Oleh: Dyah Putri Ratnasari

Mediaoposisi.com- Jum’at, 10 Agustus 2018 para calon presiden telah serentak mengumumkan masing-masing calon wakil presidennya. Termasuk calon presiden pertahanan Joko Widodo yang telah mantap mengumumkan kepada awak media akan maju ke pangggung pilpres menggandeng Prof. K.H. Ma’ruf Amin.

Seperti yang kita ketahui bahwa Ma’ruf Amin merupakan seorang ulama dari NU sekaligus saat ini menduduki sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ditetapkannya K.H. Ma’ruf Amin sebagai pendamping Jokowi bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Karena Jokowi sangat membutuhkan Ma’ruf Amin untuk mendongkrang elektabilitasnya di tengah isu-isu miring yang menyatakan bahwa Jokowi anti Islam dan anti ulama. Pengamat politik Akhmad Muftizar Zawawi menilai, Ma’ruf Amin memiliki rekam jejak yang inklusif sebagai ketua MUI.

Ma’ruf bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi, karena beliau punya rekam jejak yang inklusif sebagai ketua MUI yang membawahi ulama-ulama lintas aliran. Beliau juga seorang NU yang struktural di mana itu ditegaskan oleh sesepuh NU bahwa kalangan NU se-Indonesia wajib mendukung siapapun kader NU struktural yang dicalonkan, bukan NU kultural seperti Mahfud M D”.

Melihat fakta ini tentu sepatutnya kita merasa teriris hati ketika Islam hanya dijadikan alat pemenuhan hasrat untuk memperebutkan jabatan. Padahal banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap Islam.

Seperti mengeluarkan PERPPU Ormas yang sempat gempar dan panas dibicarakan oleh masyarakat, gencar menuduh umat Islam sebagai pelaku teror, melakukan persekusi terhadap para ulama, seperti melakukan pendataan nama-nama ulama yang legal dibawah Kemenag, sedangkan nama-nama ulama yang tidak terdaftar maka tidak diperbolehkan untuk berkhutbah dan ceramah.

Untuk menjadi ulama yang terdaftar oleh Kemenag tentu harus memiliki kriteria yang sesuai dengan pesanan pemeritah, jika isi ceramahnya mengandung provokasi, bertentangan dengan kebijakan pemerintah, mengkritisi dasar negara yang telah ditetapkan oleh nenek moyang, membeberkan kebobrokan-kebobrokan negeri akibat aturan Islam yang dicampakkan, maka akan disebut ulama ekstremis.

Fakta tersebut mengajak kita untuk sama-sama mengkritisi fenomena rezim sekuler yang disatu sisi gencar mengkriminalisasi ajaran Islam dan menyebut perjuangan dalam menerapkan Islam sebagai tindakan yang radikal dan ekstremis yang dapat mebahayakan keamanan negara, namun di sisi lain mereka membutuhkan Islam dan simbol-simbolnya sebagai alat legitimasi kekuasaan dan mendulang suara.

Maka dari itu kebutuhan umat sudah sangat besar terhadap penerapan Islam sebagai solusi tuntas dalam menyelesaikan semua problematika umat. Umat sudah jenuh dengan dagelan politik sekulerisme yang terus bergulir sampai detik ini.

Dengan kemuliaan Islam insyaAllah akan melahirkan generasi-generasi emas yang mereka hidup dipenuhi dengan rasa keimanan dan takut kepada Allah SWT saja sebagaimana Rasulullah berhasil mencetak generasi hebat sekelas para sahabat yang rela mati dan memberikan hartanya hanya untuk agama Allah.

Bukan generasi cinta dunia seperti saat ini yang haus kekuasaan dan haus gelimangan harta.[MO/sr]

Posting Komentar