Oleh: Abu Nawas Barnabas

Mediaoposisi.com- Wela dalah, tobel anake kadal. Politik jika bukan berebut kuasa, itu basa-basi. Ujung kemesraan itu kepentingan. Beda kepentingan, siapapun akan ringan tangan untuk mengalungkan hujatan.

Soal RI2 ini memang isu sedap, apalagi dengan sedikit Sasa, lezatnya luar biasa. Siapa sih yang ga mau jadi orang nomor dua ? Kompensasi menteri oke, tetapi tidak se prestige Wapres. Apalagi trah darah biru kok di taruh konco wingking, ya ogah lah.

Duit, itu bagian tidak terpisahkan dalam politik praktis demokrasi. Tanpa duit, mesin politik mogok. Apa-apa butuh duit, sampai bedak dan Gincu untuk nyoblos saat Pilpres juga butuh duit. Jadi, boleh lah jika dibenarkan isu 500 M. Lumayan jika buat ongkos politik.

Kalau tidak, duit 500 M juga boleh untuk investasi keluarga bahagia sejahtera tak kurang suatu apa. Sebuah visi besar partai untuk membesarkan kader dan keluarganya.

Jualan NU? Sangar banget. Semua klaim kader dan paling berhak. Tapi apa bener nanti preferensi politik pemilih berdasarkan ke NU an seseorang ? Jangan-jangan ? Ah sudahlah, lagi-lagi posisi Wapres itu seksi, jadi siapapun layak dibenarkan untuk bermanuver sepanjang dimungkinkan.

Wahai umat Islam, inilah yang ditampakkan secara nyata dihadapan kalian. Betapa rusaknya sistem politik demokrasi: yang terindera sudah begitu rusak, yang tak terlihat jauh lebih parah lagi.

Hari-hari ini, kita akan disuguhi sandiwara politik kelas elit. Semua merasa punya andil, punya saham politik, saling mengunci untuk menguasai. Mereka melupakan rakyat.

Mereka berebut posisi, karena saat ini saatnya ambil bagian, jika tidak ? Mereka akan kerja bhakti saja. Siapa mau menjadi kuli-kuli politik dengan upah rendahan.

Daya kontrol partai terhadap kader juga rendah. Manuver pimpinan ditafsirkan liar di kelas bawah, apalagi dunia sosmed yang serba terbuka. Mau kentut saja up date status, jadi friksi politik ini akan lebih tajam daripada kondisi sebelumnya.

Saat pengumuman capres, barulah perang sesungguhnya dimulai. Saat itu, semua segmen masyarakat terbelah ditarik mengikuti kubu pasangan calon. Orasi dan agitasi politik, akan hingar dan bingar menghiasi layar kaca dan diskusi jejaring sosial media.

Semua akan menebar janji, mengobral komitmen, menawarkan diri untuk menjadi yang dipilih. Seabrek program dikumandangkan, selusin timkam mengeja jargon-jargon yang dijajakan.

Ada jargon bekicot, bekerja kita coba teruskan. Ada yang kecebong, kerjakan cepat jangan bengong. Lantas ada yang berapi-api meneriakan kampret, kembalikan amanah ibu pertiwi (yg ini maksain).

Yang jelas, hari-hari kedepan akan semakin menyesakkan dan sangat melelahkan. Persiapkan diri, untuk tidak terkecoh dengan janji manis demokrasi.[MO/sr]

Posting Komentar