Oleh : Ahmad Sastra

Mediaoposisi.com- Akhir-akhir ini kita disuguhkan fenomena adanya kaum intelektual dan politisi  muslim yang kerasukan sekulerisme dalam pikirannya. Mereka begitu membenci Islam dan ajaran Islam namun begitu memuja ideologi Barat.

Mereka dengan sombong dan penuh emosional melakukan berbagai tuduhan keji kepada ajaran Islam, bahkan mencoba menghalangi dan menjegal tegaknya Islam.

Tak tanggung-tanggung, diantara mereka mencoba melakukan berbagai fitnah dan tuduhan kepada ajaran Islam. Mereka mencoba mendekonstruksi sejarah Islam untuk menimbulkan keraguan atas perjuangan Islam. Ajaran Islam dituduh sebagai ajaran radikal, intoleran dan pemecah belah bangsa. Sungguh keji tuduhan itu.

Perjuangan penegakan Islam mereka anggap sebagai utopis. Virus sekulerisme telah tertanam dan mengakar dalam otak mereka. Tak mengherankan, sebab mereka memang dididik oleh ideologi Barat sejak kuliah.

Dari tuannya mereka ditugaskan untuk menjegal Islam politik dan terus mengkonstruksi Islam sebatas ritual etik belaka. Mereka melakukan dekonstruksi epistemologi atas Islam. Mereka mendefinisikan Islam sejalan dengan keinginan tuannya. 

Mereka menebarkan racun berupa Islam ala Barat atau Islam yang dikehendaki Barat. Dengan pendekatan ilmiah dan intelektual, mereka mencoba melakukan berbagai penipuan kepada kaum muslimin.

Sekulerisme identik dengan kemunafikan. Kemunafikan adalah sikap yang paling dibenci oleh Allah. Sebab mereka bermuka dua, bukan muslim dan juga bukan kafir. Mereka mengaku teman jika bertemua dengan orang kafir dan memusuhi muslim, begitu sebaliknya. Tujuannya adalah mendapat sekerat dunia yang sedikit.

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya" [QS An Nisaa : 60]

"Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu"[QS An Nisaa : 61].

Melalui gerakan misionarisme, imperialisme epistemologi Barat telah berhasil melakukan sekulerisasi kaum intelektual  dan politisi muslim. Mereka menganggap Islam itu sebatas ritualistik, sementara kehidupan sosial politik diatur dengan ideologi Barat.

Sekuler bermakna pemisahan antara agama dan kehidupan atau antara agama dengan negara. Slogan kaum sekuler adalah “Berikan kepada Kaisar hak Kaisar dan berikanlah kepada Tuhan hak Tuhan”.

Serangan misionaris adalah bentuk balas dendam imperialisme Barat setelah mengalami kekalahan dengan dibebaskannya Istambul, dataran Eropa dan negara-negara Balkan oleh Islam. Misionarisme hanyalah awal dari serangan dan penjajahan politik dan pemikiran.

kaum intelektual muslim dan politisi muslim adalah target serangan Barat untuk dijadikan agen penjajah.  Tujuan utama misionarisme adalah menaklukkan Islam.

Imperialisme epistemologi melalui gerakan misionarisme Barat menjadikan panggung kebudayaan dan pemahaman kehidupan mereka bagi umat Islam, menebarkannya dengan berbagai macam sarana mengatasnamakan kajian intelektual, ilmu pengetahuan ilmiah, misi kemanusiaan, dan misionaris keagamaan [kristenisasi].

Barat tidak cukup dengan membawa peradaban dan pemahaman-pemahamannya, tetapi juga menikam peradaban dan pemahaman Islam, dengan membenturkan misinya melawan Islam. Serangan Barat ini membawa pengaruh, bahkan menguasai kelompok intelektual, para politisi, bahkan para propagandis pengetahuan dan masyarakat Islam.

Terhadap kelompok intelektual, penjajah Barat memasukkan sekolah-sekolah misionaris, sebelum pada akhirnya menduduki dan memasuki semua sekolah. Hal ini ditempuh dengan cara menciptakan metode-metode pengajaran dan tsaqafah berlandaskan filsafat, peradaban, dan pemahaman Barat. Proses ini terus berlangsung hingga kepribadian Barat dijadikan sebagai asas kehidupan Islam.

Pada gilirannya akan mencabut tsaqafah Islam yang selama ini kita pakai. Barat juga menjadikan sejarah, ruh kebangkitan, dan lingkungannya sebagai sumber pokok nilai-nilai yang menjejali akal kita.

