Oleh: Annisa ‘Amalia Farouq
(Mahasiswi Manajemen Dakwah UIN SGD Bandung)

Mediaoposisi.com- Lagi-lagi, kata ‘radikal’ kembali disematkan kepada hal-hal yang berbau Islam. Pada awal bulan ini, Ketua Dewan Pengawas P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat),

 Muhammad Agus, telah merilis hasil survey bahwasannya sebanyak 41 masjid yang ada di kantor pemerintahan terindikasi sebagai tempat penyebaran paham radikal. Puluhan masjid ini berada di kementerian, lembaga negara, dan BUMN.

Indikator konten radikal ini dilihat dari tema khotbah Jumat yang disampaikan seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif terhadap khilafah, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan dan nonmuslim (liputan6.com, 08/07).

Sesungguhnya tuduhan-tuduhan radikal yang selama ini melekat pada Islam merupakan cara orang-orang yang amat benci terhadap Islam untuk kemudian melahirkan Islamophobia (ketakutan yang berlebih terhadap Islam) di negeri Muslim sebagai upaya membendung bangkitnya kesadaran umat terhadap Islam.

Bagaimana tidak? Salah satu ajaran Islam, yaitu Khilafah kini menjadi salah satu indikator dimana ketika ada orang atau bahkan tempat yang dijadikan sarana penyebarannya, maka orang atau tempat tersebut merupakan sesuatu yang radikalis, sekalipun tempat tersebut adalah Masjid. Miris memang, namun inilah faktanya.

Kini Islam telah menjadi sasaran tuduhan radikal, padahal Islam datang sebagai solusi atas segala problematika kehidupan, baik yg menimpa muslim maupun non muslim.

Namun, hanya dalam institusi yang syar’i, dimana seluruh perintah-perintah Allah ditegakkan tanpa terkecuali, yang akan mampu menjadikan umat bangkit dan mengembalikan ‘nama baik’ Islam yang Rahmatan lil ‘alamin.

Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang memperjuangkannya, bukan hanya sebagai penonton yang berdiam diri  terhadap seruan Allah dan Rasul-Nya.[MO/sr]


Posting Komentar