Oleh: Salma Banin 
(member Revowriter)

Mediaoposisi.com- Islam adalah rahmat bagi semesta, rahmatan lil alamin istilah Alqurannya. Islam menjadi dan memberi kebaikan bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya. Ianya adalah cahaya yang menerangi kehidupan, menghantarkan manusia dari kegelapan melalui perantara seorang rasul akhir zaman, Muhammad salallahu alaihi wa salam (saw).

Sepeninggal beliau, tidak ada lagi nabi yang diturunkan wahyu Ilahi. Keseluruhan ajaran agama ini telah diwariskan pada lisan dan tulisan para ulama yang menjaga diri dari hiruk pikuk kenikmatan dunia, walau sekedar kerdipan mata.

Ulama ibarat penyambung lidah, mengajarkan bagaimana seorang muslim harusnya mengambil keputusan untuk setiap pilihan hidup dihadapannya, sesuai dengan hukum Islam tentunya.

Islam bukan sekadar agama ritual yang hanya bisa diterapkan di tempat-tempat peribadatan saja. Bukan juga agama ketenangan yang indahnya hanya cukup dinikmati individu per individu pemeluknya saja.

Islam adalah suatu jalan hidup (way of life) yang dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh penduduk semesta, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, bahkan bebatuan ketika ia ditempatkan sebagaimana mestinya. Makna Islam meluas hingga ke tataran peraturan (sistem) hidup kita, dibawah suatu pemerintahan setingkat level negara.

Muhammad saw. adalah pemimpin negara, dibawah komandonya pasukan kaum muslim disiapkan, melalui perintah beliau hukum peradilan ditegakkan, dan atas kebijakan beliau pendistribusian ekonomi dilaksanakan. Satu-satunya aturan yang beliau saw. jalankan hanyalah Islam. Begitu juga para khulafaur rasyidin setelahnya.

Sebagai pewaris nabi, ulama mestinya berpegang teguh pada setiap apa-apa yang nabi kita contohkan. Termasuk dalam memilih keberpihakan. Tak ada kompromi jika itu terkait dengan sekulerisasi, yakni menjauhkan agama (Islam) dalam ranah kemasyarakatan.

Pun dalam hal berdiplomasi, nilai politis Islam adalah dalam rangka mendahulukan kepentingan umat terlebih dahulu, bukan yang lain.

Selama perjalanannya, ulama di segala zaman tidak pernah melewatkan peran strategisnya dalam mengoreksi penguasa, menjaga agar masyarakat tetap hidup dalam habitat kepemimpinan Islam, tidak berpuas diri dengan sosok pemimpin yang terlihat Islami atau sekedar nilai-nilai Islam yang diadopsi.

Lebih jauh, ulama selalu berada di garda terdepan untuk menyadarkan umat betapa kini kita sudah sangat jauh dari gambaran rahmatan lil alamin yang sesungguhnya, digantikan oleh persepsi musuh-musuh Islam yang sengaja menyusupkan kata moderat dan toleran sebagai ganti makna baru yang ramah terhadap penjajahan pemikiran.

Depolitisasi Islam dan kaum muslim senantiasa digencarkan demi langgengnya sistem sekuler. Mencari-cari legitimasi melalui persetujuan lisan “ahli agama” yang lebih permisif dan lebih takut pada penguasa daripada Sang Pencipta.

Menawarinya dengan kesenangan dunia sampai ia terlena, menganggap diri telah menolong agama, namun sejatinya menyerahkan leher saudaranya sendiri pada orang-orang yang bahkan mengakui Allah sebagai Tuhan mereka saja tidak. Sungguh kecelakaan dahsyat yang harus dihadapi umat masa akhir zaman ini.

Tantangan besar yang hanya bisa dijawab dengan munculnya para ulama pewaris nabi yang siap menjadi penjaga Islam terpercaya, tak mudah terjebak dalam bujuk rayu dunia dan senantiasa memurnikan ketaatannya meski berseberangan dengan penguasa.

Ulama seperti ini telah dijanjikan Allah untuk senantiasa hadir dalam setiap masa, peran kitalah dalam membuka mata hati, apakah memilih mengikuti petunjuk atau terjebak dalam status quo apatisme hingga enggan bersusah payah mencari kebenaran.

Islam sejengkal demi sejengkal telah dijauhkan dari generasi akibat intervensi ideologi kapitalis. Tak banyak yang menyadari, namun kegentingannya sudah sampai pada urat nadi. Maka kembalikan segala urusan kepada para ulama yang menampakkan murka pada kemungkaran, bukan yang bermanis muka pada para pemangku jabatan dan kekuasaan.[MO/sr]

Posting Komentar