Oleh : Bagas Kurniawan
(‘Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com- Tahun 2019 adalah tahun politik. karena ditahun ini ada peristiwa politik penting yang akan menentukan wajah Indonesia 5 tahun kedepan.

Yakni, pileg (pemilihan anggota legislative) dan pilpres (pemilihan presiden). Tentu sangat menarik dikaji, siapa yang bakal menjadi kampiun dalam kontes 5 tahunan ini, dan kira-kira seperti apa wajah perpolitikan Indonesia di tahun 2019.

Fenomena artis nyaleg beberapa tahun terakhir mewarnai perpolitikan negeri ini. Ada yang mencalonkan ditingkat Gubernur, Bupati, dan juga anggota legislatif baik kota maupun daerah. Sebut saja semisal Anang Hermasyah yang kini menjadi anggota DPR RI, Pasha (Unggu), dan masih banyak lagi, dan kini nama-nama artis bertambah seiring perkembangan politik di negeri ini.

Sebut saja Ola Ramlan, Manohara, Andi Arsyil, Paramita Rusadi (artis senior), Doni Kusuma, dan terakhir yang namanya mencuat yaitu, Tina Tone (mantan artis cilik) yang mencalonkan diri maju sebagai bacaleg di Jakarta.

Terlepas visi misi yang diusung oleh caleg dan partai politik masing-masing dalam mempengaruhi dinamika perpolitikan negeri ini. Sejatinya politik mempunyai makna yang berasal dari bahasa Yunani yaitu, keteraturan, keindahan, dan kesopanan bagi sebuah masyarakat.

Begitu mulianya misi politik, sehingga Aristoteles menyebutnya sebagai “seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama bagi seluruh negara. Karena itu, para politikus yang berusaha mewujudkan tatanan masyarakat yang baik mestinya juga akan menempuh jalan atau cara yang baik pula.

Tetapi saat ini, politik umumnya dipahami sekedar (seni mendapatkan kekuasaan). Bagi para politikus, buat apa berpolitik bila tidak untuk mendapatkan kekuasaan, sampai disini sebenarnya bisa dimengerti, bahwa kekuasaan memang sangat penting untuk diraih, karena dengan kekuasaan akan di dapat kewenangan besar untuk mengatur kehidupan masyarakat dan negara.

Hanya masalahnya adalah, kekuasaan yang bakal diraih nanti akan dijalankan dalam konteks sistem dan ideologi seperti apa, untuk apa, dan bersama siapa.

Dalam konteks politik demokrrasi, tiap-tiap partai harus memastikan bahwa mereka mendapatkan suara yang cukup dari konstituen.

Disanalah eksistensi sebuah partai ditentukan. Dan bila saat ini ramai artis nyaleg tidak lain ada beberapa faktor, pertama faktor untuk mendongkrak suara parpol (partai politik). kedua, adanya keinginan terjun langsung menjawab tantangan rakyat. Dan yang ketiga, jabatan itu sendiri yang mungkin dinilai fantastis.

Ketika para selebritis masuk kedalam sebuah partai politik, artinya siap untuk mengurusi urusan rakyat, di dalam Islam dikenal dengan ‘ri’asatu suunil ummat’ (pengaturan kehidupan umat). Akan tetapi berbeda ‘politik’ didalam sistem demokrasi, yaitu mengutamakan kepentingan. Maka ada istilah tidak ada lawan dan kawan sejati, yang ada hanya nafsu untuk menguasai negeri.

Karena itu, koalisi dalam meraup suara antara partai politik yang berbasis masa Islam dengan partai politik yang berbasis masa sekuler akan menjadi sebuah hal yang lumrah. Ketika partai Politik Islam berkoalisi dengan partai pendukung penista agama. Dulu duduk bersama kini saling berperang dalam meraup suara. Dulu dibela, kini saling menghina, itulah politik kepentingan.

Jadi, jelas sekali satu-satunya landasan yang digunakan dalam menjalin koalisi adalah pragmatisme kekuasaan. Oleh karena itu, pragmatisme politik telah menjadi gejala akut dalam perpolitikan di negeri ini, termasuk dalam membangun koalisi.

Uang menjadi penentu arah politik. ini tak ubahnya seperti menjual dukungan umat yag diberikan secara ikhlas dalam pileg, lalu untuk kepentingan segelintir elit partai politik dengan mengorbankan kepentingan dan aspirasi umat itu sendiri.

Masihkah kita layak percaya pada politik semacam ini ? Akankah caleg artis dalam pertarungan politik 2019 membawa kebaikan bagi rakyat, atau justru rakyat tertipu untuk yang kesekian kalinya ?...[MO/sr]


Posting Komentar