Oleh: Nurdiana M Aziz 
( Pegiat Majlis taklim Bali )

Mediaoposisi.com-  “ Islam Nusantara “dalam konsep atau pengertian apapun tidak dibutuhkan di ranah Minang.Bagi kami nama “ islam “ sudah sempurna dan tak perlu ditambah lagi dengan embel embel apapun .Demikian pernyataan  Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018, seperti dikutip detikcom, Rabu (25/7/2018).

Pernyataan yang tegas dari seorang ulama yang teguh dalam memegang prinsip. Bagi Beliau islam ya Islam.Tak ada embel embel Nusantara atau apapun itu namanya. Islam hanya satu.

Yaitu Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada  nabiNya yang mulia Muhammad SAW.Islam yang diamalkan oleh para sahabat beliau, tabi’in dan tabi’it Tabi’in serta ummat beliau yang berpegang teguh pada ajaran beliau SAW.

Istilah Islam Nusantara yang diklaim  oleh penggagasnya dari kalangan Nahdlatul Ulama sebagai islam yang sangat toleran dan menerima berbagai perbedaan serta mengakomodir  setiap adat istiadat di  Indonesia, mereka  katakan  bertolak belakang dengan 'Islam Arab'  yang menyukai kekerasan.

Bahkan mereka menyebut “ Islam Arab” sebagai penjajah karena mereka menguasai negeri negeri dengan pedang.Mereka berpendapat bahwa “ Islam Arab “ menimbulkan keresahan di kalangan ummat islam Indonesia yang menyukai Islam yang santun dan sangat toleran terhadap perbedaan.

Mereka menganggap “ Islam Arab “ merupakan sumber radikalisme yang tidak  cocok diterapkan di Indonesia yang notabene terdiri dari beragam suku dan agama.  “ NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam Nusantara ini ke berbagai pelosok negeri” begitulah tekad  Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siraj yang diamini oleh para pengikutnya.

Gagasan Islam Nusantara oleh  kalangan NU ini ditolak oleh sebagian besar ummat islam yang menginginkan agar islam murni dari penambahan ataupun pengurangan dalam bentuk apapun.Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW telah sempurna dan tak perlu definisi ulang sebagaimana yang gencar di suarakan oleh sebagian kalangan NU .

Allah SWT telah jelas jelas menegaskan dalam firmanNya di surah Al Maidah ayat 3 :“ Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu,dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridlai islam itu sebagai agama bagimu”.

Islam telah diamalkan oleh Nabi dan para sahabat beliau serta para ulama dan ummat yang mengikuti jejak beliau . Tidak pernah terjadi kerusakan dan kekacauan apapun yang dicatat oleh sejarah selama tiga belas abad  saat islam menaungi  jutaan manusia  yang berada di wilayah kekuasaannya.

Dalam buku “The Preaching of Islam”, orientalis dan sejarawan kristen Thomas W. Arnold mencatat keadilan Khalifah Islam membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khalifah Islam dibanding dipimpin oleh Kaisar Romawi walau sama-sama Kristen.

Wilayah Syam (Syria, Jordan, Palestina) di bawah pemerintahan kristen Romawi timur (Byzantium) selama 7 abad sebelum Islam datang.Ketika pasukan Muslim di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya berbunyi:

Saudara-saudara kami kaum muslimin, kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami, karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih bersikap belas kasih kepada kami dengan menjauhkan tindakan-tindakan tidak adil serta pemerintah Islam lebih baik daripada pemerintah Byzantium, karena mereka telah merampok harta dan rumah-rumah kami.”

Penduduk Emessa menutup gerbang kota terhadap tentara Heraclius serta memberitahukan kepada orang-orang Muslim bahwa mereka lebih suka kepada pemerintahan dan sikap adil kaum muslimin dari pada tekanan dan sikap tidak adil penguasa Romawi(Era Muslim.com)

Lalu sekarang , mereka para penggagas Islam Nusantara ini meragukan keadilan islam yang dibawa oleh Rasul yang mulia Muhammad SAW untuk kemudian  menciptakan islam jenis baru yang menurut mereka jauh lebih toleran dibanding islam yang telah dijalankan oleh para pendahulu mereka.

Padahal sebagaimana tersebut dalam sejarah , yang mereka klaim sebagai Islam Arab tersebut pernah menaungi  sepertiga dunia  dengan cahaya keadilannya.Apakah mereka berpikir bahwa Islam Nusantara lebih baik dari apa yang disebut mereka sebagai “ Islam Arab” yang konon merupakan sumber  perpecahan dan radikalisme?

Mereka merasa lebih paham tentang islam yang mendamaikan dibandingkan Nabi SAW dan para sahabatnya.Sungguh tak ada yang membenci islam yang dibawa oleh Rasul kita tercinta kecuali orang kafir dan munafik.

Sebab seorang muslim akan senantiasa mencintai apa yang telah diturunkan Allah SWT,dan akan menjaga apa yang telah diajarkan oleh Nabinya sebagai bukti keimanannya kepada Allah dan rasulNya.Seorang muslim percaya bahwa Islam adalah aturan  hidup terbaik yang tak akan pernah tertandingi dengan aturan hidup buatan manusia segenius apapun dia .

Islam  telah terbukti   mampu membina kehidupan harmonis berbagai macam agama dan suku selama berabad abad lamanya.

Maka sudah selayaknya para ulama bersikap seperti sikap yang diambil oleh Buya Gusrizal Gazahar Ketua MUI Sumbar. Sebab Islam Nusantara  bisa membawa kerancuan dan kebingungan  ummat dalam memahami Islam sebagaimana yang telah beliau tegaskan.Ulama wajib menolak islam racikan manusia ini sebab dia telah sempurna di turunkan oleh penciptanya.

Tak ada keraguan padanya.Sebab tak ada yang paling mengetahui kemaslahatan manusia kecuali pencipta mereka sendiri.Maka sudah selayaknya sikap seorang muslim apalagi ulama menolak  bentuk apapun yang  berupa tambahan maupun pengurangan terhadap islam.

Penerimaan terhadap islam gaya baru  merupakan kedurhakaan terhadap Allah SWT dan pembangkangan terhadap syariat yang akan berakibat dosa sehingga pelakunya bisa saja menerima adzab dari Allah SWT di dunia maupun di akhirat.Maka bukanlah sebuah prestasi mengakui Islam nusantara dan menyuruh para ulama mengapresiasinya.

Karena  Islam nusantara tidak layak diapresiasi.[MO/sr]



Posting Komentar