Oleh: Rheiva Putri
(Alumi SMAN 1 Rancaekek)

Mediaoposisi.com- Seperti yang kita ketahui Diminggu lalu perpolitikan di negara kita sedang mengalami kebingungan, yang dimana kedua kubu bingung untuk menentukan siapa yang akan diusung oleh masing-masing kubu. Dan akhirnya keluarlah dari kubu dengan hastag 2019 ganti presiden yaitu Prabowo-Sandi, dan dikubu lawan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Dengan dipilihnya Ma'ruf amin sebagai cawapres oleh Jokowi ini menyebabkan banyak kontroversi, yang dimana kita ketahui bahwa beliau adalah Ulama yang umurnya sudah dikatakan cukup tua. Hal ini menjadi perhatian banyak orang, mengapa Jokowi menggandeng Ulama? Jokowi menuturkan bahwa dirinya memilih Ma'ruf Amin karna menghargai ulama.

Jika dilihat kebelakang bukankah dimasa kepemimpinan Jokowi ini sangat marak terjadi kriminalitas terhadap agama Islam? Mulai dari saat terjadi penistaan agama oleh Ahok mereka tak mendukung aksi 212, lalu ulama harus memiliki sertifikat untuk berdakwah, ulama tak boleh berbicara tentang politik ketika berdakwah, lalu salah satu ormas Islam pun dibubarkan ketika pemerintah Jokowi.

Apakah itu layak dikatakan menghargai ulama? Mungkin Ulama yang mereka hargai hanya ulama yang mendukung mereka, lalu ulama yang tak mendukung harus dijauhi. Dan jika dilihat dari umur mengapa tak memilih cawapres yang lebih muda?

Apakah memilih yang umurnya jauh lebih tua agar lebih leluasa dalam mengambil keputusan, dan perlu diingat Jokowi mengatakan memilih beliau karena menghargai ulama bukan agar menerapkan aturan Islam di negara ini?.

Di dalam Islam sendiri bukan dilarang seorang ulama menjadi seorang pemimpin, hanya saja untuk saat ini semua permasalahan diakibatkan oleh sistem sekuler yang diterapkan di negara kita ini. Meskipun ulama menjadi wapres ataupun presiden jika sistem tidak dirubah maka tak akan menghasilkan perubahan yang signifikan agar diterapkannya aturan Islam di negara ini.

Dimana akan menghasilkan aturan yang samar-samar antara halal dan haramnya. Contohnya miras, didalam Islam sudah jelas bahwa miras itu haram sedangkan aturan saat ini bukan melarang miras tapi mengatur penggunaan miras.

Sungguh memilukan keadaan saat ini Ulama hanya menjadi alat untuk mendapat simpati atau suara rakyat. Seharusnya Ulama itu dimuliakan, namun hal itu hanya akan terjadi ketika aturan Islam yang diterapkan.[MO/sr]


Posting Komentar