Oleh: Rohati Sanusi

Mediaoposisi.com-  Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 12 Juli 2018 telah ditanda tangani HoA antara PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero). Dalam kesepakatan ini Inalum akan menguasai 41,64 persen PT Freeport Indonesia.

Langkah ini untuk menggenapi 51 persen kepemilikan saham oleh pihak nasional. Sebelumnya, Indonesia hanya memiliki 9,36 persen saham perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut. (liputan6.com, 13/07/2018)

Dalam Islam, sumber daya alam (barang tambang) merupakan milik umum hendaklah diserahkan pengelolaannya kepada negara. Hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk subsidi untuk kebutuhan primer seperti pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya.

Hal ini dikemukaakn oleh An Nabhani (1996), berdasarkan hadist riwayat At Tirmidzi dari Abyadh bin Hambal. Dalam hadist tersebut Abyadh menceritakan telah meminta kepada Rasulullah untuk dapat mengelola sebuah tambang garam.

Rasulullah meloloskan permintaan itu, tapi segera diingatkan oleh seorang sahabat “Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir”Rasulullah kemudian bersabda: “Tarilklah tambang tersebut darinya”.

Yang menjadi fokus dalam hadist tersebut bukan “garam” tetapi tambang. Terbukti ketika Rasulullah mengetahui bahwa tambang garam itu jumlahnya sangat banyak, Rasul menarik kembali pemberian. An Nabhani (1996) mengutip ungkapan Abu Ubaid yang mengatakan:

Pemberian Nabi SAW kepada Abyadh bin Hambal terhadap garam yang terdapat di daerah Ma’rab, kemudian beliau mengembalikannya kembali dari tangan Abyadh, sesungguhnya beliau mencabutnya semata karena menurut beliau tambang tersebut merupakan bumi mati yang dihidupkan oleh Abyadh, lalu dia mengelolanya. Ketika Nabi SAW mengetahui bahwa tambang tersebut (laksana) air yang mengalir, yang mana air tersebut merupakan benda yang tidak pernah habis, seperti mata air dan air bor, maka beliau mencabutnya kembali, karena sunnah Rasulullah dalam masalah padang (hutan dll), api (energi/barang tambang dll) dan air menyatakan bahwa semua manusia berserikat dalam masalah tersebut, maka beliau melarang bagi seseorang untuk memilikinya, sementara yang lain tidak dapat memilikinya”.


Dengan memahami ketentuan syari’at Islam terhadap status sumber daya alam dan bagaimana sistem pengelolaannya bisa didapat dua keuntungan sekaligus.

Yakni sumber masukan bagi anggaran belanja negara yang cukup besar untuk mencukupi berbagai kebutuhan negara dan dengan demikian diharapkan mampu melepaskan diri dari ketergantungan terhadap hutang luar negeri bagi pembiayaan negara.

Penambangan sumber daya mineral oleh swasta (lokal/asing) atau perorangan merupakan kesalahan besar. Sejak beberapa tahun kebelakang sudah triliunan rupiah hasil tambang yang melayang ke luar negeri atau masuk ke kantong-kantong pengusaha swasta lokal atau perorangan.

Lepasnya kepemilikan sumber daya alam Indonesia merupakan salah satu upaya penjajahan kapitalis yang tanpa kita sadari, mereka memaksakan aturan neolib pada pemimpin negeri ini. Dengan melakukan privatisasi di sektor sumber daya alam. Padahal ketika kita negara mengelola sendiri maka hasilnya bisa untuk mensejahterakan hidup rakyat.

Selama sistem kapitalis tetap digunakan, maka negara tidak akan bisa mensejahterakan rakyatnya karena sumber daya alamnya sendiri tidak dikuasai oleh negara.

Ketika sumber daya alam dikuasai oleh perorangan maka perorangan tersebut akan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dan mengeluarkan modal sekecil-kecilnya. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi yang mereka emban selama ini.

KIta sebagai umat muslim seharusnya bangga sebagai orang Islam karena aturan kita berasal dari Allah dan itu paripurna mencakup pengelolaan sumber daya alam.

Akankah kita masih mau menggunakan sistem dari selain Allah yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat karena sumber daya alam yang dikuasai oleh swasta yang notabene akan mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan bersama.

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”TQS. Al Maidah [5]: 50.[MO/sr]


Posting Komentar