Oleh: Lafifah

Mediaoposisi.com- Alkisah di negeri antah brantah. Ada seorang putra mahkota yg telah di nobatkan menjadi raja dan hampir selesai masa jabatan nya. Namun ia ingin singgasana nya terus Ia duduki. Hingga akhirnya sang putra mahkota diberi satu kesempatan lagi memimpin dengan satu syarat ia harus menikah dengan seorang yang mempunyai suara pilihan rakyat.

Hingga akhirnya terpilihlah sosok pendamping itu dan di umumkan. Maka terkejutlah semua karena yang dia pilah adalah pasangan yang sudah lanjut usia. Sebenarnya putra mahkota ini terpaksa memilihnya karena sebenarnya dia tidak menyukainya akan tetapi suara rakyat lebih dominan ke padanya.

Berbicara mengenai pasangan teringat dengan pencalonan Presiden dan wakil presiden yang begitu dramatis. Dari mulai sibuk berkoalisi kemudian seleksi calon pasangan Presiden (cawapres). Dan tidak sedikit yang "baper" karena pada ke dua kubu koalisi baik dari kubu Prabowo juga kubu Jokowi masing-masing mempunyai beberapa kandidat.

Dan pada tanggal 10 Agustus 2018 adalah penentuan batas akhir pendaftaran "capres dan cawapres" ke KPU. Tidak lupa sebelumnya pendeklarasian pun dilakukan. Dari kubu Prabowo mendeklarasikan Sandiaga Uno sebagai cawapresnya. Sementara dari kubu Jokowi mendeklarasikan K.H. Ma'aruf Amin yang merupakan sosok ulama.

Yang menarik adalah sosok ulama sendiri adalah " pewaris para nabi" dan predikat tersebut  sudah menjadi ketetapan yang berasal dari Rosulullah " 'ulama'u warosatil 'ambiya" (Alhadist).

Maka sudah dipastikan kaum muslimin akan sangat ta'dhim terhadap ulama serta mempunyai harapan besar dengan predikat yang melekat kepada diri ulama, akan mampu menyelesaikan setiap permasalahan di dalam kehidupan.

Harapan itu akan selalu ada pada setiap insan yang secara fitroh selalu mengharapkan kebaikan di dalam hidupnya.

Keteraturan dan pengharapan kepada sesuatu yang lebih besar dari diri nya dan fitroh itu adalah "fitroh tadayyun" (beragama). Maka apakah predikat ulama bisa menjadi tumpuan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan saat ini? Dengan masih diterapkanmya sistem Demokrasi-kapitalisme?

Sementara didalam sistem Demokrasi-Kapitalisme agama harus dipisahkan dari kehidupan. Bahwa agama adalah masalah individu, sedangkan negara hanya bertugas sebagai pengontrol kebebasan individu itu sendiri, baik kebebasan ber perilaku, kebebasan berpendapat, dan kebebasan berkepemilikan.

Dan itu bertentangan dengan fitroh manusia yang kecenderungan nya selalu beragama. Dan juga jelas-jelas sangat bertentangan dengan islam, di dalam islam setiap perbuatan harus terikat dengan hukum syara', hukum yang berasal dari Al-Kholiq pencipta Alam semesta, Manusia, dan Kehidupan.

Yang wajib diterapkan didalam mengatur setiap lini kehidupan, baik mengatur individu, bermasyarakat dan bernegara. Jadi islam sesuai dengan fitroh manusia. Karena tidak memisahkan agama dari kehidupan. Dan kesempurnaan penerapan hukum syara' secara sempurna (Kaffah) hanya bisa dilakukan oleh negara dengan sistem islam nya yaitu "khilafah".

Maka "ulama pewaris nabi" akan menjadi benar ketika ia berpolitik islam dan didalam sistem islam karena ia hanya akan menjalankan aturan berdasarkan aturan islam. Akan tetapi ia akan menjadi salah ketika ia berpolitik didalam sistem Demokrasi-Kapitalisme yang akidah nya sekuler (pemisahan agama dari kehidupan).

Karena ia akan menerapkan aturan bukan berasal dari islam, tetapi hukum yg berasal dari akal manusia yang mempunyai kecenderungan melakukan kesalahan dan terjadi pertentangan.Allah berfirman,

"Sungguh, Kami telah menurunkan kitab taurat; di dalam nya (ada) petunjuk dan cahaya . Yang dengan kitab itu para nabi yang berserah diri pada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi, demikian juga para ulama dan pendeta-pendeta mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia. Tetapi takutlah krlepada-Ku. Dan janganlah kamu jual ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir.Kami telah menetapkan bagi meteka di dalam nya (taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa , mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun)  ada qisas nya ( balasan yang sama). Barangsiapa melepaskan (hak qisas) nya, maka itu (menjadi) penebus dosa  bagi nya. Barangsiapa tidak memutuskan  perkara menurut apa yang diturunkan  Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."(Qs. Al maidah. Ayat: 44-45). [MO/sr]

Posting Komentar