Oleh:  Fida Hafiyyan Nudiya, S.Pt
(Pegiat Komuitas Revowriter)

Mediaoposisi.com- Akhir-akhir ini portal berita nasional maupun platform sosial media ramai memberitakan pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) Zainu Majdi terkait dukungannya terhadap Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pemberitaan ini sontak membuat publik terkejut dan menyayangkan.

Bagaimana tidak, TGB yang selama ini didukung kuat oleh Persatuan Alumni (PA) 212 sebagai calon presiden yang akan membawa angin segar menggantikan presiden sebelumnya, justru kini berubah haluan menjadi pendukung rezim yang sudah banyak membuat kebijakan zhalim dan menyengsarakan rakyat.

Beberapa waktu lalu, TGB dalam wawancara khusus menjelaskan terkait dukungannya atas Jokowi. TGB mengklaim dukungannya terhadap Jokowi didasari atas pengalaman pribadinya. Dimana ketika ia memimpin NTB sebagai gubernur, ia membutuhkan dua periode.

Untuk Indonesia, menurut saya, fair, kalau kita memberikan kesempatan kepada pemimpin untuk melaksanakan visi-misinya secara berkelanjutan di dalam dua periode,” ujarnya dalam tayangan sebuah stasiun TV swasta.

Sistem Politik PHP
Dalam sistem demokrasi, tidak heran jika ada politisi yang mudah berubah haluan politik. Sekarang oposisi, besoknya menjadi kawan. Misalnya. Sebab demokrasi merupakan sistem yang berasaskan pada kedaulatan rakyat, juga merupakan alat untuk ketercapaian kepentingan sistem Kapitalisme. Sehingga tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada adalah kepentingan sejati.

Fenomena TGB hanyalah satu dari fakta politik demokrasi yang cuma PHP dan saling sandra. Saat ada kepentingan yang sama, mereka bahu-membahu. Tapi jika salah satunya tersandung suatu kasus, misalnya korupsi, mereka saling sandra. Demokrasi juga meniscayakan penyingkiran ideologi Islam dalam perjuangan menegakkan syariat Islam.

Fenomena persekusi terhadap banyak ulama dan aktivis dakwah, berikut pembubaran ormas secara paksa telah menjadi bukti inkonsistensi demokasi. Padahal demokrasi sendiri berkoar-koar menyerukan kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul.

Begitu juga dengan pihak-pihak yang kontra atau kritis, mereka justru dibungkam hak asasinya, tidak diberikan ruang berpendapat atau berekspresi. Ada pula yang dibungkam dengan rupiah dan jabatan, sehingga pendapatan mempengaruhi pendapat.

Kembali pada Perjuangan Hakiki
Secuil fenomena TGB diatas tidak perlu membuat kita kecewa. Gantungkanlah harapan hanya pada Allah SWT. Saatnya ummat beralih pada jalan perjuangan yang dicontohkan Rasulullah saw. Tak hanya fokus pada orang, tetapi juga pada sistem.

Jalan perjuangan Rasulullah saw terdahulu tidaklah mudah, banyak onak dan duri yang senantiasa menghambat langkah dan berusaha membelokkan fokus beliau. Namun karena harapan yang digantungkan hanya pada Allah saja, beliau tidak mudah berpaling.

Rasulullah juga konsisten dalam menyampaikan kebenaran sesuai dengan metode yang Allah tunjukkan, yakni berdasarkan Al-Qur’an dan wahyu. Maka, kita pun harus mencontoh metode yang telah beliau gariskan.

Diantaranya berdakwah tanpa kekerasan, konsisten menyerukan kebenaran dan meluruskan penguasa yang zhalim dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. Serta berjihad di jalan Allah. Sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam, sistem yang akan membawa Rahmat bagi seluruh alam.[MO/sr]



Posting Komentar