Oleh: Nurul Rachmadhani 
(Revowriter Bogor)

Mediaoposisi.com-Narkoba lagi, lagi, dan lagi. Permasalahan kasus dari barang haram ini semakin menjadi. Kejadian di Makasar satu keluarga dibakar di dalam rumahnya oleh kartel narkoba, kejadian bermula karena ada sangkutan hutang piutang narkoba salah seorang keluarga tersebut. Fahri (24) memiliki utang pembayaran narkoba dengan geng Daeng Ampuh.

Daeng sedang meringkuk di dalam LP Makasar. Sebelum kejadian tragedi pembakaran rumah, Fahri sempat ditagih hutang oleh orang suruhan Daeng.

Karena yang ditagih belum bisa membayar, akhirnya Daeng menyuruh orang suruhannya untuk membunuh Fahri, dan ternyata naas sekali pada saat rumah itu dibakar, didalam rumah terdapat 6 orang, 5 diantaranya adalah keluarga Fahri yang tidak mengetahui sebab permasalahan yang terjadi. (Sumber, detikcom 12/8/18).

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa seorang yang sedang berada dalam penjara bisa dengan mudahnya menyuruh orang untuk membunuh. Bukankah dia dipenjara untuk mendapatkan hukuman dari perbuatannya sebagai kartel narkoba?. Belum selesai masa tahanannya tapi sudah berani untuk melakukan kejahatan kriminal lainnya.

Seharusnya penjara itu bisa memberikan efek jera untuk para penghuninya, tapi nyatanya penjara hanya sebagai dijadikan tempat pindah rumah saja.

Beberapa narapidana masih bisa berkomunikasi dengan dunia luar, masih bisa mengumpulkan pundi- pundi uang dengan mengendalikan kejahatan dibalik penjara, tanpa takut dengan hukuman yang akan menimpanya, baik itu hukuman di dunia ataupun di akhirat kelak.

Sudah sepantasnya kasus narkoba seperti ini ditindak secara tegas, karena ini sudah sangat meresahkan masyarakat. Belum lagi dampak dan efek dari penggunaan barang haram tersebut. Bisnis kotor seperti ini harus dimatikan, aparat hukum harus bisa cepat, tegas dan cekatan.

Tidak cukup hanya hukuman penjara saja, karena buktinya masih banyak didalam sel penjara yang masih melakukan bisnis kotor ini. Penjara seharusnya dapat memberikan efek jera pada penghuninya, tidak ada komunikasi keluar, kalau pun ada dengan keluarga itu pun dibatasi dan diawasi, juga tidak ada alat komunikasi.

Memang pernah dilakukan hukuman mati terhadap kasus bandar narkoba, hanya saja dari 14 orang yang akan di eksekusi ternyata hanya 4 orang saja yang dieksekusi, yang 10 orang lainnya diminta balik kanan, dan entah hingga sekarang tidak ada kejelasan hukum mengenai eksekusi mati tersebut, malahan jaringan narkoba semakin banyak dan menggila.

Masalahnya adalah ketika akan dilakukan eksekusi mati terhadap pelaku kejahatan narkoba ini adanya komentar miring dari berbagai pihak yang mengatakan kalau di negara lain hukuman mati sudah ditiadakan karena adanya HAM. HAM merupakan produk yang lahir dari sistem kapitalis sekuler ini.

Dimana setiap orang bebas untuk melakukan segala hal tanpa memikirkan dampak buruk yang akan terjadi. Tetapi apakah HAM ini juga harus tetap dipertahankan apabila sudah banyak korban dari kasus barang haram ini.

Karena narkoba ini sudah banyak menelan banyak korban mati sia- sia, baik itu pemakainya juga pengedarnya. Hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera, keluar dari penjara mereka bisa lebih buas karena di dalam sel mereka berguru dengan yang lebih jahat lagi.

Sudah seharusnya, hukum Islam yang harus diterapkan, yang akan membuat pelaku jera. Didalam melaksanakan hukuman Islam apabila pelaku sudah mendapatkan hukuman didunia maka dia akan bebas dari hukuman di akhirat. Hukum Islam juga dapat dilaksanakan apabila negara sudah melaksanakan sistem Islam.

Selama sistemnya masih kapitalis sekuler maka hukum Islam tidak akan bisa terlaksana secara sempurna, karena hukum Islam yang sempurna yaitu yang berada dibawah sistem daulah Islamiyah. Dengan begitu para penjahat yang berada di dalam sel tahanan tidak akan sebebas sekarang seperti lepas dari lapas.[MO/sr]



Posting Komentar