Oleh: Novia Darwati, S.Pd.
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com- “Beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia!”
Sebaris kata di atas cukup menunjukkan sejauh mana para pemuda diperhitungkan dalam merintis masa depan suatu bangsa. Sejarah pun telah menuliskan sepak terjang aktifis mahasiswa 1998 -yang notabene adalah pemuda- memporakporandakan Senayan pada masanya. Mereka melangkah dengan gagah menyuarakan kebijakan pemerintah yang dirasa tak tepat.

Terlepas dari setelah kejadian itu, Indonesia menjadi lebih baik ataukah sama saja, bisa dirasakan bahwa frasa-frasa semisal agent of change, iron stock, moral force, dan social control yang sering didengung-dengungkan mahasiswa saat ospek berlangsung bukanlah isapan jempol belaka.Pemuda, utamanya mahasiswa, memiliki potensi yang besar untuk mengubah suatu peradaban.

Usia yang masih muda membuat semangat mereka berada di puncaknya, dan intelektualitas yang dimiliki seharusnya cukup mampu membedakan antara yang benar dan salah. Inilah mengapa pemuda, utamanya mahasiswa memiliki idealisme yang tinggi dan kokoh dalam memperjuangkan ide atau pendapat yang mereka miliki.

Tahun 2018, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke 73. Sudah 73 tahun negeri ini tak lagi dijajah secara fisik oleh negara lain. Merdeka bermakna bebas, lepas dari penjajah, tekanan, dan pengaruh pihak lain.

Walau sudah 73 tahun merdeka, namun kemerdekaan itu lambat laun semakin semu bagi rakyat Indonesia. Termasuk kemerdekaan dalam berbicara dan menyampaikan pendapat yang dimiliki, tak terkecuali di ranah kampus.

Akhir-akhir ini kampus tak lagi seperti biasanya. Apalagi untuk mahasiswa muslim yang kritis. Isu radikalisme begitu hangat diperbincangkan di seminar-seminar mahasiswa. Beberapa dosen juga mulai rajin menyelipkan bahasan radikalisme-terorisme pada mata kuliah yang mereka ajarkan.

Seorang dosen di salah satu kampus Surabaya pun turut andil dengan memberikan ceramah terkait hal itu di setiap kelas yang beliau ajarkan. Beliau juga memberikan gertakan bagi mahasiswa yang terindikasi mengikuti aliran-aliran tertentu yang diduga berkaitan dengan radikalisme-terorisme untuk tidak diperkenankan mengikuti mata kuliah yang beliau ampu di semester depan.   

Kebijakan-kebijakan yang lain terkait deradikalisasi kampus pun terus bergulir. Mulai tahun ini, mahasiswa baru diharuskan mengumpulkan data sosial media mereka untuk dipantau mana saja yang kiranya terindikasi memiliki pemikiran radikal.

Mahasiswa dengan celana cingkrang atau mahasiswi dengan kerudung besar menjadi perhatian utama. Meski kebijakan ini menuai pro-kontra karena dirasa mengganggu hak privasi mahasiswa dan berkesan memata-matai, nyatanya ia tetap dilaksanakan.

Radikalisme sejatinya bukanlah hal yang perlu untuk dikhawatirkan. Radikal bermakna sesuatu yang mengakar. Pemikiran yang dia telah mengakar dalam benak, jika itu merupakan pemikiran yang baik, maka akan baik pula outputnya, begitu pula sebaliknya.

Seorang mahasiswa muslim, jika keislaman dalam dirinya begitu melekat, tentu dia akan menjalani kehidupannya sebagaimana yang nabi mereka ajarkan. Sopan, santun, dan penyayang. Apa yang perlu ditakutkan dari seseorang yang memiliki nilai moral yang tinggi?

Sayangnya, framing sudah diberikan pada kata “radikalisme”. Hal-hal yang berbau keislaman dicap sebagai sesuatu yang radikal. Mahasiswa bahkan dosen jika memiliki pemikiran yang Islami dan memberikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang tepat dengan memberikan penjelasan tentang Islam sebagai solusinya dicap sebagai radikal.

Kajian-kajian Islam dan diskusi-diskusi problematika masyarakat yang harusnya menjadi makanan sehari-hari mahasiswa semakin dipersempit ruangnya. Mahasiswa tak lagi bebas berbicara. Sedikit demi sedikit suara para intelektual dibungkam. Memberi pendapat tidak lagi diindahkan, mengkritik dianggap membuat makar, inikah rasanya merdeka?[MO/sr]



Posting Komentar