Oleh: Siti Ghina Citra Diany Am,Keb

Mediaoposisi.com- Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar ternyata memiliki dampak yang luar biasa bagi ekonomi di Indonesia. Dengan kondisi tingkat utang pemerintah yang terus mengalami peningkatan, dan adanya selisih kurs yang terjadi, akan membuat pemerintah harus mengeluarkan dana yang lebih besar untuk melunasi pokok dan bunga utang yang sudah jatuh tempo.

Dan hal ini yang bisa mengganggu pembangunan ekonomi. Dana yang untuk anggaran pembangunan justru terserap untuk membayar kewajiban hutang, dan anggaran pembangunan menjadi berkurang. Juga dari sisi swasta, dampaknya tentu akan menurunkan tingkat produktivitas dan pertumbuhan tertahannya pertumbuhan ekonomi nasional.

Meski pemerintah berdalih ekonomi masih aman, namun nyatanya berbanding terbalik dengan realita yang ada saat ini. Dengan nilai dolar yang begitu perkasa, dapat dipastikan harga barang-barang impor yang bersentuhan langsung dengan kalangan rakyat bawah pun akan melambung tinggi, baik yang berupa bahan baku maupun barang jadi.

Kondisi masyarakat pun sudah mengalami goncangan ekonomi, dengan rendahnya daya beli masyarakat yang  artinya masyarakat lebih memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya, alih-alih sebagai antisipasi kemungkinan buruk kedepannya.

Krisis ekonomi Inipun akan berimbas pada industri banyak industri yang akhirnya gulung tikar yang berakibat puluhan ribu karyawan terpaksa diberhentikan yang justru anehnya pemerintah membuka jalan lebar untuk tenaga asing sementara rakyat yang pengangguran semakin meningkat lemahnya daya saing produk Indonesia baik yang domestik atau ekspor karena beberapa sektor industri.

Bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal biaya produksi yang naik berujung harga barang jadi lebih mahal sementara konsumsi domestik stagnan yang akan beresiko pada beban pembayaran cicilan biaya hutang dan luar negeri Pemerintah maupun korporasi semakin besar dan dibuatlah kebijakan untuk menaikkan harga agar APBN tidak membengkak.

Sebagaimana disampaikan oleh pengamat ekonomi politik, Salahuddin Daeng. Bahwa kondisi tekanan ekonomi saat ini terjadi karena kesalahan haluan ekonomi yang diambil pemerintah. Sudah pasti, sistem ekonomi kapitalisme inilah yang menjadi biangnya.

Sistem tersebut terbukti terbukti gagal menyejahterakan rakyat, tetapi terus saja dipertahankan hingga sekarang. Padahal sudah jelas adanya cacat serius dalam kapitalisme dan ketidakmampuannya untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dunia.

Keruntuhan kapitalisme pasti akan terjadi, dan gantinya adalah sistem Islam. Islam memiliki catatan sejarah hampir lebih dari 13 abad dan menunjukkan bahwa Islam mampu menghasilkan sistem produktivitas yang dapat mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah manusia paling dasar seperti makanan, keamanan, kesehatan, pendidikan, dan stabilitas.

Dalam Islam, uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja. Sedangkan ekonomi digerakkan oleh sektor riil saja.

Dalam sistem Islam uang yang beredar pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa, bukan dengan sesama uang seperti yang saat ini terjadi pada transaksi perbankan atau pasar modal di dalam sistem kapitalis. Sehingga pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat, dan lapangan pekerjaan yang terbuka lebar akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

Semua itu hanya bisa diterapkan oleh Negara dengan sistem Islam yaitu Daulah Khilafah, bukan dengan sistem kapitalis ataupun sosialis. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, akan terjamin pemerataan dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat. Tidak hanya bagi yang kaya saja atau yang Muslim saja, tetapi untuk seluruh Ummat.[MO/sr]

Posting Komentar