Oleh: Astik Drianti, S.P., M.P
(Dosen di Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong)

Mediaoposisi.com- Syahdan pada suatu masa. Tersebut seorang penguasa, dimana wilayahnya terdiri dari Sepanjang jazirah Arab, Neger-negeri bahkan Afrika sampai ke Spanyol,  juga India dan daratan cina.

Penguasa tersebut tidak lama bertakhta hanya 2 tahun 5 bulan 5 hari. Namun kebijaksanaan dan kearisannya mengelola Negara sebesar itu di akui oleh dunia, namanya tercatat dalam sejarah, harum dengan prestasi dia lah Umar bin Abdul Aziz.

Umar memberikan contoh bagaimana mengelola sebuah negara yang di tinggalkan dalam keadaan sakit oleh penguasa sebelumnya, menjadi negara yang sehat, maju dan Makmur serta mampu mensejahterakan rakyat. Padahal kondisi sebelumnya, korupsi dan kesewenang-wenangan merajalela.

Umar mampu merubah negara yang amburadul menjadi negara Makmur yang didalamnya tidak ada orang yang berhak menerima zakat, karena semua warganya mampu.  Umar mampu menjaga kedamaian padahal warganya terdiri dari berbagai agama, suku dan golongan hanya dalam masa kurang dari satu kali jabatan presiden saat ini.

Umar mampu meningkatkan keuangan Negara, justru dengan mencabut cukai yang dibebankan kepada masyarakatnya. Dan semua itu dilakukan umar bin Abdul aziz yang masih muda dalam usia kurang lebih 36 tahun.

Apa yang dilakukan umar sehingga ia mampu mengembalikan kejayaan negara nya?  Padahal umar juga di kenal sebagai seorang yang gemar berdandan, memakai wangi-wangian, mengenakan sutra, serta tinggal di istana.

Ternyata kuncinya, umar merasa bertanggung jawab terhadap jabatan yang di embannya setelah menjabat, umar meninggalkan kehidupan mewahnya untuk menjadi penguasa yang melayani rakyat. Dan ia melayani dengan iman dan sistem yang tepat yakni sistem nubuwah, sistem warisan nabi.

Umar melaksanakan tepat seperti yang dilakukan pendahulunya yakni Rasulullah Muhammad SAW, juga kakek moyangnya umar bin khattab. Terbukti dalam waktu relatif singkat kesewenang-wenangan yang terjadi di tengah masyarakat terangkat, penghapusan cukai pada rakyat berbuah melimpahnya harta zakat dan tidak adanya yang berhak menerima.

Keadilan nya menyebabkan bahkan serigala hidup berdampingan dengan domba.
Sejarah telah mencatat dan membuktikan bahwa islam dan sistem pemerintahan nya, mampu mensejahterakan rakyat.

Berbeda dengan saat ini, miris rasanya ketika mendengar ada pejabat negara yang tugasnya adalah mengurusi masyarakat justru berkomentar negatif terhadap kesulitan hidup rakyat. Seperti yang disampaikan oleh ketua DPR untuk menggunakan mobil listrik karena kenaikan harga bbm (kompas.com,4/7/18).

Atau justru menyarankan keong sawah ketika harga daging mahal seperti yang dilakukan oleh menteri pertanian (tribunnews.com,6/12/17).

Penguasa sejatinya adalah pelayan rakyat, mereka melayani rakyat sehingga rakyat dapat hidup sejahtera, bukan menipu rakyat, kita bisa lihat saat ini bagaimana penguasa dengan media yang menjadi kepanjangan pemerintah menjelaskan mengenai melemahnya nilai tukar rupiah dengan mengganti ungkapan yang sebagai penguatan nilai dolar (visa.co.id,3/9/15).

Demikian juga, pembangunan yang dilakukan selayaknya demi kemakmuran rakyat bukan segelintir golongan, umar bin Abdul aziz pernah menyita kebun milik seorang bangsawan yang diduga dari hasil korupsi dan mengembalikan nya kepada rakyat, bukan justru melindungi dan menyelamatkan koruptor (merdeka.com, 23/5/17).

Paradigma penguasa dimanapun adalah untuk mengurusi kesejahteraan rakyat, karena pada dasarnya penguasa mengambil mandat dari dari rakyat, sehingga wajar bila rakyat dan kesejahteraan rakyat menjadi fokus utamanya.

Justru sangat tidak tepat ketika penguasa mengabaikan hak rakyat hanya karena BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang merugi, kemudian harganya dinaikkan. Atau dengan alasan defisit anggaran kemudian penguasa dalam hal ini pemerintah menaikkan pajak tapi disisi lain memberikan tak amnesty bagi pengusaha besar dan perusahaan multi nasional yang justru merugikan rakyat.

Atau melakukan divestasi padahal dalam waktu 3 tahun lagi tanpa divestasi perusahaan tersebut menjadi miliki umat dengan gratis.

Salah kelola negeri ini. Memberi dampak nyata, harga-harga yang melonjak naik, kehidupan yang semakin sulit serta kedamaian yang semakin jauh terasa. Sistem perekonomian yang di terapkan bertahun-tahun lalu hingga kini terbukti tidak berpihak pada rakyat, justru semakin membuat rakyat menderita. Kesenjangan semakin tinggi pajak semakin mencekik.

Kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat dan hanya memperkaya golongan tertentu, kebijakan yang membiarkan para kapital menguasai sumber daya, dan kebijakan yang menjadikan rakyat hanya sebagai konsumen bukan owner bagi sumberdaya tersebut, itulah yang disebut sebagai neokapitalisme.

Saat ini kita merasakan dampaknya. Segala sesuatu di serahkan pada mekanisme pasar.
Umar bin Abdul aziz mampu merubah keadaan dalam waktu singkat dan dia adalah contoh yang nyata, dengan sistem yang tepat, maka selayaknya kota meniru contoh nyata yang terlihat keberhasilan nya dan terukir dalam sejarah.

Bukan kepada mr. Trump dengan sekondan nya, yang telah terbukti justru menyengsarakan masyarakat dunia ketiga. Sehingga saat ini penguasa pro rakyat, kenapa tidak? Siapa takut, untuk mensejahterakan rakyat? Kecuali mereka yang menjadi antek, dan yang akan kehilangan jabatan serta penjilat.[MO/sr]

Posting Komentar