Oleh: Firda Umayah, S.Pd

Mediaoposisi.com- Kaum ibu kembali menjerit. Begitupun dengan para pedagang. Bagaimana tidak! Harga kebutuhan pangan alias sembako kembali melambung tinggi. Di wilayah Jawa Timur khususnya kota Blitar, harga daging ayam saat ini mencapai Rp 38.000 hingga Rp 40.000 perkilogram.

Bahkan salah satu diantara pedagang cabe di Pasar Pon Kota Blitar, Tumi mengatakan bahwa tingginya harga cabe rawit saat ini mencapai Rp 46.000 hingga Rp 48.000 perkilogram (mayangkaranews.com).

Tidak terkontrolnya harga pangan di masyarakat dapat membuktikan bahwa kestabilan pangan belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Sebab, harga pangan yang mengalami kenaikan relatif tidak mengalami penurunan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Menanggapi hal ini, Indonesia sebagai negara dengan kelengkapan departemen pertanian dan perdagangan seharusnya mampu melakukan koordinasi secara sistemik untuk memastikan ketersediaan pangan dan menghindari lonjakan harga.

Meskipun disisi lain kebutuhan pangan yang naik bisa jadi merupakan efek dari kenaikan harga BBM yang terjadi berulang kali dalam satu tahun ini.

Lebih jauh lagi, kenaikan harga pangan membuktikan bahwa adanya subsidi terhadap kebutuhan hidup merupakan hal penting yang harus diterima oleh semua masyarakat. Pencabutan subsidi yang dipaksakan kepada masyarakat menjadi salah satu penyebab sulitnya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan. Selain itu, penyebab kenaikan harga juga harus dicermati.

Faktor suplai dan permintaan yang tidak seimbang, penimbunan barang, atau faktor inflasi bisa jadi menjadi penyebab kenaikan harga. Sehingga, perlu pengambilan tindakan yang tepat sesuai dengan penyebabnya.

Sebab negara sebagai pengayom semua warga negara wajib menjamin semua kebutuhan pokok bagi rakyatnya, termasuk pangan melalui politik pertanian, yang diarahkan untuk peningkatan produksi pertanian dan kebijakan pendistribusian yang adil. Sehingga kebutuhan pokok masyarakat pun dapat terpenuhi.[MO/sr]

Posting Komentar