Oleh: Siti Rachmah N

Mediaoposisi.com-Gegap gempita perhelatan Pilkada serentak di beberapa daerah di Indonesia disinyalir dapat memberikan angin segar menuju perubahan masyarakat yang lebih baik. Sejatinya perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia, baik seseorang itu beragama maupun tidak. 

Namun ke arah mana perubahan itu akan terjadi akan sangat tergantung kepada visi, misi kehidupan yang dibangun atas sebuah ideologi tertentu yang diembannya. 

Bila kita lihat proses Pilkada yang telah memakan dana yang tidak sedikit, dengan pengawalan proses perhitungan yang ketat, tidak dapat menjamin bahwa hasil yang diperoleh dengan terpilihnya kepala daerah baru dapat menghantarkan masyarakat menuju perubahan perbaikan kehidupan. 

 Hal ini dapat dibuktikan dari tak terselang lama setelah proses Pilkada berlangsung, pemerintah langsung memberikan ‘kejutan’ melalui kenaikan harga BBM, keluarnya produk gas 3Kg tanpa subsidi, impor beras, impor bawang putih, dan beberapa komoditi pertanian lainnya. 

Terbukti, rakyat hanya diperlukan suaranya saat Pemilu dengan iming-iming kesejahteraan dan perubahan kehidupan yang lebih baik. 

Dan melabeli masyarakat yang golput dengan alasan apapun sebagai kelompok orang yang tidak mendukung program pemerintah yang ingin mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Satu pertanyaan, dari kacamata manakah standar kehidupan lebih baik itu dilihat? 

Bila dilihat dari pembangunan infrastruktur dan geliat bisnis yang seolah-olah mengalami kemajuan, sesungguhnya memberi dampak yang buruk bagi masyarakat. Mengapa? Karena hal itu menjadikan jurang yang teramat dalam diantara masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik dan masyarakat kecil yang merupakan mayoritas masyarakat Indonesia. 

Kesenjangan sosial ini menyebabkan meningkatnya tinda kejahatan di tengah masyarakat. Menurut Chambliss, seorang pengamat sosiopolitik masyarakat, kejahatan adalah suatu reaksi atas kondisi kehidupan kelas seseorang dan senantiasa berbeda-beda tergantung pada struktur–struktur politik dan ekonomi masyarakat. 

Jadi ada keterkaitan yang kuat antara suasana politik ekonomi dengan peningkatan tindak kejahatan. Dia pun mengungkapkan bahwa ideologi tentang kejahatan dibentuk dan disebarluaskan oleh kelas dominan untuk memelihara hegemoninya. Lantas bagaimana cara kita membangun sebuah perubahan yang hakiki guna mewujudkan kesejahteraan, keamanan dan ketentraman masyarakat? 

Jawabannya adalah dengan kita memahami dahulu makna masyarakat yang sesungguhnya. Masyarakat bukanlah sekedar perkumpulan manusia dalam suatu wilayah yang sama, namun juga memiliki keterikatan satu sama lain dalam pemikiran, perasaan dan peraturan yang satu, sehingga perubahan yang hakiki dapat tercapai. 

Ketika masyarakat tidak diikat dengan pemikiran, perasaan dan peraturan yang sama, maka mustahil perubahan hakiki itu tercapai. Maksudnya disini adalah memiliki visi misi kehidupan yang sama, kecintaan dan kebencian yang sama dalam memandang standar kebahagiaan yang tentu saja diimplementasikan dalam sebuah aturan yang berlaku dan ditaati oleh seluruh masyarakat. 

Pemikiran, perasaan dan peraturan tersebut harus bersinergi dan tidak saling bertentangan. Ketiganya hanya mampu bersinergi dengan berlandaskan akidah atau ideologi. Dan tak ada ideologi di dunia ini yang memiliki sinergi dalam pemikiran, perasaan dan peraturan, kecuali Islam. 

 Karena hanya Islamlah agama sekaligus ideologi yang benar didunia ini, sebab berasal dari Allah SWT, Sang Maha Pencipta dan Pengatur. Dan Islam hadir di dunia sebagai rahmat bagi semesta alam saat diterapkan dalam segala aspek kehidupan. 

Ideologi Islam tidak hanya kompatibel bagi kaum muslim tapi juga seluruh alam semesta. Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 108 yang artinya 

Wahai Orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaitan. 
Karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh besar bagi kalian.” 

Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan oleh setiap mukmin, siapapun, dimanapun, apapun profesinya, kapanpun, baik dalam hal pribadi, bermasyarakat maupun bernegara. 

Mengikuti jejak-jejak syaitan bermakna mengamalkan hal-hal yang bertentangan dan bukan berasal dari Islam dengan alasan apapun. Jadi perubahan hakiki hanya dapat tercapai melalui penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. 

Dan tidak ada satu sistem pemerintahan di dunia ini yang dapat menerapkan syariat Islam secara kaffah selain Khilafah Islamiyyah ala Min hajinnubuwah. Maka segala upaya yang kita lakukan demi tegaknya Khilafah adalah langkah-langkah menuju perubahan yang hakiki.[MO/sr]
 

Posting Komentar