Oleh: Septian Wahyu 
(Koordinator FAPMM Semarang)

Mediaoposisi.com- Sabtu, 7 Juli 2018 adalah hari dimana para aktivis yang mengaku aktivis 98 turun gunung dalam agenda yang berjudul Rembug Nasional Aktivis 98 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.

Agenda tersebut mengandung 3 point utama yang disampaikan, yaitu : (1) Meminta tanggal 7 Juli sebagai Hari Bhineka Tunggal Ika, (2) Meminta korban tragedi 98 (trisakti, semanggi) sebagai pahlawan nasional, dan (3) Deklarasi untuk mendukung Jokowi maju di pilpres 2019.

Tema yang disuarakan pada acara Rembug Nasional Aktivis 98 adalah “Melawan Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme”. Hal ini tentu selaras dengan kampanye pemerintah (kalau tidak ingin dibilang propaganda). Namun kita lihat latar belakang kampanye melawan intoleransi, radikalisme, dan juga terorisme justru banyak ditujukan kepada umat Islam termasuk ajaran Islam.

Menuduh beberapa kampus sebagai kampus yang terpapar radikalisme, ‘memanggil’ dosen hanya karena pembelaan terhadap ide Khilafah di PTUN terhadap HTI. Deradikalisasi masuk ke kampus untuk ‘menekan’ aktivitas dakwah Islam, sehingga memaksa dunia kampus harus didikte oleh menristekdikti.

Salah satu perwakilan aktivis yang berorasi, menilai bahwa Jokowi bersih dari kejahatan ekonomi, politik, dan kemanusiaan. Dari segi personal, mungkin iya Jokowi bersih dari kejahatan ekonomi, politik, dan kemanusiaan, namun dari segi kebijakan yang diambil oleh pemerintahannya, jelas tidak!.

Terjadinya persekusi-persekusi dan kriminalisasi terhadap ustadz, ulama, dan aktivis muslim. Apa ini bukan kejahatan politik?, silahkan dijawab sendiri.

Kenaikan harga kebutuhan pokok sejak era Jokowi, seperti bahan bakar minyak (BBM), beras, elpiji, membuat masyarakat menengah ke bawah tercekik. Apa ini bukan kejahatan ekonomi?, silahkan dijawab sendiri.

Mendatangkan tenaga kerja asing ditengah banyaknya pengangguran di Indonesia. Apa ini bukan kejahatan kemanusiaan?, silahkan dijawab sendiri.

Pernyataan sikap para aktivis ini seolah menunjukkan hilangnya daya pemikiran kritis terhadap pemerintah. Menurut salah satu tokoh politik, yang nampak tinggallah bahwa acara ini hanyalah semacam bermufakat untuk membentuk Timses.

Dan juga Rembug Aktivis 98 yang mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi, seolah mereka lakukan dengan menutup mata dan telinga atas berbagai situasi politik yang berantakan dan kacau.[MO/sr]

Posting Komentar