Tidak cukup dengan itu saja, Barat juga memasukkan ruh ini ke dalam berbagai metode secara rinci, hingga tidak satu pun tsaqafah Islam mampu keluar dari landasan pemikiran umum yang menjadi filsafat dan peradabannya.

Proses ini merata ke seluruh aspek tsaqafah Islam, hingga merasuk ke dalam pelajaran agama dan sejarah Islam. Serangan Barat dibangun berlandaskan prinsip-prinsip Barat dan menurut pemahaman mereka. Agama Islam dipelajari di sekolah-sekolah Islam sebatas pada materi spiritual-etika, seperti Barat memahami agamanya.

Agama dipelajari hanya pada satu aspek saja, jauh dari kehidupan dan hakikat pemahaman tentang hidup. Kehidupan Rasul diajarkan pada anak-anak kita yang mata rantainya terputus dari kenabian dengan risalahnya.

Bahkan diposisikan seperti mempelajari kehidupan Napoleon atau Otto von Bismark. Akibatnya, Islam tidak berpengaruh terhadap pemikiran dan perasaan mereka. Materi-materi ibadah dan akhlak yang sebenarnya sudah tercakup dalam kurikulum agama diberikan hanya dari sisi manfaat saja.

Dengan demikian, pengajaran agama Islam berjalan sesuai dengan pemahaman-pemahaman Barat. Sejarah Islam diajarkan hanya dengan menonjolkan sisi-sisi aibnya yang sengaja direkayasa.

Ini membuktikan buruknya tujuan dan pemahaman Barat. Hasil rekayasa itu diletakkan dalam bingkai hitam mengatasnamakan kesucian sejarah dan pembahasan ilmiah.

Ditambah dengan lumpur basah dari para intelektual Muslim yang mempelajari sejarah, dan menyusunnya berdasarkan uslub dan metode misionaris. Seluruh rencana diletakkan atas dasar filsafat  Barat dan disesuaikan dengan metode Barat.

Dengan demikian, kaum intelektual kebanyakan menjadi anak-anak asuh dan murid-murid peradaban Barat. Mereka merasakan lezatnya peradaban ini, dan selalu merindukan serta mengarahkan kehidupan mereka sesuai dengan metode Barat.

Akibatnya, mayoritas mereka mengingkari tsaqafah Islam jika bertentangan dengan tsaqafah Barat. Mereka menjadi sekelompok orang yang bertsaqafah Barat dan menerapkan segala kebijaksanaan searah dengan pandangan Barat. Mereka menerima tsaqafah Barat dengan ikhlas dan mengemban peradabannya.

Banyak dari mereka yang pemikirannya terbentuk dengan pola Barat. Mereka menjadi orang yang membenci Islam dan tsaqafah Islam sebagaimana kebencian Barat. Mereka mengusung permusuhan keji terhadap Islam dan tsaqafahnya, sebagaimana yang dibawa Barat.

Mereka menjadi pemeluk Islam yang meyakini bahwa Islam dan tsaqafahnya adalah penyebab kemunduran kaum Muslim, sebagaimana yang ditanamkan Barat kepada mereka.

Misi para misionaris berhasil. Kesuksesannya mampu mewujudkan sekelompok intelektual kaum Muslim yang bergabung dengan Barat, dan masuk dalam barisannya memerangi Islam dan tsaqafahnya. Saat ini para intelektual di Eropa dan sekolah-sekolah asing telah melangkah jauh, hingga berhasil menembus barisan para pengemban tsaqafah Islam.

Penjajah Barat yang menyerang mereka dengan menikam Islam, telah menggentarkan mereka. Mereka mencoba menangkis tikaman ini, dengan membela diri. Tanpa memperhatikan lagi apakah pembelaannya benar ataukah salah, baik yang ditikam oleh pihak asing itu adalah Islam -yang dibanggakan- atau yang didustakan.

Mereka turut andil menafsirkan Islam dalam keadaan yang membingungkan, atau menakwilkan nash-nashnya sesuai dengan pemahaman-pemahaman Barat.

Akibatnya kini perguruan tinggi Islam hanya menjadi sarang kaum intelektualmuslim yang sekuler dan liberal, dimana filsafat dan metode berfikir Barat [misionaris] dijadikan patokan dalam mengkaji Islam. Pendekatan hermeneutika  dijadikan sebagai alat untuk menafsirkan Islam.

Pada intinya kaum intelektual muslim telah mengalami sekulerisasi epistemologi yang mengakibatkan kemunduran dan kehancuran Islam. ironis, kaum intelektual muslim tapi justru memusuhi dan menghancurkan Islam. Sebab mereka adalah budak-budak Barat, sadara maupun tidak sadar.

