Oleh : Solihati, S. Kom
Mediaoposisi.com- Memasuki era Revolusi 4.0 yang identik dengan penggunaan internet dan digitalisasi, kaum remaja pun terkena imbasnya. Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan fenomena apikasi tik-tok atau Douyin nama aslinya. Aplikasi tik tok adalah aplikasi video music dan jejaring social yang bisa diunduh gratis di play store dengan kunci “aplikasi goblok”.
Kehebohan berawal dari munculnya Nurrani, gadis berkerudung yang mengaku sebagai istri sah Iqbal Coboy Junior. Dalam instagramnya dia banyak mengupload video dan foto-foto tentang dirinya dan Iqbal yang mengundang banyak follower. Dari hasil unjuk diri tersebut Nurrani berhasil di endors beberapa produk bahkan sampai diundang salah satu stasiun TV swasta.
Kehebohan selanjutnya muncul dari si kecil Bowo, atau yg lebih tenar dengan sebutan Bowo Alpenlibe. Dari video-video yang dia unggah, Bowo berhasil menggaet ribuan followers. Bahkan sempat mengadakan meet dan greet dengan para penggemarnya dengan tarif 80 sampai 100 ribu.
Tentunya ini bukan uang yang sedikit untuk kalangan remaja, karena Bowo memiliki banyak penggemar yang rata-rata berusia sama dengannya. Tetapi meski berbayar, antusias para penggemar Bowo sangat luar biasa.
Yang menjadi salah satu sorotan lagi adalah Bowo ini memiliki penggemar yang cukup ekstrim. Dari beberapa upload testimony didapatkan ada yang rela jika harus jual ginjal untuk bisa ketemu si Bowo.
Ada yang mengatakan rela memberikan keperawanannya, bahkan ada yang menyeru untuk membuat agama baru dengan Bowo sebagai Tuhannya. Naudzubillahimindzalik. Hal itu merupakan wujud dari kebebasan berekspresi yang sedang dinikmati di negeri ini.
Itulah beberapa fenomena yang muncul dari salah satu aplikasi video music tik-tok yang berasal dari China tersebut. Dari fenomena tersebut muncullah berbagai macam reaksi dari para netizen maupun orang tua fans berat si Bowo Alpenliebe. Sampai muncul petisi yang menuntut penutupan aplikasi ini, misal yang dilakukan change.org.
Pemerintah melalui kominfo akhirnya memblokir aplikasi tik-tok ini pada tanggal 3 Juli lalu. Hal ini langsung ditanggapi manajemen Tik Tok yang diwakili SVP Bytedance (perusahaan induk Tik Tok) Zhen Liu bersama SVP dan CEO Tik Tok Kelly Zhang dengan menemui Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara di Jakarta.
Menkominfo Rudiantara telah memberikan persyaratan kepada Tik Tok jika aplikasinya ingin dinormalisasi kembali. Dari hasil pertemuan tersebut, Tik Tok diminta untuk membersihkan konten negatif dari layanannya dan juga menaikkan batas umur pengguna yang tadinya 12 tahun menjadi 16 tahun.
Rudiantara mengatakan bisa secepatnya membuka pemblokiran Tik Tok asalkan persyaratan itu sudah dipenuhi oleh pihak Tik Tok. Selain itu, ada permintaan lain dari Rudiantara terhadap Tik Tok. Menurutnya, Tik Tok harus membuka kantor di Indonesia seperti Bigo Live agar proses komunikasi bisa terjalin dengan lebih cepat dan lancar.
Zhen Liu sendiri sebelumnya sudah menyatakan targetnya untuk menambah 200 karyawan di Indonesia yang bertugas mengawasi konten di dalam platform Tik Tok. Ia mengatakan saat ini Tik Tok baru memiliki 20 karyawan di Indonesia yang ditugaskan melakukan pekerjaan tersebut.
Jadi bukan tidak mungkin aplikasi tik tok bisa dinikmati kembali oleh para remaja kita kalo persyaratan yang diminta dapat terpenuhi.
Islam Menanggapi Fenomena Tik-Tok
Remaja merupakan generasi penerus bagi generasi sebelumnya. Karena itu, ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi” (pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang). Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat.
Jika kita mengamati, remaja kita saat ini disibukkan dengan aplikasi semacam tik tok  daripada memikirkan masa depan mereka dengan belajar mendalami ilmu pengetahuan dan agama. Bagaimana kira-kira perkembangan bangsa ini di masa depan? Demi banyaknya follower yang mereka dapat dari video yang mereka upload dan ketenaran mereka rela membuang rasa malunya.
Dengan kerudung yang mereka pakai, mereka bergoyang suka ria mengekspos diri dihadapan masyarakat agar disebut gaul. Disinilah peran sekulerisme dan hedonisme dalam merusak moral para generasi muda kita. Semua ini bersumber dari sekulerisme yang diterapkan di negeri muslim terbesar ini.
