Oleh: Rafida Aulya Rahmi 
(mahasisiwi UIN Banten)

Mediaoposisi.comSejak pasca libur lebaran indonesia masih dihadapkan oleh masalah utama pada perkembangan ekonomi.

Menarik dan mengundang para investor asing masih belum menjadi solusi tuntas dalam menstabilkan perkembangan ekonomi  sebaliknya, malah menambah beban hutang yang kian membengkak di tambah  keoknya nilai mata uang rupiah atas dollar AS sejak pasca liburan kemarin naik hingga 14.390 per dollar AS.

Menurut analis William Wijaya kondisi seperti ini di percaya hanya bersifat sementara, William memandang pelemahan rupiah lebih di sebabkan lantaran indeks dollar AS yang menguat.

Salah satu penyebab utamanya adalah rencana Bank Sentral AS, the Fed memberikan sinyal akan menaikkan suku bunga beberapa kali tahun ini, William percaya dalam jangka pendek rupiah kembali stabil apalagi jika keputusan FFR telah d tetapkan kembali.

Bukan hanya rupiah saja bahkan mata uang yang lainnya pun kena imbasnya, para investor pun kini lebih menempatkan dana pada dollar AS. BI bahkan sudah menetapkan akan menaikkan suku bunga 2 kali lebih sekitar 4,75% BI juga akan berencana untuk menaikkan suku bunga acuan.

Menurut analis senior dari PT. BinaArtha sekuritas,Reza Priyambada mengatakan suku bunga acuan memang menjadi salah satu senjata untuk meredam penguatan dollar AS. Namun senjata ini nyatanya memiliki efek samping pada pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga acuan akan memicu kenaikan suku bunga kredit perbankkan.

Sehingga di khawatirkan penyaluran kredit akan melamban, peredaran uang akan berkurang, ketika berkurang yang kena imbas adalah  masyarakat terutama yang menengah ke bawah, maka semakin sulitlah mereka dalam memenuhi kebutuhan dari setiap individu.

Ketika peredaran uang merendah bisa di pastikan semua kebutuhan pokok akan naik bahkan langka dan bisa jadi akan di cabut  subsidi pemerintah.

Masalah lemahnya mata uang rupiah di hadapan dollar sebetulnya bukan sekedar soal teknis sehingga cukup di hadapai dengan solusi taktis pragmatis seperti menaikkan suku bunga dll, akan tetapi menyangkut soal paradigmatis.

Bagaimanapun sepanjang indonesia tidak mandiri, pemerintahannya lemah dan sistem ekonominya masih berbasis flat money, ekonomi indonesia akan terus terombang-ambing sebagaimana kurs mata uang lainnya.

Penting untuk menyadarkan umat akan bahayanya penerapan sistem ekonomi dan moneter ala kapitalisme yang menjadi jalan guna mengukuhkan hegemoni penjajah adidaya atas indonesia dan dunia.

Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan petunjukanya maka kerusakanlah yang menimpa, sebaliknya jika itu di sesuaikan dengan petunjuk arahnya, kebaikan juga keadilan yang memancar darinya. Sesungguhnya dengan menerapkan sistem yang hanya berlandaskan pada Alquran dan As-sunnah adalah jawaban dari masalah ini bahkan seluruh permasalahan yang sedang kaum muslim hadapi.

Islam memiliki segudang aturan guna mengatur semua kehidupan manusia salah satunya dalam masalah keuangan.

Dalam islam berpatok hanya pada dinar dan emas kemudian agar tidak terjadi inflasi maka pemerintah pun akan membatasi percetakan uang kertas,

Islam pun melarang tegas tentang keharaman riba karena sudah jelas tertera dalam Alquran (Al-baqarah:  275). Salah satu kunci keberhasilan negara islam 1.300 tahun yang lalu mampu mensejahterakan rakyatnya tanpa pandang bulu dalam mengurusi permasalaham rakyat itu karena sesuai petunjuk yang berasaskan pada quran dan sunnah Rasul.

Sesungguhnya permasalahan Indonesia juga negara-negara lainnya yang saat ini sedang dihadapi adalah buah dari diterapkannya sistem kapitalisme-liberalisme itu sendiri, mereka menjajah dan memeras rakyat jelata demi mempertahankan eksistensinya agar tetap bertengger tanpa malu di hadapan dunia, hanya saja kebanyakan manusia tak menyadari itu. 

Sampai kapan permasalahan di Indonesia selesai itu semua tergantung pada manusia itu sendiri ketika memandang islam sebagai agama ritual saja maka jangan berharap semua akan usai karena hanya dengan islam lah jawaban dari semua problematika umat.[MO/sr]

Posting Komentar