Oleh: Sri Wahyuni

Mediaoposisi.com- Kedatangan agustus senantiasa disambut meriah di negeri ini. hampir setiap sudut kota maupun desa akan kita temui beragam aktivitas untuk memeriahkan hari kemerdekaan negeri ini.

karnaval dan gerak jalan bahkan menjadi agenda yang seolah wajib dalam daftar perayaan. akan tetapi cobalah merenung sejenak dan lihatlah sekitar, amati pula apa yang diberitakan oleh media. Tentu engkau akan jumpai rentetan peristiwa memilukan yang membelenggu negeri ini.

Kasus pencabulan yang dilkukan oleh remaja, narkoba, kematian karena miras, korupsi, prostitusi, dsb. Bahkan negeri ini saja masih menanggung beban hutang yang terus membengkak tiap tahunnya. Seperti dilansir dari laman berita CNN Indonesia, BI mencatat utang luar negeri (ULN) indonesia pada kuartal I 2018 naik 8,7% mencapai US$ 387,5 miliar atau sekitar Rp 5.425 triliun.

Berbagai masalah tersebut tentu sangat kontras dengan kemeriahan yang terjadi. Sesungguhnya apa yang sedang kita rayakan? apakah kita sedang merayakan keterpurukan negeri ini? kita bersorak sorai, bergembira di atas tumpukan masalah yang tak kunjung menemukan solusi.

Dan benarkah jika negeri ini telah merdeka? menurut KBBI merdeka artinya bebas (dari penghambaan, penjajahan, dsb), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa.

Berdasarkan pengertian tersebut tentu kita bisa menarik kesimpulan bahwa negeri ini belum merdeka. karena faktanya negeri ini masih dijajah, dijajah oleh serbuan tenaga kerja dari china, kekayaan alam yang belum sepenuhnya dikuasai negara.

Bahkan pemerintah secara terang-terangan telah menyerahkan beberapa perusahaan untuk dikelola asing.

Diantaranya: Pelabuhan Peti Kemas PT Jakarta International Container Terminal, dengan masa kontrak hingga tahun 2039; Pelabuhan Kuala Tanjung Sumut, Sumut; Bandara Kuala Namu, Medan, Sumut; dan Bandara Lombok, Lombok, NTB. Di samping itu terdapat pula aset infrastruktur yang dilepas ke swasta, meliputi 9 jalan tol, 20 pelabuhan dan 11 bandara (sumber TV One).

Oleh karena itu memperingati hari kemerdekan negeri ini akan lebih bijak apabila diisi dengan aktivitas yang lebih bermanfaat, sehingga kemerdekaan itu dapat dirasakan secara nyata.

Berdakwah mengentaskan negeri dari keterpurukan serta membuka pemikiran umat dengan memahami solusi islam merupakan cara terbaik guna meraih kebangkitan. Yakni agar negeri ini segera terbebas dari penghambaan kepada negara lain dan mampu mandiri dalam mengelola kekayaan alamnya.

Karena sesungguhnya negeri ini tidak hanya dianugerahi dengan potensi alamnya saja, melainkan disertai pula dengan potensi manusia yang luar biasa, diantaranya: hasil karya Muryadi (59 thn), menciptakan alat yang dapat mengubah sampah plastik menjadi 3 jenis BBM yaitu: premium, solar, dan minyak tanah.

(Detik News 07/11/17),  dan penemuan metode baru oleh Yogi Ahmad Erlangga. Dengan metode tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan persamaan helmholtz yang berfungsi untuk mencari lokasi minyak bumi, sehingga pencarian sumber minyak bumi dapat dilakukan dengan lebih cepat (Liputan 6.com 26/04/18). 

Tentu masih banyak anak negeri berpotensi lainnya yang dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri ini. Akan tetapi hidup di bawah cengkraman kapitaslis penjajah membuat kreativitas anak negeri menjadi kurang diperhatikan.

Sebab sebuah wilayah jajahan tentu akan diatur oleh penjajahnya dan tidak akan membiarkan negeri jajahannya untuk bangkit. Oleh karena itu kembali kepada islam adalah solusi fundamental untuk kebangkitan negeri ini, sebab islam memiliki solusi untuk mengatasi seluruh problem yang terjadi hari ini.[MO/sr]

Posting Komentar