Sebenarnya Nurrani atau Bowo adalah salah satu korban dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan tersebut. Selain mereka, banyak korban lain yang merupakan buah sekulerisme di negeri ini, banyak juga pemuda yang berfikiran liberal, pluralistik yang menjadi corong-corong sistem kapitalisme.
Mereka sebagai korban kebingungan pemikiran liberal yang belum menemukan kejernihan berfikir untuk mengantarkan pada ketenangan sebagai seorang manusia yang diciptakan dengan tujuan hidupnya. Kebingungan mencari sosok idola, sehingga membuat idola baru yang tentunya tidak sesuai dengan aturan agama.
Tik tok itu hanya sebuah aplikasi yang bisa menjadi wasilah (sarana) untuk berbuat kebaikan, misal dengan menshare video konten dakwah, tapi juga bisa menjadi sarana kemaksiatan dengan menshare video pencitraan apalagi dengan membuka aurat misalnya, atau berjoget, dan sebahgainya. Disinilah pilihan itu berada, dimana kelak semua akan kita pertanggung jawabkan kepada Allah SWT.
Tetapi faktanya aplikasi tik-tok ini lebih kepada pencitraan diri. Hal itu terjadi  karena sistem pendidikan anak-anak negeri sejak dini yang dijauhkan dari pendidikan agama, akrab dengan budaya hedonis serta diperparah stigmatisasi buruk terhadap ajaran Islam yang sedang santer diopinikan ke publik membuat tak sedikit pemuda Islam menjadi ciut mengenakan identitas agamanya sendiri.
Untuk itu peran orang tua sangat berpengaruh dalam memberikan pemahaman terhadap ilmu agama dan pergaulan anak-anaknya. Memantau pergaulan anak-anak agar tidak jatuh kepada kemaksiatan sebagaimana perintah Allah SWT.
Wahai orang-orang yang beriman!. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (TQS. At-Tahrim : 6).
Keluarga sebagai wadah pertama yang memberikan kontribusi besar dalam pendidikan generasi pada faktanya banyak sekali yang tidak menyadari betapa pentingnya peran mereka.
Mungkin sebagian mereka memiliki tujuan melahirkan generasi berkualitas akan tetapi tidak punya suatu pola yang baku yang selaras dengan tujuan mereka sehingga lahirlah generasi - generasi yang tidak sesuai dengan apa yang mereka cita - citakan.
Misalnya saja orang tua mana yang menginginkan anaknya terjebak pergaulan bebas, narkoba , tawuran, kenakalan remaja dan lain-lain. Akan tetapi kenapa mereka tidak selektif terhadap tontonan anak yang diduga sebagai pemicu terjadinya hal-hal diatas?
Selain keluarga ada peran keterlibatan masyarakat dalam penanganan generasi juga seharusnya memberikan kontribusi.
Tetapi pada faktanya pengaruh berkembangnya ide materialisme yang telah menyentuh setiap aspek kehidupan termasuk pendidikan membuat masyarakat (swasta) yang melibatkan diri dalam pendirian sekolah-sekolah swasta justru sibuk melakukan komersialisasi sehingga meminimilasi fokus dalam mendidik generasi.
Ketidakjelasan peran negara dalam pelaksanaan tanggung jawabnya juga terjadi, sehingga tanggung jawab yang terbagi pada pihak negara, orang tua, dan masyarakat yang dalam pelaksanaannya justru sering saling melempar tanggung jawab.
Untuk itu sudah saatnya negeri ini berbenah mengintrospeksi diri bahwa akar sekulerisme tak membuahkan generasi yang memajukan negeri menjadi negeri yang diridhoi dan diberkahi Ilahi. Semakin lama negeri membuat aturan main yang bukan dari Ilahi dengan penerapan sistem demokrasi, maka semakin rusak generasi.
Demorasi dengan empat pilar kebebasannya, diantaranya jaminan kebebasan dalam beragama, melahirkan agama-agama baru yg sesat dan menyesatkan. Adanya jaminan kebebasan dalam berpendapat, sehingga muncullah JIL (jaringan Islam liberal dan sejenisnya).
Adanya jaminan kebebasan dalam berkepemilikan, sehingga aset kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak digadaikan para penguasa zalim ke tangan asing. Adanya jaminan,kebebasan dalam berekspresi atau bertingkah laku, sehingga lahir generasi-generai alay, maraknya sex bebas, banyak yg pacaran, banyak yg mengumbar aurat, dan maksiat sejenisnya.
Sebaliknya jika negara menghempas aturan main sekulerisme dan menggantinya dengan Islam sebagai aturan, maka pohon negeri akan tumbuh baik dan buah-buah generasi yang dihasilkan menjadi generasi yang mulia, negeri berkah sebagaimana janji Allah SWT dalam Surah Al A’raf (7) ayat 96 yang artinya:
Jika sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan pada mereka berkah dari langit dan dari bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al A’raf (7) : 96)
Orang beriman dan bertakwa ialah orang yang percaya bahwa Allah itu ada dan mematuhi semua perintah-perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya yang tertera dalam Alquranul Karim. [MO/sr]



Posting Komentar