Oleh : Lita ummu Bareeq

Mediaoposisi.com-Sudah menjadi pemandangan yang biasa ketika memasuki bulan agustus sang merah putih berkibar dimana-mana,itu menandakan bahwa bulan kemerdekaan sudah tiba.

Dimana masyarakat  lndonesia menyambut bulan kemerdekaan dengan digelarnya berbagai jenis acara yang katanya itu acara sebagai perayaan kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajah kala itu.Apakah benar demikian ?

Bangsa ini sudah menginjak usia yang ke 73 tahun Sejak pertama kali kemerdekaan di proklamirkan.

Sayangnya jika melihat kondisi bangsa sekarang  ini,  apa yang dicita-citakan para pejuang kemerdekaan belum sepenuhnya berhasil kita wujudkan. Amanah kemerdekaan yang seharusnya menjadi pupuk tumbuhnya generasi berkualitas masih jauh dari harapan.


Dalam bidang ekonomi misalnya, meskipun sumber daya alam kita melimpah ternyata bukan jaminan  kesejahteraan. Jika di masa sebelum kemerdekaan, kekayaan alam kita dikeruk penjajah di bawah tekanan fisik. Maka saat inipun itu masih terjadi.

Bedanya sumber daya alam yang melimpah saat ini banyak dikuasai asing atas nama investasi. Freeport contohnya, perusahaan asing itu telah mengeduk keuntungan yang melimpah , leluasa mengeksplorasi bijih emas, tembaga dan perak di bumi Papua.

Kekayaan mengalir pada asing dan segelintir orang saja, tanpa secara nyata mensejahterakan warga pribuminya sendiri.  Bencana kelaparan dan gizi buruk bahkan pernah terjadi, di tanah yang kaya emas ini.

Pembangunan sangat bergantung pada utang. Pinjaman  yang menyebabkan negara tidak bisa bebas bergerak menentukan kewenangan. Kemerdekaan mengendalikan negara harus terampas dibawah intervensi para kapitalis global.

Dominasi para pemilik modal juga telah membuat rakyat kehilangan kemerdekaan dalam berpolitik.

Di atas para pemilik kekuasaan dan uang, ternyata hukumpun dibuat tak berdaya. Kasus jual beli lapas yang dibuat sangat berkelas adalah fakta tak terbantahkan,  yang menunjukan peradilan negeri ini masih bisa dibeli. Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah bukan hanya cerita. Lagi-lagi tatanan hukumpun gagal merdeka.  Bertekuk lutut di bawah kendali uang,  tak lagi teguh menjalankan aturannya.

Demi  kepentingan para pemilik modal pula, arus budaya tak terbendung. Tidak ada kebijakan yang fundamental yang bisa mencegah berkembangnya arus budaya permisif. Demi keuntungan dan rating, media-media minim edukasi, Sehingga nilai-nilai ketimuran bangsa yang sarat nilai keagamaan terus tergerus bahkan berangsur hilang terjajah budaya barat yang sarat kebebasan.[Mo/an]  


Posting Komentar