Oleh: Cut Zhiya kelana,S.Kom

Mediaoposisi.com- Jakarta (kemenag)- Semangat keberagamaan masyarakat Indonesia meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Forum pengajian dan majelis taklim semakin menjamur. Momentum Ramadhan pun menambah semarak kegiatan keagamaan. Kemeriahan kegiatan keagamaan di perkantoran bahkan tidak kalah dengan syiar di masjid, mushalla dan majelis taklim.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan pihaknya menerima banyak pertanyaan dari masyarakat terkait nama mubalig yang bisa mengisi kegiatan keagamaan mereka.

"Selama ini, Kementerian Agama sering dimintai rekomendasi mubaligh oleh masyarakat. Belakangan, permintaan itu semakin meningkat, sehingga kami merasa perlu untuk merilis daftar nama mubaligh" terang Menag di Jakarta, jumat (18/05)

Dengan diterbitkan daftar 200 penceramah itu, ada upaya yang dilakukan pemerintah untuk terus mengeliminasi mubaligh yang katanya tidak pancasilais. Seperti ada 2 kubu, yang satu pro pemerintah dan satunya kontra, seolah ingin mengatakan pada umat bahwa yang tidak masuk dalam daftar itu bukan penceramah yang mendapat Sertifikasi.

Mengapa ini hanya terjadi pada umat Islam saja? Kenapa tidak pada agama lain, betapa pemerintah sangat pilih kasih pada umat islam yang semakin dipojokan karna membawa ajaran yang benar.

Para mubaligh yang sudah terdata ini adalah rekomendasi dari beberapa Ormas, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat. Mereka yang dipilih dianggap memenuhi 3 kriteria yaitu :

Mempunyai kompetensi keilmuan agama yang mumpuni, Reputasi yang baik dan Berkomitmen kebangsaan yang tinggi. Berarti selain 3 kriteria tadi para mubaligh yang tidak direkomendasikan tidak boleh memberi ceramah atau dicekal. Padahal kita tahu selama ini ada upaya untuk meng kriminalisasi para Ulama yang senantiasa menyeru kepada Ajaran Islam yakni Khilafah.

Ketika seruan kembali menggema seolah pemerintah semakin panik. Bagaimana cara menghentikan gema itu? Jika bukan membuat umat bertambah bingung.

"Ingatlah sejelek-jeleknya keburukan adalah keburukan Ulama, dan sebaik-baiknya kebaikan adalah kebaikan ulama" (HR. Ad-Darimi)

Jika saja umat menyadari betapa kebijakan yang dilakukan pemerintah semata hanya untuk menjauhkan umat dari kebangkitan islam, yang menjadi solusi dari segala permasalahan hidup.

Maka kita tidak akan mudah dipecah belah dan bersatu melawan kezhaliman penguasa yang terus merorong umat. Ketika umat bersatu untuk mencapai kemuliaan hakiki, maka tidak ada lagi rasa kecewa kepada pemerintah yang menganggap sepele pada umat. Umat di dalam islam disatukan oleh pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Betapa melaratnya hidup kita tanpa naungan islam.

Jika Ulama saja tidak mereka hormati lagi, islam dianggap agama pencetak teroris maka akan dibawa kemana negeri ini? Apa lagi yang bisa kita harapkan di sistem busuk kapitalis ini.

"Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia, maka mereka telah mengkhianati para Rasul. Karena itu, jauhilah mereka" (HR. Al-Hakim)

Dalam hadist diatas jelas mengatakan bahwa kita harus menjauhi ulsma yang sudah terpengaruh dengan dunia ini, juga menjadi budak penguasa, maka bisa dipastikan tidak ada lagi lisan yang benar untuk membela umat.

Mereka akan terus disuap penguasa untuk mengeluarkan pendapat-pendapat demi kepentingan suatu golongan tertentu. Hanya islamlah satu solusi untuk seluruh masalah yang terjadi selama ini. [MO/sr]



Posting Komentar