Oleh : Ummu Athaya

Mediaoposisi.com- Melihat dunia maya sekarang ini seolah tiada habisnya. Banyak aplikasi -aplikasi baru yang bisa dijadikan ajang untuk hal-hal positif bahkan negatif. Tak jarang pula sosial media digunakan sebagai alat kejahatan di dunia maya atau yang disebut dengan cyber crime.

Secara umum sosial media dapat diartikan sebuah saluran atau wadah untuk pergaulan sosial yang dilakukan secara online melalui jaringan internet. Bermacam aplikasi mulai dari Facebook, Instagram, Twitter dan banyak lainnya. Salah satunya juga aplikasi TIK TOK yang akhir-akhir ini menjadi viral dengan munculnya sosok bernama Bowo.

Bowo yang awalnya bukan siapa-siapa menjadi buah bibir lantaran aksinya dalam aplikasi ini. Bahkan sampai-sampai dimanfaatkan sejumlah fihak untuk menggelar Meet and Great dengan mematok biaya Rp 80.000 hanya agar dapat berfoto bersama Bowo.

Acara tersebut menyebabkan banyak fansnya kecewa karena dianggap tidak sesuai dengan ekspetasi antara Bowo dalam aplikasi dan Bowo dalam kenyataan.

Mengenai kejadian tersebut Ketua KPAI Susanto menjelaskan terdapat fenomena yang terjadi pada anak-anak generasi yang lahir tahun 1995-2014 ketika begitu maraknya anak-anak dapat mengakses apapun melalui Handphone. ( Wartakotalive.com 09-07-18).

Akibatnya pada tanggal 03-07-18 Kemeninfo menutup aplikasi tersebut karena dianggap memberi dampak negatif terhadap generasi muda, walaupun akhirnya tak selang lama aplikasi ini dibuka kembali pada tanggal 10-07-18.

Perkembangan tekhnologi yang semakin canggih dan banyak sekali kemudahan didapat seolah membuka celah bagi sebagian besar umat tergoda untuk melakukan hal negatif yang bertentangan dengan hukum syara' .

Paham sekulerisme yang berkembang yaitu pemisahan agama dari kehidupan sehari-hari semakin membuat umat jauh dari kodratnya yang sesungguhnya, yaitu sebagai makhluk yang punya kewajiban untuk ta'at kepada Penciptanya.

Belum lagi tuntutan gaya hidup yang hedonisme dan serba modern semakin membuat kebanyakan umat berbuat nekat dengan berbagai cara untuk memenuhinya kebutuhannya tanpa melihat hukum halal atau haram dalam jalan pencapaiannya.

Dan agama Islam yang dianut sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri nyatanya hanya sebatas keyakinan saja tanpa disertai kecintaan dan keta'atan. Karena atmosfir kecintaan kepada dzat yang Maha Tinggi itu sudah mulai terkikis dan dihilangkan secara perlahan-lahan oleh pemahaman barat. Pemahaman yang tanpa sadar saat ini bercokol dengan kuatnya di benak kebanyakan masyarakat.

Begitu banyaknya fasilitas-fasilitas yang makin membuat umat terbuai dengan dunia yaitu "Food, Fun, and Fashion". Tiga hal tersebut yang saat ini menjadi tujuan hidup tanpa berfikir tujuan akhir yaitu kematian dan hisab.

Begitupun dengan kemudahan media sosial, yang hanya dengan sentuhan jari kita bisa menjelajah kemanapun dan melihat apapun termasuk hal yang negatif ataupun positif. Bagi anak-anak dibawah umur hal ini akan sangat membahayakan jika tanpa pengawasan orang tua.

Namun disisi lain kecanggihan media sosial saat ini memang sangat membantu, karena dengan begitu segala informasi dari belahan dunia manapun akan begitu cepatnya kita terima. Tapi jika kita tidak bisa menyaring informasi maka dengan gampangnya kita terjerumus dengan hal yang menyesatkan.

Untuk menangkal segala atmosfir negatif yang saat ini sudah mendarah daging disebagian besar masyarakat, peran  dari tiga lapisan yang menjadi benteng umat haruslah kuat antara lain adalah :

Lapisan pertama adalah keluarga 
Keluarga ibarat pondasi awal untuk penancapan Iman yang kuat di masing-masing anggota. Peran anggota keluarga mulai dari Ayah, Ibu, dan Saudara untuk menjalin ikatan yang solid dan saling mengingatkan satu sama lain dalam hal kebaikan.

Menanamkan rasa takut akut hanya sama Allah yang dapat menjadi pegangan dalam mengambil keputusan antara yang Haq dan Bathil. Rasa saling melindungi dari hal-hal negatif antara satu sama lain akan menjadikan pribadi yang percaya diri dalam melangkah di luar rumah.

Lapisan kedua adalah Lingkungan Masyarakat
Masyarakat diibaratkan tembok dalam bangunan rumah. Benar-benar diharapkan bisa melindungi dan tertancap kuat diatas pondasi. Saat ini masyarakat cenderung acuh tak acuh dengan keadaan sekitar. Mereka cenderung berfikir jika hal negatif terjadi bukan kalangan saudara sedarah, mereka tidak punya kewajiban untuk meluruskannya. Padahal apa yang menjadi prinsip mereka itu salah kaprah. Sampai saat ini karena ketidak aktifan mereka sebagai kontroler di luar dan terkesan cuek membuat makin banyaknya manusia yang melakukan hal negatif tanpa ada rasa sungkan dan takut. Sebagai komunitas terbesar, masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam pembentukan karakter seseorang saat diluar rumah. Rasa aware terhadap umat terlepas itu saudara sedarah ataupun bukan akan menjadikan masyarakat sebagai kepanjangan tangan dalam penjagaan seseorang ketika diluar rumah
-.Lapisan Ketiga adalah Pemerintah atau Negara
Lapisan ini menjadi lapisan yang sangat penting dalam  perlindungan pribadi secara menyeluruh. Negara diibaratkan sebagai atap dalam bangunan rumah. Ketika pondasi dan tembok rumah sudah terbentuk jika atap itu belum bisa menutupi akan basah semua ketika hujan itu datang. Karena Negara adalah pemegang otoritas atau penangkal pertama dari masuknya hal-hal negatif dari luar. Ketika tampuk pemerintahan diisi dengan manusia-manusia yang ta’at maka kebaikan umatlah yang menjadi perioritas utama, tetapi ketika diisi dengan manusia-manusia yang laknat maka kepentingan pribadilah yang menjadi tujuan utamanya. Negaralah yang menjadi payung dan atap umat untuk melindung dari panas dan hujan, dari serangan-serangan liberalisme dan sosialisme yang bertujuan untuk merusak.

Ketiganya bisa saling melengkapi ketika Iman Islam tertancap kuat di hati umat. Karena ketika Islam dijadikan sebuah keyakinan atau keimanan maka harus diiringi dengan kecintaan dan ketaatan. Bahwa segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan ada perhitungan hisab di akhir kelak. Rasa Takut akut kepada Allah akan mencetak generasi-generasi Islam yang bermartabat. Maka dari itu satu-satunya jalan adalah penerapan syari’at, sebagai penyelamat umat dari paham-paham yang terlaknat.

Wallahu’alam Bishowab


























Posting Komentar