Oleh: Wd.  Deli Ana
(pemerhati masalah sosial)

 Mediaoposisi.com- Belakangan harga telur naik.   Bebagai pihak mulai mengeluh.   Utamanya tentu para ibu rumahtangga.   Mereka terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam.   Contohnya di Pasar Senen, Jakarta Pusat, telur ayam dibanderol Rp 28.000 Kg, sebelumnya dijual Rp 26.000/kg (detik. Com 10 Juli 2018).

Sementara di luar Jawa lebih tinggi lagi.   Bila sebelumnya berada di kisaran 30-40 ribu rupiah/kg,  sekarang tidak lagi.  Berkisar di angka 50-60 ribu rupiah/kg (pengamatan langsung-pen). Persis ibarat ayam naik bertengger di waktu senja.

Padahal telur selalu jadi favorit segala usia.   Dari bayi hingga dewasa.  Selain rasa yang enak,  telur juga bergizi. Dalam dunia kesehatan, telur adalah makanan yang  padat gizi.   Banyak mengandung protein.

Di antaranya  90% kalsium, mineral, zat besi yang terdapat dalam kuning telur.  6 gram protein dan 9 asam amino esensial dalam putih telur.(lifestyle. kompas.com). Wajar jika masyarakat mulai resah.

Penyebab Kenaikan
Menyikapi peristiwa ini,  banyak pihak angkat bicara terkait sebab kenaikan.  Simpang siurnya analisa pun tak bisa dicegah. Faktor cuaca ekstrim, musim haji hingga peternak yang libur lebaran antara lain jadi alasan. Namun mengutip pernyataan  Mentri Perdagangan, kenaikan itu disebabkan karena naiknya harga pakan ayam (ekbis. Sindonews. com).  

Dampak dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di posisi Rp 14.300 (detik. com). Sudah menjadi rahasia umum bila pakan ternak masih didominasi bahan impor.  Sekadar informasi, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan pada dasarnya bahan pakan ternak masih mengandalkan impor. Bahkan besaran nilainya mencapai 60%.

"Sebenarnya cost struktur dari pakan itu 30% tapi dari nilai itu 60%. Impor misalnya vitamin, bungkil kedelai itu 100% impor," kata Desianto. (detik. com)

Pernyataan senada pun diungkap Gubernur Jawa Timur,  Soekarwo,  “Naiknya harga telur di pasaran disebabkan oleh pakan ternak yang melonjak akhir-akhir ini. Makanan ternak kan masih impor dari Thailand. Kalau harga ternak naik, maka ongkos produksi itu otomatis naik juga".(medcom. id).

Berbagai langkah solusi coba diupayakan.  Khususnya untuk menekan ongkos produksi yang notabene harga pakan ayam.   Salah satunya seperti yang dikutip dari detik. com,

 “Menurut  Direktur Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Ketut Diarmita, mengatakan pihaknya berencana untuk melakukan substitusi atau mengganti bahan pakan ternak, khususnya bahan impor yang terkena dampak dari penguatan dolar, rencana pihaknya mengusulkan untuk mengganti bahan pakan seperti bungkil kedelai menjadi sorgum," katanya ditemui di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Namun efektifitas program solusi tersebut masih tanda tanya.  Sebab akar masalahnya bukan itu.   Selama mata uang kita masih bergantung pada mata uang asing,  bukan tak mungkin masalah ini berulang.  Terbukti dengan krisis yang terjadi nyaris secara periodik.  Setiap sepuluh tahun sekali.  Tahun 1998, 2008 dan kemungkinan saat ini,  tahun 2018.

Seorang pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy mengungkap potensi krisis besar yang akan dihadapi Indonesia kali ini. Bagaimana tidak, nilai kurs rupiah sudah tembus di atas  level Rp 14. 000,00 per US $ Amerika Serikat (AS). Nilai yang terlemah sejak Desember 2015.

