Oleh: Ummu Zahra'
(ibu pencetak generasi rabbani dan anggota amk)

Mediaoposisi.com-Sejak bertahun-tahun yang lalu, masyarakat menyambut hari kemerdekaan dengan tradisi tumpah ruah di alun-alun kota dari sabang sampai merauke.

Dengan mengenakan kostum yang beraneka rupa semisal baju adat daerah, treatikal khas ndeso reok (gamelan) dan modern (drumband) ataupun barongsai cap aseng ditampilkan di sana. Diantara mereka yang hadir ada usia senja, dewasa, remaja sekolah dan juga bayi yang baru beberapa bulan menghirup udara bumi.

Agustusan merupakan tradisi untuk menyambut HUT negara ini kerap kali di selenggarakan dari tingkat sekolah, instansi pemerintah, dan RT/RW. Semua siap sedia memperingati HUT RI dengan segudang aktifitasnya.

Dari lomba makan kerupuk, tarik tambang, sepak bola berdaster, panjat pinang sampai jalan santai berhadiah. Yang tak habis pikir orangtua memperbolehkan bahkan mewajibkan anaknya ikut serta dalam karnaval atau event tahunan itu.

Dengan berpanas-panasan, bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, serta tak sedikit manusia yang bersolek dan membuka auratnya. Dan yang fatal dalam event jalan santai yang diselenggarakan panitia, sebagian besar biasanya mengharuskan peserta untuk membeli kupon.

Yang akan digunakan untuk mengganti penyediaan hadiah sebagai trik agar acara banyak dihadiri massa sehingga berjalan sukses plus meraih untung. Acara semacam ini sarat sekali dengan judi atau maisir. Yakni berkumpulnya uang dari beberapa orang yang kemudian diundi dan terpilih siapa yang memenangkannya. Sehingga nampak ada untung dan rugi.

Miris rasanya, perjudian telah dilestarikan tiap tahun menjelang agustusan dan disaksikan oleh anak-anak, yang sebenarnya tanpa disadari orang tua telah mendidik generasi muda untuk melakukan judi gaya baru. Belum lagi acara jalan santai ini duet dengan dangdutan atau orkesan yang penuh kemaksiatan dan pastinya syaitan berjubel-jubelan hadir di sana.

Begitulah kiranya fenomena agustusan yang dieluk-elukan oleh masyarakat. Buah hasil didikan sekulerisme ini telah menjangkit hati rakyat Indonesia. Padahal makna kemerdekaan hakiki adalah bebasnya manusia dari penghambaan atas manusia menuju penghambaan kepada Sang Khaliq secara totalitas.

Sehingga dalam setiap aktifitas manusia hanya tunduk pada aturan buatan Allah Sang Pemilik Alam bukan tunduk aturan made in hamba-Nya. Keterikatan manusia kepada syariat islam adalah harga mati, tidak bisa ditawar lagi. Meski itu tidak disukai atau menghambat kesenangan atau kesuksesan.

Misalnya agustusan yang diwarnai dengan kemaksiatan berupa perjudian zaman now (kupon undian), sepak bola berdaster bagi laki-laki ( tasyabuh larangan laki-laki dalam menyerupai perempuan  atau sebaliknya seperti pakaian), ikhtilat (bercampur-baurnya pria dan wanita), tabaruj (bersolek yang berlebih-lebihan di tempat umum), serta membuka aurat.

Seharusnya jika kita memahami hakikat merdeka pasti bisa menyikapi dengan benar bagaimana menyambut HUT kemerdekaan dengan aktifitas yang bermanfaat. Seperti menghafal al qur'an dan mentaddaburinya, karya ilmiah, menulis, kajian islam, menuntut ilmu agama juga sains, dan sebagainya.

Yang dapat menunjang perbaikan kondisi masyarakat dengan segudang permasalahan. Terutama memperbaiki sistem yang diadopsi penguasa menjadi sistem Ilahi Rabbi. Bukan bermaksiat dan mengumbar nafsu semata. Bukankah negeri ini tengah dilanda gempa bumi, gempa prostitusi, gempa amoral para generasi, korupsi, harga bahan pokok, bbm, juga pencitraan diri untuk pemilu nanti.

Coba koreksi apakah dengan lomba -lomba yang diadakan pada agustusan tiap tahun yang dijalani telah membawa perubahan pada kondisi buruk negeri ini? Jangankan berubah yang ada malah tambah susah dan berbuah siksa di akhirat sana.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (TQS. Ar Ra'd: 11 ).[MO/sr]




Posting Komentar