Oleh : Aya Hikari 
"Pemerhati Sosial"

Mediaoposisi.com-Generasi muda merupakan tonggak peradaban suatu bangsa. Maju dan mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan mereka. Jika generasi suatu bangsa memiliki visi masa depan, produktif, inovatif, mandiri dan memiliki kepribadian yang tangguh, secara pasti akan mengantarkan peradaban suatu bangsa menjadi kuat dan mandiri pula.

Sebaliknya jika generasi muda suatu bangsa tidak memiliki visi hidup yang jelas, tidak memiliki kepribadian yang tangguh bahkan rapuh, terlena dengan perkembangan zaman tanpa mampu memfilter segala macam pemikiran yang dapat merusak citra pemuda, dapat dipastikan akan mengantarkan peradaban suatu bangsa pada jurang kehancuran.

Geliat pemuda dalam mengikuti perkembangan teknologi di abad 21 mengalami kemajuan luar biasa. Abad ini ditandai dengan semakin merebaknya arus digitalisasi pada seluruh lini kehidupan manusia.

Teknologi secara prinsip merupakan hasil perkembangan sains modern menjadi sesuatu yang alamiah untuk digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia secara umum. Menjadi polemik, tatkala masyarakat tidak mampu melakukan scanning (penyaringan) pada hal-hal apa saja yang boleh untuk diambil dari sekian banyak perkembangan teknologi yang ada. Sehingga kadang justru menjadi korban akibat masifnya  arus digitalisasi.

Fenomena merebaknya sejumlah challenge minus manfaat menjadi sekian bukti dari perkembangan teknologi yang telah menyihir berbagai kalangan. Berbagai challenge (tantangan) tersebut kian marak di dunia maya dan menyita perhatian dari generasi muda yang ikut-ikutan dengan trend kekinian dan berusaha untuk menjadi populer.

Munculnya berbagai fenomena tantangan merusak tersebut tidak luput dari peran pemerintah yang tidak melakukan filterisasi kepada masyarakat terkait perkara-perkara yang dapat merusak generasi dan menghilangkan jati diri. Abainya pemerintah juga didukung dengan semakin ramainya generasi “latah” yang kian tumbuh dimasyarakat. Melihat suatu hal yang menyenangkan dan asyik untuk digandrungi padahal itu berupa kesia-sian dan rentan pada bahaya.

Hal ini juga sebagai efek globalisasi yang melanda negeri ini, dimana patokan halal-haram tidak menjadi pertimbangan ketika melakukan suatu perbuatan. Arus kebebasan yang dilahirkan oleh sistem sekuler yang menjadikan agama dijauhkan dari kehidupan dan hanya menjadi urusan privat, itupun kalau dirasa perlu dalam kondisi yang mendesak.

Prinsip sekularisasi yang menjamin kebebasan setiap orang untuk berekspresi tanpa memperhatikan kaidah agama tentang bagaimana hal tersebut diikat, menjadikan wajar lahirnya ekspresi gaya hidup generasi yang kebablasan. Keke challenge, momo challenge dan tantangan lainnya pasti akan semakin menjamur ketika tata kehidupan masyarakat masih sekuler. Ini menjadi keprihatinan bersama yang juga menjadi tugas bersama untuk dihentikan dan dijauhkan dari tatanan kehidupan masyarakat.

Efek domino sekularisasi segala bidang tersebut merupakan bibit peradaban liberal yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan. Sehingga, penting kemudian dalam kondisi seperti ini untuk menanamkan nilai aqidah yang kuat pada generasi muda agar dapat mencampakkan arus liberalisasi yang dapat merusak generasi.[MO/an]









Posting Komentar