Oleh : Khusnul Khotimah

Mediaoposisi.com- Label syariah sepertinya menjadi sasaran yang tengah diincar beberapa petinggi negara di tengah geliat dan potensinya yang menggiurkan. Dilihat dari segi  keuangan saja, aset keuangan islam global mencapai 2 Triliun Dollar Amerika.

Sedangkan dari segi kuantitas peluang pasar, mengingat penduduk muslim di dunia berjumlah kurang lebih 1.6 Miliyar, tentunya kedua hal tersebut tak luput dari lirikan yang memandang ini sebagai huge market yang mendatangkan banyak keuntungan.

Bahkan, lembaga keuangan dunia sekelas IMF pun tertarik untuk turut memberikan kontribusinya dalam pengelolaan ekonomi syariah di Indonesia.  Tentunya, ada sesuatu di balik ini semua. Sebabnya tak lain dan tak bukan adalah karena ada maksud untuk menggabungkan anatara keuangan syariah dan keuangan konvensional.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak yang mengusulkan penerapan peraturan berdasarkan label syariah. Salah satunya datang dari Gubernur Bank Indonesia yang mengatakan bahwa rupiah anjlok akibat diterapkannya ekonomi ribawi sehingga perlu ada perubahan ke bentuk ekonomi syariah yang berasal dari Tuhan.

Lalu, sempat ada perbincangan yang ditayangkan di salah satu stasiun swasta bertajuk "Hutang Piutang Konsep Syariah Bisa Menjadi Kebutuhan"

Jika ditelusuri lebih jauh, adanya pemberdayaan konsep kehidupan berlabel syariah yang diusung di sistem buatan manusia sejenis demokrasi, maka tidak akan membuahkan hasil pemerataan pendapatan seperti apa yang dicita-citakan. Karena seyogyanya, sistem demokrasi dan pasangannya, sistem kapitalisme datang dengan visi misi meraih keuntungan sebanyak-banyaknya.

Maka tak heran, jika sebelumnya ada wacana pengambilan zakat sebesar 2,5% dari gaji PNS setiap bulan dan peminjaman dana haji yang janjinya akan dikembalikan di kemudian hari, semuanya akan digunakan untuk pembiayaan infrastruktur semata, bukan kembali lagi ke kepentingan umat.

Jadi, selama ini pemberian kata syariah yang khas sekali dengan sesuatu yang berbau islam, seolah-olah menjadi primadona di tengah keterpurukan ekonomi hari ini. Namun, itu semua hanya topeng saja.

Nyatanya hari ini, bank yang di belakangnya terdapat embel-embel "syariah" masih ada yang mengandung riba. Padahal, riba telah jelas keharamannya dan dosanya yang terkecil adalah seperti berzinah dengan ibu kandung sendiri. Namun, hal ini sepertinya tidak terlalu diindahkan karena sistemnya rusak dan sama sekali tidak menjerakan bagi para pelaku riba.

Begitu pula halnya di kampus. Meskipun jurusannya disebut ekonomi syariah, namun mereka diajak berpikir dengan cara konvensional. Ini dilakukan dengan alasan negara Indonesia bukan negara islam jadi tidak bisa diarahkan ke penerapan syariah secara utuh.

Begitulah jika penerapan Islam direalisasikan dengan cara yang parsial alias diambil sebagian saja. Padahal, perubahan dan perwujudan kebangkitan umat yang hakiki menuntut perubahan secara sistemik, bukan sevara parsial.

Sungguh tidak ada beda, meskipun dalam pengaturan ekonomi dijalankan dalam kaidah syariah, namun sistem masih tetap sama yakni kapitalisme yang menggerogoti jiwa.

Lain halnya bila Islam diterapkan secara sempurna. Baik dari segi ekonomi, hukum, sosial, kesehatan, dan pendidikannya. Niscaya segala permasalahan yang dihadapi umat saat ini akan menemukan solusi yang tersolutif yang pernah ada. Sebab aturan Islam datang dari sang pencipta, masihkah kita meragukan keperkasaan dan keaguangaannya.[MO/sr]

Posting Komentar