Oleh: Mamik laila, S. Pd 
(Aktivis Peduli Generasi Nganjuk) 

Mediaoposisi.com- Sebentar lagi tahun politik, meriam suara siapa ikut suara partai apa mulai bermunculan. Hawa perpindahan partai pun mulai terlihat. Entah karena tidak sevisi dengan partai yang mengusungnya atau alasan lain.

Juga trend kemunculan artis dalam panggung politik praktis. Sekalipun trend ini telah berlangsung beberapa periode, namun hal ini semakin hingar. Taruhlah 54 artis akan berpartisipasi sebagai bakal calon legislatif pada Pemilu Legislatif 2019 nanti.

Partai Nasdem menyumbang 27 orang artis, diikuti PDI Perjuangan sekitar 13 orang, PKB sebanyak 7 orang, dan sisanya dari partai-partai lain. www.antaranews.com

Panggung politik segera digelar, para pemain panggung sudah memulai menyiapkan diri. Mulai aktif lagi bergerak di partai-partai yang sudi mengusung mereka. Antara nafsu kekuasaan yang dibalut dengan perjuangan untuk rakyat. Begitu sulit melihat antara dua makna dibalik satu perilaku, politik praktis 2019.

Periode demi periode pergantian kekuasaan, akan memunculkan intrik, sarat dengan kepentingan. Janji-janjipun digelar, tanpa melihat atau bahkan melirik apa yang telah dijanjikan ketika sudah menduduki kursi empuk kekuasaan. Akan sangat sulit sekali melihat mana yang konsist untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, mana yang abal-abal perjuangannya.

Sedikit menengok politik artis yang tiba-tiba mereka muncul dalam panggung Euforia pemilu 5 tahun an. Coba kita telisik, hari-hari para artis. Mereka sudah terbiasa manggung kemana-mana, menghibur penonton dengan goyangannya, tarik suaranya, bahkan hanya iringan melodi dari aransemen yang dimainkan. Tak terlihat edukasi satupun.

Okelah mereka memiliki kecerdasan Musikal. Jikalau berbicara kekuasaan, seharusnya mereka-mereka yang notabene memiliki pendidikan di bidangnya, bidang politik. Maaf maaf, bagaimana jika mereka menduduki tampuk kekuasaan? Fenomena ini, sedikit memiriskan hati.

Arti politik yang semestinya dipahami sebagai pengurusan urusan umat, semakin terkerdilkan dengan oknum-oknum yang tidak memahami arti politik itu sendiri. Di dalam demokrasi, politik diartikan  seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. www.wikipedia.org

Di sinilah letaknya meraih kekuasaan, kekuasaan diartikan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Nyata nya teori ini sudah banyak dibelokkan oleh pengusung ide tsb.

Sebab sistem yang dibuat oleh manusia, begitulah tak lekang dengan kesalahan. Sehingga banyak terjadi tambal sulam yang membuat perpolitikan demokrasi suram. Kendati demokrasi, meraih kekuasaan dalam arti politiknya tak sejalan dengan teori yang ada. Muncul pertanyaan, hal apa lagi yang membuat kita begitu sulit melepas demokrasi?

Politik yang memiliki makna suci, memberi pengurusan kepada rakyat atas dasar apa yang telah dititahkan oleh sang Pemilik bumi masih disepelekan, masih dikibuli oleh mereka yang berdiri berjuang dibalik cukong-cukong bayaran.

Karena sedikit materi yang mereka inginkan. Sudah waktunya beralih dari politik praktis kekuasaan ke politik pengurusan umat dengan syariat Allah yang Mulia.[MO/sr]

Posting Komentar