Oleh: Dita Isnainie, S.Pd
(Komunitas Muslimah Kal-Teng)

Mediaoposisi.com-Dunia hukum kembali tercoreng dengan adanya kasus sel mewah. Setelah dulu sempat viral kasus sel mewah Artalita Suryani, kini muncul lagi kasus sel mewah dari tahanan kasus korupsi yang merupakan suami dari artis Inneke Koesherawati. Konon untuk mendapatkan fasilitas mewah  itu sang napi harus merogoh kocek minimum 500 juta rupiah.

Belum lagi jika ingin menambah fasilitas lain selain pendingin ruangan (AC), kamar mandi berserta toilet duduk, televisi, rak buku. (Kompas.com, 29/07/2018)

Ironis memang, penjara yang diharapkan mampu memberikan efek jera justru membuat para koruptor hidup bahagia bergelimang kemewahan dan harta. Jika sudah begini, institusi hukum akhirnya hanya akan menjadi lembaga formalisasi untuk memberi sanksi. Sementara sanksi bagi para penjahat korupsi yang seharusnya dijalankan tak akan pernah bisa terealisasi.

Sehingga hukuman untuk membuat para koruptor jera dengan memasukkannya kedalam penjara ibarat mimpi di siang bolong. Memang begitulah adanya hukum dalam dunia demokrasi kapitalis, siapa yang beruang dia yang menang. Siapa yang kaya dia akan bahagia.

Hal ini bisa kita buktikan dengan melihat beberapa kasus pencurian yang beberapa tahun lalu sempat viral. Nenek minah (55) asal Banyumas  divonis 1,5 tahun pada 2009, hanya karena mencuri tiga buah Kakao yang harganya tidak lebih dari Rp 10.000.

Lain lagi kasus pencurian sandal jepit yang menjadikan AAL (15) pelajar SMK 3, Palu, Sulawesi Tengah, sebagai pesakitan di hadapan meja hijau. Ia dituduh mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap, anggota Brimob Polda Sulteng. Hanya gara-gara sandal jepit butut AAL terancam hukuman kurungan maksimal lima tahun penjara. (Kompas.com)

Dari beberapa fakta diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum dinegeri kita ini ibarat dua mata pisau yang tajam kebawah dan tumpul keatas. Bukankah seharusnya hukum yang adil itu tak boleh pandang bulu?. Bukankah falsafah bangsa kita pun menjunjung tinggi keadilan bagi seluruh rakyatnya?. Namun mengapa begini faktanya?.

Seharusnya hukum bagi para pencuri ditegakkan seadil-adilnya sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan. Pencuri harus di potong tangannya jika yang dicurinya sudah mencapai nishab dan si pencuri tidak dalam keadaan kelaparan serta terpaksa.

Tak perduli siapapun dia, hukum harus tetap ditegakkan. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw : "Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku memotong tangannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saja tegas mengatakan, sekalipun anak beliau yang mencuri maka tetap akan beliau potong tangannya. Ini menandakan bahwa hukum bagi pencuri harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Bukan menghukum pihak yang seharusnya tak pantas dihukum dan membiarkan bahkan memberikan fasilitas mewah bagi yang telah nyata bersalah.

Bayangkan seandainya di negara kita hukuman yang sudah Allah tetapkan ini diterapkan, apakah masih ada yang berani mencuri dan korupsi?. Pasti tak ada  yang berani, karena  alamiahnya tak ada satupun manusia yang rela tangannya dipotong.

Mimpi untuk memberantas korupsi  tak akan terwujud jika kita masih berkubang dalam sistem demokrasi kapitalis seperti yang diterapkan di negara kita saat ini. Sebab dalam sistem demokrasi kapitalis segala sesuatu berasaskan pada manfaat.

Siapa yang mampu memberi manfaat terbesar bagi si pemilik kekuasaan maka dialah yang akan diutamakan. Jadi hanya ada satu solusi untuk memutus rantai korupsi di negeri tercinta ini. Yaitu dengan menegakkan hukum Allah di muka bumi, bukan hukum buatan manusia yang berlandaskan nafsu semata. Agar harapan untuk memberantas korupsi bukan hanya sekedar mimpi.[MO/sr]


Posting Komentar