Oleh: Fathimah Adz 

Mediaoposisi.com- Dukungan solidaritas ulama muda jokowi (SAMAWI) kepada presiden Joko Widodo sangat ramai dibahas di media sosial baru baru ini. Pasalnya, ternyata ada salah satu peserta Samawi yang dinilai bukan orang orang dari golongan para ulama.

Heboh ini bermula dari sebuah unggahan video yang sedang menyorot para peserta _Samawi_ . Video itu menggambarkan bagaimana massa samawi yang masih terlihat seperti remaja tanggung. Tampak pula mereka berganti dengan kaos Samawi. Juga ada ibu ibu lanjut usia yang memakai kaos bertuliskan "Ulama Muda".

Wakil ketua majelis syuro PKS Hidayat Nur Wahid ikut berkomentar pula. HNW(Hidayat Nur Wahid) mengaku telah melihat video tersebut. Dia menyebut massa yang memakai kaos bertuliskan "Ulama Muda" itu tidak tampak seperti para ulama.

"Iya, Iya, sudah saya lihat juga video tersebut. Jadi, ya, banyak banyak yang menyarankan jangan membawa bawa agama dalam politik. Jangan politisasi agama, tapi ternyata kemudian terjadilah pengerahan massa yang disebut dengan Ulama Muda. Tapi kalau saya lihat dan perhatikan, dari yang hadir itu tampang ulama nya sama sekali tidak kelihatan"

Kata Hidayat, di Kompleks parlemen senayan Jakarta Kamis, 12/07/2018.(DetikNews.com)

Ulama, pewaris para nabi
Baru baru ini pun, terjadi multaqo atau pertemuan para ulama dan dai se-Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika. Hidayatullah.com– Multaqo atau Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa V ditutup dengan menghasilkan 10 poin rekomendasi.

Sekretaris Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara yang juta Tim Steering Committee Multaqo ke-5, Jeje Zaenudin mengatakan, forum ilmiah internasional ulama dan dai tersebut telah membahas berbagai hal seperti kondisi bangsa dan peran dakwah.

Adapun 10 poin rekomendasi itu, dikatakan Jeje, pertama adalah menekankan pentingnya rahmat dalam Islam dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni antara Muslim dan non-Muslim dan bahwa cinta terhadap kebaikan antarsesama merupakan hal yang baik, maka seharusnya tidak menginginkan keburukan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Kedua, untuk mencapai persatuan dan kesatuan di antara umat. Perlu berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang komprehensif dan terintegrasi yang sejalan dengan kaidah-kaidah ilmiah dan praktis yang telah disusun oleh para ulama otoritatif dari masa ke masa.

Ketiga, pentingnya membangun kemitraan kerja sama antara lembaga-lembaga dakwah dengan berbagai lembaga-lembaga ilmiah dan pendidikan baik pemerintah atau swasta, dalam rangka mencapai perdamaian, stabilitas, kemajuan, pembangunan dan kemakmuran dalam naungan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala,

ujarnya di arena Multaqo, Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat (06/07/2018).

Kemudian, sambung Jeje, meningkatkan peran strategis lembaga-lembaga dakwah dan kontribusinya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Muslim di berbagai bidang dan disiplin ilmu dalam rangka mewujudkan misi “khairu ummah” dan “ummatan wasatha”.

Kelima, memperkuat posisi keluarga sebagai institusi terkecil dan fondasi dasar bangsa dan negara, melalui pendidikan dan pengembangan karakter yang mulia yang sejalan dengan ajaran Islam yang hanif.

Jeje menyebutkan, rekomendasi Multaqo kali ini mendorong para ulama dan dai untuk melakukan revolusi penyampaian dakwah yang cepat dengan memanfaatkan teknologi informasi (IT) dan media sosial sebagai media untuk menyampaikan dakwah Islam yang berorientasi kepada budaya literasi.

Selanjutnya, terang Jeje, mengingat Indonesia adalah negara Muslim terbesar dalam hal jumlah penduduk, maka harus memainkan peran utama dalam menciptakan perdamaian dunia melalui dakwah dan pendidikan yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang benar.

Untuk itu, poin setelahnya, karena Jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki berbagai keragaman agama, etnis, sosial, budaya, dan lain-lain, maka setiap orang yang bekerja di bidang dakwah Islam harus mengambil metode dan strategi yang dapat membina dan mempertahankan kohesi sosial.

“Kesembilan, memperkuat kedudukan Kota Jakarta sebagai pusat peradaban berbasis dakwah dan pendidikan Islam di konteks nasional dan internasional,” tandasnya.

Terakhir, tutup Jeje, akan dibentuk panitia khusus untuk merealisasikan seluruh keputusan forum multaqa ini dengan melibatkan semua unsur-unsur terkait.
(Hidayatullah.com)

Namun dewasa ini,, usaha usaha para ummat islam yang sadar dan bersatu pun kerap kali dipatahkan oleh benteng demokrasi yang kokoh. Yang ikut dibangun oleh orang orang muslim yang memuja demokrasi, serta orang orang awam yg mengikuti para pemuja demokrasi.

Sebagai contoh oara ulama "jadi jadian"yang direkrut untuk mendukung keberlangsungan kepemimpinan presiden Jokowi,untuk mengelabuhi masyarakat dan membuat bingun masyarakat atas keburukan makar makar rezim tersebut.

Hal ini afalah bukti bahwa ummat terjebak dalam sistem demokrasi yang semakin menyelewengkan dan menyalah gunakan peran penting para ulama. (Umdah.com)

Inilah siasat demokrasi. Siasat demokrasi pun harus dikalahkan dengan siasat demokrasi pula. Mengambil prinsip utama demokrasi yang meletakkan kedaulatan di tangan para rakyat sebagai variable terpenting.

Maka dengan sendirinya demokrasi menjadi sistem yang sangat terbuka dan determinan. Keterbukaan demokrasi yang tadinya dimasuki oleh "para penjudi" dan dikelilingi oleh "para pemabuk" dan "pelacur" haruslah dirubah menjadi peluang untuk banyak dimasuki oleh para orang orang sholih guna mengalahkan para perusak itu tadi.

Hasil demokrasi yang tadinya sangat determinan oleh para perusak itu tadi, haruslah diubah menjadi determinan atau pro terhadap orang orang muslim yang sadar atas pentingnya sistem politik yang bersih, yaitu khilafah islamiyyah.

Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, dan Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham melainkan mewariskan ilmu. . . . “ (Terj. HR. Tirmidziy, Abu Daud, & Ibn Majah) Dengan ilmunya Ulama bagaikan pelita yang menerangi perjalanan dalam kegelapan.[MO/sr]

Posting Komentar