Oleh: Nida Husnia 
( Aktivis Mahasiswi Jember)

Mediaoposisi.com- Pada tanggal 24 Juli sebuah kabar ricuhnya pencari kerja datang dari kota Tangerang. Pemerintahan kota Tangerang yang bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan mengadakan Job Fair di Mall Metropolis Town Square. Ribuan orang berebut untuk mendapat kuota pekerjaan saling dorong hingga ada yang hampir pingsan.

Job Fair ini melibatkan 48 perusahaan yang membuka 9.000 lowongan kerja yang nantinya para karyawan akan ditempatkan didalam maupun luar negri. Job Fair ini diadakan pemerintahan kota Tangerang sebagai upaya memberantas besarnya pengangguran.

Meski terasa pengangguran masih menjamur, namun hebatnya ternyata Indonesia telah meraih prestasi maksimal dengan berkurangnya angka pengangguran sebesar 140 ribu orang dari Februari 2017. Yang awalnya berjumlah 7,01 juta kini menyusut menjadi 6,87 juta pada Februari 2018.

Merupakan fenomena yang semakin aneh, bila angka pengangguran di klaim telah berkurang namun kasus orang mati kelaparan bahkan ditemukan setelah beberapa lama seperti yang terjadi di Maluku Tengah. Pemprov Maluku kemudian mengklarifikasi kematian 3 warganya bukan karena kelaparan tapi karena kehabisan bahan makanan setelah ditinggal keluarganya.

Kehabisan makanan dan kelaparan? Apakah kehabisan makanan tak berarti kelaparan? Lawakan macam apa ini?

Media sosial baru-baru ini juga memviralkan sebuah postingan video seorang kakek yang dipukuli massa di Banjarnegara karena mencuri roti.

Belum lagi kasus seorang tukang becak yang mati kelaparan sempat mencuat pada 2017. Ada lagi kisah kakek yang bekerja menjual es keliling dengan pakaian kuning yang tak pernah berganti, setiap hari mangkal di halaman salah satu universitas di Jember, atau para ayah yang juga keliling berjualan ember dan sapu lidi.

Bila angka pengangguran telah berkurang drastis, seharusnya kita tak melihat banyaknya pemulung yang berseliweran mengais sampah. Namun lagi-lagi realita berbicara lebih jujur dari media berita, masih sangat banyak orang yang harus menangis akibat himpitan ekonomi.

Lucunya negri ini, bahkan protes tehadap membludaknya TKA yang mangkal di perusahaan-perusahaan di Indonesia dinilai berlebihan. Sebab bila dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Amerika, rasio tenaga kerja Indonesia dengan TKA nya hanya sebesar 0,07%. Mereka pun dimanjakan dengan tidak  wajibnya belajar bahasa Indonesia.

Jumlah TKA 85.974 memgang jabatan 12.779 sebagai konsultan, 15 ribu sebagai direksi, 23.800 sebagai tenaga profesional, 20 ribu sebagai manajer, 9 ribu sebagai teknisi, dan warga Indonesia sebagai buruhnya.

Jadi mana 10 juta lapangan kerja yang dijanjikan? Apakah berkurangnya pengangguran itu dihitung berdasarkan semua pekerjaan ‘yang penting bisa menghasilkan uang’? Meski serabutan yang penting ada pemasukan 13 ribu?

Maaf, bila anda tidak marah dengan fenomena ini, jangan katakan “Aku Cinta Indonesia”.[MO/sr]





Posting Komentar