Oleh: Ana Izzatunnisa

Mediaoposisi.com- Tahun 2018-2019 disebut-sebut sebagai tahun pesta demokrasi dimana di tahun 2018 Pilkada berlangsung di beberapa daerah. Pesta demokrasi akan berlanjut pada tahun 2019 dengan adanya pemilihan presiden.

Sejumlah partai sudah menggadang-gadang calonnya, tidak ketinggalan pula partai-partai tersebut mulai mendatangi ulama untuk menarik simpati umat. Tidak sedikit ulama-ulama yang mendukung sejumlah partai. Miris sekali para ulama hanya dimanfaatkan oleh para politisi untuk melancarkan tujuan mereka dalam meraih kemenangan pemilu.

Inilah jebakan pemilu dalam sistem demokrasi yang berdiri di atas asas manfaat semata. Umat tentu merindukan ulama yang bisa mengerti apa yang dibutuhkan oleh mereka, ulama yang berpihak pada kepentingan rakyat dan tidak tergoda dengan janji-janji penguasa. Untuk memahami bagaimana ulama sejati, alangkah baiknya kita pelajari dulu definisi ulama dalam pandangan Islam.

Definisi Ulama 
Kata ulama berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘aalim yang artinya adalah orang yang berilmu, sehingga kata Ulama memiliki arti orang-orang yang mempunyai ilmu baik itu mengenail ilmu agama atau suatu bidang ilmu tertentu, sehingga makna sebenarnya dalam bahasa Arab kata ulama itu adalah ilmuwan, atau peneliti.

Ibnu Qayyim dalam kitab I’lamul muwaqqi’in membatasi bahwa yang termasuk ulama adalah orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah-tengah manusia, yang menyibukkan diri dengan mempelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.

Sementara dalam kitab Jami’ul Bayan karangan Ibnu Jarir ath-Thabari dijelaskan bahwa yang dimaksud ulama adalah seorang yang Allah Swt jadikan sebagai pemimpin atas umat manusia dalam perkara fiqih,ilmu agama dan dunia. Sehingga pada masyarakat seorang ulama seringkali dikenal sebagai seorang pemuka agama yang mereka mengerti mengenai ilmu agama Islam.

Oleh karena itu mereka dijadikan sebagai tempat rujukan umat Islam dalam menyelesaikan persoalan tentang agama, sosial, politik dan masalah-masalah lain di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Adapun ciri-ciri Ulama yang boleh diikuti oleh seorang muslim dalam menyelesaikan masalah kehidupan adalah sebagai berikut : 

1. Mereka memiliki rasa takut kepada Allah Swt 
“….. sesungguhnya golongan yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya ialah para ulama’ Sesungguhnya Allah maha Perkasa lagi maha Pengampun” (QS.al-fathir : 28)

Dari ayat ini jelas bahwasannya ulama itu adalah seorang yang takut kepada Allah, sehingga dengan rasa takut tersebut para ulama tidak melakukan kesyirikan, serta meyakini bahwa syariat dari Allah Swt adalah hukum/peraturan yang sempurna dan tidak akan mengambil hukum/peraturan buatan manusia.

Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwasannya “Ulama ialah orang-orang yang mengetahui bahwasannya sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas setiap sesuatu”.

Dan tambahnya lagi, “orang alim ialah mereka yang tidak melakukan kesyirikan kepada Allah Swt dengan sesuatu apapun, serta dia menghalalkan apa yang dihalakan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.

2. Beramal dengan segala ilmunya 
Dari sebuah hadist dalam sunan Ad-darimi di jelaskan bahwa “sesungguhnya orang alim itu adalah orang yang beramal dengan apa yang dia ketahui”Dari hadist ini jelas bahwa Seorang ulama yang lurus tidak akan memisahkan agama dari kehidupannya,

mereka akan senantiasa beramal denganilmunya untuk menjalankan Syariat Islam dalam setiap langkah kehidupan, baik itu mengenai ibadah, muamalah, sosial, budaya,pendidikan, hukum maupun politik.

3. Berperan sebagai pewaris para nabi 
Para ulama adalah pewaris para nabi karena mereka yang menjaga Syariat Islam agar tetap terjaga serta memberikan petunjuk kepada umat dengan aturan Islam.
Sebagaimana tertuang dalam hadist “Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para Nabi” (HR,Abu Daud dan At-Tirmidzi)

4. Berdakwah untuk menegakkan amar ma’ruf nahyi mungkar, menunjukkan kebenaran serta kebathilan sesuai Syariat Islam, serta melakukan koreksi terhadap penguasa yang menyalahi hukum Allah. Sudah menjadi kebiasaan para ulama salaf untuk mengoreksi penguasa, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah”.

Maka bukanlah sebuah kesalahan jika ada ulama pada saat ini yang mengoreksi penguasa untuk menerapkan aturan Allah Swt, karena ini merupakan kebiasaan ulama salaf.

Setelah mengetahui ciri-ciri ulama yang lurus hendaknya seorang muslim tidak terjebak pada pesta demokrasi, karena ulama sejati akan menolak demokrasi. Demokrasi adalah sistem buatan manusia yang mengesampingkan aturan dari sang Pencipta. Demokrasi berasal dari Yunani yang berlawanan dengan Islam.

Dalam demokrasi suara tertinggi adalah suara rakyat sehingga rakyat berhak membuat hukum untuk diri mereka yang diwakilkan kepada anggota legislatif di DPR, walau pada faktanya yang membuat hukum dalam demokrasi adalah para pemilik modal. Hal ini jelas bertentangan dengan Islam karena dalam Islam yang berhak membuat hukum adalah Allah Swt.

"Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik”. (Qs. Al-An’am : 57)

Umat Islam saat ini harus menyadari bahwasannya mereka harus berhukum kepada hukum buatan Allah Swt. Mereka harus bahu membahu untuk penerapan Islam secara kaffah. Sudah saatnya kaum muslimin merekatkan ukhuwah dan bersatu dengan ulama yang hanif untuk menolak demokrasi dan memperjuangkan syariat Islam sehingga rahmatan lil alamiin segera terwujud.[MO/sr]

Posting Komentar