Menurutnya, jika krisis tahun 1997 yang melanda Indonesia disebabkan oleh faktor moneter, sementara krisis tahun 2008 pemicunya adalah perdagangan, maka krisis yang akan terjadi di tahun 2018 lebih berbahaya.  Karena daya saing produk Indonesia akan melemah. Utamanya  sektor- sektor industri yang bergantung pada impor bahan baku dan barang modal.

Contohnya seperti industri pakan ayam. Tambahan lagi kalau dolarnya mahal, biaya produksi pasti naik. Harga barang meningkat. Sementara konsumsi domestiknya masih stagnan. Pada gilirannya  profit  pengusaha juga  akan rendah. (cnnindonesia. com).

Namun sejatinya hal ini wajar dalam sistem ekonomi kapitalis.   Salah satu prinsip didalamnya meniscayakan mata uang berperan ganda.  Berfungsi sebagai alat tukar sekaligus jadi barang komoditi.  Konsekuensinya uang tidak hanya berguna saat pembayaran transaksi tapi juga bisa dijualbelikan.

Padahal jauh sebelumnya, Imam al-Ghazali telah memperingatkan dalam kitab Ihya 'Ulumuddin bahwa “Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang”.

Islam Mengembalikan Uang ke Habitatnya
Firman Allah swt,  “…… orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS.9/ At-Taubah: 34).
         
Hingga dalam ekonomi Islam, fungsi uang yang diakui hanya sebagai alat tukar medium of exchange dan kesatuan hitung (unit of account).  Dan agar nilainya stabil uang disandarkan pada emas dan perak sebagai penjaminnya.
         
Selain itu uang hanya bisa berguna ketika ditukarkan. Untuk itu Islam mendorong sepenuhnya ekonomi suatu negri melaju di sektor real. Pada aktivitas jualbeli, sewa menyewa, maupun upah mengupah.

Disertai dengan adanya perintah Allah terkait zakat, infak dan shodaqoh maka tak ada celah bagi uang untuk mengendap atau tertimbun. Sabda Rasul saw, "Tidak menimbun kecuali ia akan berdosa. Beliau mengucapkan hingga dua kali." [HR. Darimi No.2431].
           
Beda jauh dengan  ekonomi kapitalisme. Bahwa fungsi uang selain alat tukar juga jadi salah satu komoditi perdagangan. Yang bisa diperjualbelikan selayaknya barang. Bisa disimpan sambil mengharap uang bisa bertambah sendirinya.   Dengan mekanisme riba.   Juga dengan jurus spekulatif di pasar uang.
         
Bersyukur kita sejak dulu sudah diwanti-wanti oleh Imam Ibnu Tamiyah.  Dalam kitabnya “Majmu’ Fatwa Syaikhul Islam” beliau menyampaikan lima butir peringatan.   Tentang dampak menjadikan uang sebagai komoditi, yakni:

1.  Perdagangan uang akan memicu inflasi
2.  Hilangnya kepercayaan  terhadap stabilitas nilai mata uang.  Orang akan mengurungkan niat untuk melakukan kontrak jangka panjang.   Berikutnya akan  menzalimi golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai/ karyawan
3. Perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang
4. Perdagangan internasional akan menurun
5. Logam berharga (emas & perak) yang sebelumnya menjadi standar nilai mata uang akan mengalir keluar negeri.
       
Tambahan lagi, perdagangan uang adalah salah satu bentuk jualbeli  yang dilarang dalam Islam. Nabi saw bersabda:

Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan diserahkan secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.” (Muttafaq alaih)

Untuk itu, marilah kembalikan uang ke fungsi yang sebenarnya.  Sesuai konsep Islam.  Yang diturunkan Allah swt,  Rabbul ‘alamin melalui utusanNya, Rasulullah saw.  Sudah terbukti pernah diterapkan sejak masa Rasulullah saw di Madinah hingga kekhilafahan Islam berakhir.

Selama itu tak pernah dikenal terjadinya krisis berulang.  Rahmatan lil ‘alamin niscaya kan terwujud. Disamping upaya menerapkannya  adalah semata merupakan konsekuensi iman kita sebagai hamba Allah dan umat Nabi saw. [MO/sr]

Posting Komentar