Oleh: Arin RM, S.Si
(Freelance author dan member TSC)

Mediaoposisi.com-Menjelang pemilu 2019, dunia politik diwarnai dengan banyaknya pelakon panggung sandiwara tanah air ke ranah politik. Ya, para artis dari berbagai latar spesifikasi beramai-ramai dipinang partai politik.

Mereka didaulat sebagai calon legislatif dari masing-masing parpol pelamar. Jika selama ini publik mengetahui kopral mereka hanya sebatas sorot kamera dunia hiburan, maka pada musim pemilu tahun depan kualitas politik mereka baru bisa dipertimbangkan. Laman nasional.kompas.com (19/07/2018) menuliskan "Banyak Artis Jadi Caleg, KPU Serahkan ke Pemilih untuk Menilai."

Dengan hadirnya fenomena ini, maka nyata sekali bahwa pemilih membutuhkan edukasi politik yang benar. Tidak bisa dipungkiri jika pemilih, yakni seluruh warga negara Indonesia tidak semuanya memiliki latar belakang pendidikan politik yang baik. Sehingga edukasi politik penting bagi semuanya.

Agar apa yang mereka lakukan dalam tindakan memilih calon dewan tidak dianggap enteng. Tidak disamakan dengan sekedar memilih pelakon yang akan dimasukkan dalam nominasi dan menjuarai penghargaan panggung hiburan. Sebab selama ini, masyarakat mengenal para artis dengan perannya di layar kaca, bukan di lingkungan legislatif yang menjalankan tugas negara.

Edukasi utama yang tak kalah pentingnya juga berlaku bagi calon legislatif, semuanya, siapapun itu termasuk artis. Bahwa keterlibatan setiap insan dalam dunia politik mengandung konsekuensi besar. Konsekuensi untuk siap menjadi pelayan rakyat dalam segala bidangnya.

Terjun dalam dunia politik artinya terjun dalam kerja pengabdian, murni untuk pengurusan umat. Jangan sampai hadirnya para pesohor hiburan ini hanya dimanfaatkan sebagai pendulang suara, pemantik kemenangan semata. Sebab jika demikian yang terjadi, justru pengkerdilan makna politik lah hakikatnya.

Islam memandang politik sebagai aktivitas penting. Islam mendudukkan politik sebagai bagian dari kepedulian terhadap segala hal, yang ujung muaranya adalah menyelesaikan problematika umat, melayani umat, dan mengatur segala kepentingan mereka dengan Islam. Oleh karenanya setiap pelaku politik adalah mereka yang paham akan tanggung jawab.

Mereka yang paham bahwa makna amanah dan kepemimpinan sekecil apapun adalah sesuatu yang akan dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Tanggung jawab akan amanah ini tidak akan muncul tanpa pemahaman Islam yang mumpuni.

Berangkat dari landasan di atas lah Islam mewajibkan ilmu dituntut selamanya oleh umatnya. Agar ketika mereka sewaktu-waktu kelak masuk ke gerbang politik, mereka telah siap. Dan jika mereka sebagai rakyat biasa, tetap saja melek politik sehingga tidak menjadi korban kebijakan politisasi atas nama apapun.

Melek politik juga diperlukan agar bisa berpartisipasi dalam melakukan muhasabah. Meluruskan jika ada yang salah dan menjaga atas apa yang sudah benar. Semuanya tidak lepas dari perintah Allah yang menjadikan amar makruf sebagai bagian tak terpisahkan dari diri umat Islam (Ali Imran ayat 104).

Tentunya konsepsi politik Islam yang bersih lagi jernih ini jauh berkebalikan dengan versinya demokrasi kapitalis. Politik di jagat kapitalis yang sekuler ini adalah kendaraan untuk mencapai kekuasaan semata. Jika sudah berkuasa maka kekayaan yang mengisi ruang kepala.

Maka hitamlah citra politik oleh ambisi kekuasaan dan kekayaan tersebab kerap menghasilkan koruptor berbaju politisi. Ini lah yang harus dibuang jauh. Kesempatan artis besar dalam peran ini jika dan hanya jika paham terlebih dahulu politik dalam kerangka Islam.

Jangan sampai kesempatan yang ada hanya sebatas ajang pindah panggung. Sandiwara dunia hiburan ke drama politik yang penuh tipu daya lagi membahayakan. Naudzubillaah. [Arin RM].


Posting Komentar