Oleh: Bagas Kurniawan 
('Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com-Berbagai macam cara dalam pertarungan untuk mengokohkan siapa yang berhak dan siapa yang akan mengalah segera tersaji di tahun 2019. Semakin gamblang melihat peta politik 2019, siapa lawan dan siapa yang patut untuk diperjuangkan.

Kondisi bursa Capres dan Cawapres, semakin hari semakin sering berhembus dimedia-media baik cetak maupun online. Generasi alai juga ikut serta dalam meramaikan pesta merebutkan tahta kekuasaan.

Dari mulai kalangan rakyat biasa hingga mantan korupsi uang negara, sah saja untuk ikut dalam pencalonan. Para artis nasional juga ikut dalam persaingan. Politik memang membutuhkan sebuah perubahan, dan akan dikenang sebagai sejarah yang kelam bila itu adalah sebuah kegagalan dan juga kegemilangan.

Badai arus dalam meneguhkan komitmen mengabdi untuk rakyat terus digawamkan, agar cinta rakyat kepada sosok pemimpin jadikan sebuah pilihan. Pilihan seperti apa, ketika rakyat dihadapkan pada dua poros, atau tiga poros, yang berhak mendampingi dan yang pintar membuat narasi opini ?

Sejalan dengan keinginan 2019, ia tak segan-segan membuat agenda berbagai persekusi terhadap orang dan kelompok tertentu. Namun, mengaku bahwa dialah yang paling kencang teriak saya Pancasila dan gaungkan Islam Nusantara.

Duka rakyat makin terlihat, ketika pemimpin negeri berebut kekuasaan, tapi lebih menyakitkan bila kebijakan dzalim dijadikan sebagai acuan. Dan janji-janji manis saat ini sudah tidak terlihat lagi motivasi untuk mencari keadilan.

Padahal sebuah perjuangan duduki posisi pemimpin terhormat, haruslah bisa memberi contoh kebaikan dalam mengemban amanah bagi rakyat. Memikirkan nasib rakyat dengan krisis diambang kehancuran. Itulah tugasnya.

Suatu perjuangan dikatakan mendapat hasil yang bagus, ketika kemaksimalan mengatasi kemiskinan dan menuju kepada kegemilangan suatu peradaban. Tunduk patuh dengan apa yang membawa kepada kekayaan alam dan pencipta manusia.

Di dalam perjuangan, dukungan umat untuk perubahan politik adalah mutlak adanya. Tanpa dukungan umat, mustahil perubahan itu dapat terjadi dan bisa dilakukan. Dan dukungan itu akan lahir bila rakyat menyadari tentang betapa rusaknya keadaan masyarakat saat ini. Tatanan pengganti seperti apa yang harus diperjuangkan dan bagaimana perubahan itu dilakukan ?

Menegaskan bahwa pangkal semua problem itu, khususnya di bidang ekonomi kapitalis, bidang budaya dan politik adalah, bobroknya ideologi kapitalisme yang saat ini mendominasi di beberapa negeri muslim termasuk Indonesia.

Maka solusi yang ada haruslah benar-benar solutif, dan kolektif. Yaitu, memilih pemimpin yang dilihat membawa perubahan bagi negeri ini. Oleh sebab itu solusinya adalah mencampakkan ideologi busuk kapitalisme-sekuler. Dan menggantinya dengan aturan pencipta bagi seluruh alam semesta.

Karena sistem akan membentuk kebaikan, bagi siapapun yang ingin tunduk patuh dengan aturan Islam. Agenda Capres dan Cawapres, publik bisa menilai mana tahu dan mana orang yang tidak mau tahu. Mana penipu dan mana pemberi harapan palsu (PHP).[MO/sr]



Posting Komentar