Oleh: Erika Syifa

Mediaoposisi.com- Istilah Islam nusantara kini banyak diperbincangkan oleh para intelektual, ulama, politisi, dan pejabat Pemerintah. Perbincangan "Islam Nusantara" mulai menghangat ketika penggunaan langgam Jawa dalam tilawah al-Quran pada saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw.

17 Mei 2015 lalu di Istana Negara. Hal ini pun dijadikan senjata oleh pihak-pihak yang menolak adanya ide penegakkan syariah dengan mengkaitkan islam nusantara dan penegakkan syariah tersebut.

Kalangan yang menolak tentang ide penegakkan syariah ini mengajak masyarakat untuk berada dalam barisan mereka dan mempropagandakan bahwa islam nusantara adalah islam terbaik.

Bahkan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, siap menjadi tuan rumah Konferensi Internasional dan Pertemuan Perguruan Tinggi Islam Se-ASIA (ASIAN Islamic Universities Association/AIUA) yang bakal digelar 2-5 Juli 2018 mendatang di universitas setempat.

Di tengah acara internasional tersebut, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakata, akan memperkenalkan konsep Islam Nusantara kepada perwakilan dari 100 perguruan tinggi sehingga Asia.

Ini kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan konsep Islam Nusantara bagi para delegasi,” kata Yudian Wahyudi di kampus setempat, Jumat (22/6), sebagaimana dirilis suaramerdeka.com. bahkan pada bulan juni 2015 presiden jokowi telah memberikan dukungan penuh terhadap lslam Nusantara, yang merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya Indonesia.

Padahal indonesia dengan populasi muslim terbanyak seharusnya memahami bagaimana Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
«وَ ما اَرْسَلْناکَ اِلاَّ رَحْمَهً لِلْعالَمِینَ»
Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs Al-Anbiya [21]: 107)

Ayat ini jelas menentang adanya Islam Nusantara yang didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya. Pasalnya, Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia, tidak ada kekhususan terhadap suku maupun ras.

 Tentu tidak masuk akal dan sangat fatal jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga dapat sesuai dengan Indonesia. Indonesia seharusnya mengikuti ajaran Islam, bukan Islam yang di-indonesia-kan (baca: pribumisasi Islam).

Jika Islam yang harus dipribumisasikan, maka seharusnya Rasulullah adalah orang yang pertama kali melakukan hal tersebut ketika membawa ajaran Islam ke Mekkah ataupun Madinah. Namun faktanya tidak demikian, Rasulullah membawa ajaran Islam ke seluruh dunia. Adanya Islam Nusantara yang bersifat kewilayahan terbatas justru akan mengkerdilkan Islam.

Kemudian ide Islam Nusantara pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam yang telah digelorakan sejak tahun 80-an oleh Nurcholis Madjid. Hal ini persis sama dengan kelompok yang mengusung ide Islam Nusantara. Padahal Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (sepilis) telah difatwakan haram oleh MUI.

Selain itu ide Islam Nusantara berpotensi besar untuk memecah-belah kesatuan kaum Muslim.  Negeri-negeri Muslim akan dipecah-belah melalui isu kedaerahan, seperti Islam Nusantara, Islam Timur Tengah, Islam Turki, dan sebagainya. Dan bahkan ide Islam nusantara dapat pula digunakan untuk menghadang upaya penegakan syariah dan Khilafah.

penegakan syariah dan Khilafah telah lama menjadi perhatian serius para peneliti politik di AS. Ditambah dengan tersebarnya Prediksi NIC yang meramalkan ditahun 2020 Khilafah sebagai munculnya kekuatan Islam pada masa mendatang juga menjadi sorotan AS.

Tentu AS tidak tinggal diam mendengar berita tersebut dan akan terus berupaya untuk menghadang penegakkan syariah dan Khilafah.

Oleh karena itu, pentingnya kembali penerapan syariah dan penegakkan Khilafah seperti yang sudah diajarkan oleh Rasulullah harus terus didakwahkan agar seluruh umat manusia faham bahwa Islam bukan sekedar agama ritual yang bisa disejajarkan dengan adat istiadat ataupun budaya, namun Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Dan kembalinya masyarakat Islam dalam naungan Khilafah merupakan janji Allah dan bisyarah RasulNya.[MO/sr]

Posting Komentar