Oleh: Mardia S.Pd  
(Ibu Rumah tangga)

Mediaoposisi.com- Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih melemah. Yakni dikisaran Rp 14.300 sampai Rp 14.400 (kompas.com 11/7/2018). Menko Bidang Perekonomian (Darmin Nasution) menilai pelemahan kurs rupiah dalam sepekan terakhir tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

Seperti halnya para pengamat, Menko Darmin menilai pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Bahkan ia mengaitkan gejolak nilai tukar ini dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Berbeda dengan Anggota Komisi XI DPR-RI, Ecky Awal Mucharam mengatakan pelemahan rupiah tak semata akibat persoalan di luar negeri. Lebih jauh, Ecky mengingatkan dampak pelemahan rupiah ini terhadap beban pembayaran bunga dan pokok utang berdenominasi dolar AS.
P
elemahan rupiah ini tak pelak telah berdampak pada perekonomian Indonesia. Harga-harga komoditas impor atau berkandungan bahan impor merangkak naik. Harga barang elektronik dan properti juga menyusul naik. Efek buruk pelemahan nilai rupiah juga berdampak pada Negara dan perusahaan yang memiliki hutang dalam bentuk dolar Amerika.

Problem Yang Tak Kunjung Usai 
Pada faktanya instabilitas nilai tukar mata uang seperti yang dialami rupiah saat ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Tentu kita masih ingat perkara serupa yang menimpa beberapa Negara Asia tahun 1998 termasuk Indonesia, dan juga merembet ke negara Eropa dan Amerika secara bergiliran. Mengapa hal itu selalu terjadi?

Pada dasarnya, penyebab instabilitas mata uang yang senantiasa terjadi di dunia dapat dikembalikan pada dua problem pokok, yaitu dari segi moneter dan ekonomi.

Problem moneter merujuk pada mata uang itu sendiri. Mata uang yang digunakan saat ini adalah mata uang kertas (fiat money). Mata uang ini tidak memiliki nilai intrinsik (nilai bahan). Tapi hanya memiliki nilai nominal (nilai tertulis) yang ditetapkan oleh undang-undang.

Legitimasinya sangat rapuh. Akibatnya, jika keadaan politik dan ekonomi negara tersebut tidak stabil maka tingkat kepercayaan terhadap mata uangnya juga akan menurun. Para pemilik uang akan beramai-ramai beralih ke mata uang lain atau komoditas yang dianggap bernilai sehingga posisi uang tersebut terpuruk.

Sedangkan problem ekonomi muncul dari defisitnya neraca perdagangan Indonesia, karena terlalu bergantung pada negara lain. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Terutama pada komoditas strategis (pangan dan energi).

Meski terkenal memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, tidak lantas menjadikan kebutuhan akan pangan dan energi dalam negeri terpenuhi. Bagaimana tidak, banyaknya sektor yang telah diprivatisasi oleh Asing juga menjadikan  SDA dalam negeri berpindah pemilik. Seperti migas misalnya. Impor pun menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Solusi Dari Kacamata Islam
 Solusi yang tepat tentu diperlukan untuk menanggulangi lemahnya rupiah. Sebagai agama yang paripurna, Islam pun memiliki penyelesaian yang tepat. Dari segi problem moneter misalnya, Islam memandang bahwa mata uang yang tepat adalah Dinar (Emas) dan Dirham (Perak).

Mata uang Dinar dan dirham memiliki legitimasi yang sangat kuat, baik dalam negeri maupun luar negeri. Dinar dan dirham yang terbuat dari emas dan perak bernilai tinggi, stabil dan diterima luas oleh masyarakat dunia. Disamping itu juga memiliki keunggulan moneter.

Pertama, inflasi rendah dan terkendali.  Memang tak dapat dipungkiri bahwa inflasi bisa saja terjadi ketika ditemukan cadangan emas dalam jumlah besar. Namun keadaan tersebut merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Kedua, nilai tukar antar negara relatif stabil. Sebab mata uang masing-masing negara tersebut disandarkan pada emas dan perak yang nilainya stabil.

Sementara penyelesaian dari segi problem ekonomi adalah,

Pertama, Islam menetapkan bahwa kewajiban negara adalah menjamin kebutuhan pokok setiap warganya. Islam juga  mewajibkan kaum Muslim untuk bisa mandiri dan mencegah hal-hal yang bisa menciptakan ketergantungan pada negara luar. Hal ini berimplikasi pada upaya untuk memastikan produksi pangan dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan setiap warga.

Kedua, mengenai migas. Islam secara tegas menyatakan bahwa ladang-ladang migas adalah kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh negara sebagai wakil umat. Hasilnya, wajib dikembalikan kepada umat dalam bentuk yang sesuai dengan kemaslahatan menurut pandangan kepala negara.

Jadi, sejak awal telah ditegaskan bahwa haram hukumnya menyerahkan pengelolaan migas pada pihak swasta apalagi  Asing.

Kesimpulannya, problem krisis nilai tukar mata uang akan terus berulang selama akar masalahnya tidak dipecahkan, yakni penggunaan mata uang kertas dan ketergantungan ekonomi pada negara lain.

Islam sejak awal telah menutup peluang terjadinya krisis nilai mata uang ini dengan menerapkan sistem mata uang dinar (emas) dan dirham (perak), serta berbagai hukum transaksi keuangan yang menutup pintu spekulasi.

Islam juga mewajibkan berbagai kebijakan agar terpenuhi kebutuhan masyarakat tanpa bergantung pada pihak luar. Terapkan sistem Islam, maka krisis moneter akan tinggal kenangan.[MO/sr]






Posting Komentar