Oleh: Winingtyas Wardani

Mediaoposisi.com- Dalam bulan Juli ini kita kembali disuguhi  serentetan berita  terorisme. Yang pertama aksi terorisme di kota Jogja, tepatnya di jalan Kaliurang km9,5. Berdasarkan berita yang dimuat di liputan 6 .com, dalam aksi tersebut pelaku berhasil dilumpuhkan dengan timah panas.

Kedua,  aksi terorisme di Indramayu. Kantor Mapolres Indramayu diterobos masuk oleh pasutri menggunakan motor matik sambil melemparkan bom panci. Pelaku yang langsung melarikan diri berhasil ditangkap. Setelah kejadian tersebut  terduga teroris berjumlah 5 orang berhasil diringkus di lokasi yang berbeda-beda.

Selepas kejadian tersebut Kapolri menyatakan bahwa pelaku teror di Indaramayu  diindikasikan merupakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Sedangkan di Jogja merupakan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK).  JAK ini menurut Kapolri mendukung JAD.

Kejadian yang disebut teror seringkali dikaitkan dengan islam. Pelakunya diidentifikasikan dengan ciri-ciri bercelana cingkrang. Kalau wanita memakai gamis longgar dan bercadar.  Masih ingat di benak kita foto pelaku pengeboman gereja di Surabaya yang menggambarkan satu keluarga muslim. Begitu juga dengan teror yang menyerang markas polisi di Pekanbaru.

Berbagai kajadian teror ini sempat menimbulkan  persepsi negatif terhadap seseorang yang digambarkan seperti pelaku teror, bercelana cingkrang; bergamis longgar dan bercadar.

Sempat viral kejadian seorang santri yang dipaksa oleh aparat keamanan untuk mengeluarkan seluruh  barang bawaannya karena dicurigai membawa atau menyembunyikan barang yang berbahaya. Begitu juga ada kejadian di suatu terminal seorang wanita bergamis diminta keluar dari bis karena dianggap mencurigakan. 

Lebih lanjut, Islam digambarkan seolah-olah melegalkan perbuatan keji. Kelompok yang menyuarakan penegakan Islam secara kaffah   mendapat stigma negatif. Mereka diberi label radikal, anti NKRI, anti Pancasila dan berbagai label negatif lainnya.

Serentetan aksi teror yang terjadi di tanah air ini tentu saja bukanlah ajaran islam. Walaupun pelaku atau terduga pelaku selalu diidentikan dengan orang islam. Islam tidak mengenal terorisme. Islam melarang keras pembunuhan terhadap orang sipil.

Sayangnya ada sebagian kalangan dari umat islam, yang berusaha membela islam tetapi malah keliru. Itulah yang disebut dengan defensif apologetik. Sikap mempertahankan atau membela diri dari tuduhan yang ditujukan kepadanya dengan jawaban yang justru membenarkan tuduhan tersebut.

Entah dengan niat untuk membela Islam atau malah berusaha untuk membelokkan ajaran Islam, yang jelas sikaf defensif apologetik ini  menjadi kontraproduktif daripada positif. Karena pembelaan yang dilakukan menggunakan standar si penuduh, bukan berlandaskan kaidah islam. Umat islam pun menjadi was-was ketika akan mendakwahkan ajaran islam seperti khilafah.

Dalam kasus tudingan terorisme yang dikaitkan dengan ajaran islam dan diberi stigma Islam radikal, beberapa pihak berusaha untuk menampilkan wajah Islam yang lain. Ada yang menyampaikan beberapa istilah seperti  istilah Islam nusantara, Islam moderat.  Kalau dicermati dengan akal yang jernih , istilah-istilah tersebut cenderung  untuk mereduksi ajaran Islam yang sebenarnya.

Nampaknya upaya ini pun dianggap benar oleh sebagian masyarakat. Masyarakat awam menyepakatinya. Mereka menganggap bahwa Islam adalah agama yang hanya mengurusi ibadah yang berkaitan dengan sholat, puasa, zakat, haji atau yang biasa yang disebut ibadah.

Mereka pun enggan untuk mempelajari hukum-hukum Islam yang lain seperti kewajiban menegakkan khilafah, masalah qisos, masalah muamalat dan sebagainya karena ketakutan dianggap lain dengan yang lain atau dicap radikal.

Inilah salah satu bentuk usaha kaum kafir Barat dalam menjauhkan umat Islam dengan agamanya. Dengan memunculkan sikap defensif apologetik di kalangan umat. Sikap yang membuat umat takut untuk menyerukan kewajiban penegakan sistem politik Islam, sehingga akhirnya mereka bisa  menerima gagasan modernisasi Islam.

Dalam situasi seperti  inilah umat memerlukan penjelasan yang sejelas-jelasnya tentang syariat Islam, Islam poltik, khilafah dan jihad. Menjelaskan kepada mereka bahwa hanya dengan sistem politik Islam umat ini bisa bangkit kembali dan mengalahkan hegemoni kapitalisme penjajah Barat atas mereka.

Di sisi lain, umat pun dituntut untuk semakin memperdalam ajaran agama Islam dengan cara ‘ngaji’  atau menghadiri majelis-majelis taklim. Karena bagaimanapun juga menuntut ilmu agama hukumnya wajib. Jangan hanya berguru pada goggle yang bisa jadi sumbernya tidak jelas.

Dengan semakin meningkat pemahaman umat akan ajaran Islam,  umat pun akan semakin tahu akan Islam dan tidak takut dengan ajaran Islam.

Bahkan akan muncul sikap percaya diri di kalangan umat.  Sikap yang mencerminkan kebanggaan sebagai seorang muslim dan pengemban Islam. Sikap yang memancarkan keyakinan bahwa hanya Islam yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran akibat sekulerisme (Mizan Abu Sakin, Media Siar, 10/05/2018).

Sehingga jika pun ada tuduhan yang dialamatkan kepada Islam, umat pun bisa mengambil sikap yang tepat dan tidak bersikap defensif apologetik.[MO/sr]

 
   




Posting Komentar