauh lebih  dasyat dibandingkan dengan bencana alam yang menimpa ummat manusia saat ini.

Bukankah Allah sangat mencintai para Nabi dan Rasul-Nya?. Namun ujian tersebut semakin memantapkan keimanan mereka kepada Allah, dan mereka menghadapi ujian tersebut dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Mereka memaknai bencana tersebut adalah ujian penguat keimanan mereka yang untuk mengangkat derajatnya dihadapan Sang Pencipta.


Sebagai Teguran
Bencana alam yang menimpa negeri ini bukan hanya dimaknai sebagai ujian saja namun bisa juga dimaknai sebagai teguran dari Allah SWT kepada hambaNya, agar mereka tidak kufur dan lupa untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Allah.

Bencana ini juga bisa diartikan untuk membangunkan manusia dari tidur panjangnya. Mulai dari kelalaian yang menengelamkan ummat manusia dari kenikmatan duniawi yang membuat mereka lupa atas tanggung jawab mereka sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.

Sebagai wakil Allah di muka bumi ini manusia mempunyai amanah untuk menjaga dan melestarikan alam dan seisinya, bukan malah merusak dan mengambil keuntugan dari sumber daya alam tersebut, sehingga dapat memicu reaksi alam yang sewaktu-waktu merespon tangan-tangan jahil manusia.

Kelalaian dan kekhilafan  manusia tersebut dapat mengundang datangnya musibah atau bencana yang diturunkan oleh Allah. Dengan demikian, bencana yang datang kepadanya merupakan teguran agar mereka dapat kembali mendekatkan diri kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah SWT. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut  disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian dari  (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41).

Namun adakalanya juga bencana tersebut merupakan teguran bagi suatu negeri yang didalamnya banyak orang-orang yang menyatakan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya namun, mereka lalai menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba, bahkan mengingkari aturan Allah.

Karena pada kenyataanya saat ini negeri kita yang mayoritas muslim sangat jauh dari Islam, kemaksiatan dibiarkan begitu saja, perzinahan merajalela dimana-mana, pemerkosaan, pembunuhan, pelecehan seksual, riba dijadikan sebagai sumber pencarian, dan lain sebagainya seolah menjadi hal yang lumrah di era kapitalisme saat ini.

Belum lagi persekusi ulama dimana-mana, cadar, gamis besar, berjengot lebat bahkan panji Allah pun diidentikkan dengan teroris, padahal itu semua adalah salah satu identitas seorang muslim dan muslimah. Sungguh miris menyaksikan semua itu di negeri mayoritas muslim ini.

Akibat kelalaian itulah mereka disiksa di dunia padahal mereka telah banyak mendapatkan kenikmatan. Allah Berfirman.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siska mereka- disebabkan perbuatannya.” (QS. Al- A’raf : 96).


Kembali Pada Islam
Suatu kali terjadi gempa di madinah Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tanganya ketanah dan berkata "tenanglah belum datang saatnya bagimu" lalu Nabi menoleh kearah sahabat dan berkata "sungguh rabb kalian menegur kalian,, maka jawablah (buatlah Allah Ridho pada kalian)"..

Disebutkan oleh Imam Ahmad, dari Shafiyah radhiallahu anha, beliau mengatakan, Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khatab. Maka Umar berceramah, "Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah."

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah.

Lelaki ini bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!" Aisyah menjawab,

"Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, bermain musik, maka Allah yang ada di atas akan cemburu. Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: Berguncanglah, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, berhentilah. Jika tidak, hancurkan mereka."

Orang ini bertanya lagi, "Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?" Beliau menjawab, "Itu adalah peringatan dan rahmat bagi kaum mukminin, serta hukuman, adzab, dan murka untuk orang kafir." (Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 8788

Bencana alam gempa bumi yang telah terjadi di Lombok Utara, NTB ini seharusnya menjadikan teguran bagi kita agar melihat apa sebenarnya kesalahan kita hari ini. baik dari level individu ,masyarakat ataupun negara.

Dilevel individu mungkin teguran bagi kita yang kikir terhadap sesama, sikap sombong dengan harta, rumah ataupun kendaraan yang dimiliki saat ini , kurangnya perhatian untuk memakmurman masjid (sholat berjamaah), mengambil harta anak yatim, dan lain sebagaianya.

Dilevel masyarakat mungkin teguran karna banyaknya kemaksiatan yg terjadi ditengah masyarakat seperti mabuk mabukan, pacaran, pergaulan bebas,  judi, transaksi ribawi dimana mana, perampokan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.

Dan dilevel negara sebagai pembuat dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan ketentuan dan keridhoan Allah SWT, seperti masih enggan menerapkan hukum-hukum Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan.

Seperti Pengelolaan sumber daya alam sesuai syariah Islam, Sistem Ekonomi Islam, Sistem Peradilan Islam, dan lain sebagainya sesuai syariah Allah. Bahkan malah melegalkan yang dilarang oleh Allah SWT seperti miras,perzinahan, transaksi ribawi, judi, dan lain sebagainya.

Sehingga teguran dari Allah ini merupakan momentum bagi diri kita, masyarakat dan negara agar memperbaiki itu semua dan kembali kepada hukum  Allah SWT sebagaimana hadis diatas. Karena hanya dengan Islam kita mampu melaksanakan segala urusan kehidupan ini sesuai dengan aturan Allah. Hanya dengan Islamlah segala problematika umat manusia dapat terselesaikan.

Dan dengan menerapkan aturan Allah secara kaffah maka suatu negeri akan mendapatkan rahmat dan nikmat yang berlimpah dari Allah.  Dan dengan Islam pula akan tercipta kehidupan yang tenang dan lapang.

Oleh karena itu marilah kita kembali kepada Islam dengan menerapkan seluruh aturan Allah SWT dalam kancap kehidupan kita, Baik dalam kehidupan berindividu, bermasyarakat maupun bernegara. yakni kembali kepada tuntunan Al Quran dan As sunnah sebagai landasan dan pedoman hidup kita.

Allah Berfirman “Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesunguhnyaAllah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disesbabkan sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al- Maidah : 49). [MO/sr]

Posting Komentar