Begitupun parlemen hanyalah berisi kaum politisi muslim sekuler. Seluruh aturan dan kebijakan serta undang-undang disusun berdasarkan epistemologi Barat penjajah. Undang-undang hanyalah warisan penjajah dan dikembangkan sesuai dengan arahan penjajah.

Neokolonialisme telah lama menancapkan taringnya di negeri-negeri muslim. Politisi muslim hanyalah gerombolan kaum sekuler yang berorientasi materialisme dengan rela menjadi agen kufur dengan tujuan menghancurkan Islam. 

Kaum politisi muslim hanya membebek Barat karena tergiur dengan iming-iming yang muluk berupa kemewahan duniawi dan kursi kekuasaan. Mereka meneriakkan penyelamatan negara, padahal hakekatnya mereka adalah perusak negara. Mereka meminta bantuan penjajah Barat, padahal dalam pandangan Islam merupakan dosa besar dan sama dengan bunuh diri.

Akibatnya keputusan politik  kehilangan batas-batas kepribadian mereka yang islami dan jauh dari nash-nash al Qur’an. Keputusan politik sekuleristik, liberalistik dan  kapitalistiklah yang lahir dari politisi muslim dalam sistem demokrasi ini. Keputusan politik hanya menguntungkan kaum kapitalis penjajah dan menzolimi rakyat.

"Kaum Muslim pada umumnya tidak mengetahui bahwa sistem pemerintahan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalis, keduanya berasal dari sistem kufur. Mereka tidak bereaksi apa apa jika di antara mereka diputuskan suatu ketetapan yang didasarkan pada sistem selain yang diturunkan Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah telah berfirman: _Siapa saja yang tidak memutuskan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir"[TQS. al-Maaidah : 44]

"Hendaklah kalian memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah” [QS. al-Maaidah : 49]

Dengan demikian, mereka menerima peradaban Barat secara sempurna dan penuh kerelaan, seraya memperlihatkan bahwa akidah dan peradaban mereka sesuai dengan peradaban Barat. Artinya, mereka menerima peradaban Barat. Dalam waktu yang bersamaan, mereka membebaskan dirinya dari peradaban yang islami.

Kaum intelektual muslim dan politisi muslim telah melepaskan dirinya dari ideologi Islam. Inilah yang menjadi sasaran penjajahan Barat. Mereka berhasil memusatkannya menjadi satu, antara serangan misionaris dan penjajahan.

Karena itu, semua gerakan politik menjadi gerakan yang mandul, dan kesadaran umat berubah ke arah gerakan sporadis, yang saling bertentangan, pecah belah dan saling bermusuhan. Gerakannya tidak beraturan, lama kelamaan padam, putus asa, dan akhirnya menyerah. Ini disebabkan karena komando gerakan politik mereka telah kehilangan visi perdaban Islam.

Demikianlah kenyataan pemikiran para politisi yang diracuni dengan pikiran-pikiran yang salah, dengan dasar-dasar pemikiran asing. Fakta ini muncul bersamaan di negara Islam dengan tumbuhnya gerakan gerakan yang mengatasnamakan kebangsaan, sosialisme, nasionalisme, marxisme, spiritualisme, akhlak, pendidikan, dan nasehat.

Gerakan-gerakan ini berkembang kacau, dan menjadi problem baru dalam masyarakat, yang bertumpuk dengan problem-problem lain.

Dengan demikian maka sia-sialah menjadikan demokrasi sebagai jalan untuk memperjuangkan Islam, sebab pikiran para politisi muslim telah tersekulerkan dan berjalan di atas jalan demokrasi sekuler, sempurna sudah. Itulah sebabnya para politisi muslim tidak ada satupun yang secara tegas ingin memperjuangkan tegaknya Islam melalui parlemen, tidak ada satupun. Meskipun mereka mengaku dari partai Islam sekalipun.

Jargon memanfaatkan parlemen demokrasi untuk perjuangan Islam dari pada diisi oleh orang lain adalah mantra dusta dari kaum penjajah yang telah terlanjur dipercaya oleh kebanyakan muslim. Padahal jika kaum muslimin kompak meninggalkan demokrasi sekuler, maka dalam waktu singkat demokrasi langsung akan tumbang dan tegak Islam atas pertolongan Allah.

Mestinya kaum intelektual dan politisi muslim bisa berfikir dan merenungkan serta meyakini  janji Allah dalam Al Qur’an berikut :

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat"[QS An Nashr : 1-3].

"Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"[QS Al Fath : 21].

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik"[QS An Nuur : 5]. [MO/sr]

Posting Komentar