Oleh: Fatimah Azzahra, S.Pd

Mediaoposisi.com- Survei menyatakan banyak mahasiswa Indonesia inginkan Khilafah. Dari 80 persen responden inginkan khilafah, sedangkan untuk tataran SMA, 60 persennya menginginkan hal yang sama (tribunnews.10/5/2017).

Gaung syari’ah dan khilafah kian menyebar dan tumbuh subur, terutama di tengah para intelektual, baik itu pelajar  sekolah menengah atau civitas akademika kampus.

Menghadapi membesarnya gelombang perjuangan syari’ah dan khilafah, juga melihat hasil survey di atas, pemerintah tak tinggal diam. Atas nama menjaga negara dari paham radikal, BNPT merilis 7 Perguruan Tinggi Negeri yang terpapar radikalisme.

BNPT merinci kampus-kampus dicurigai sebagai tempat persemaian bibit radikalisme adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) (cnnindonesia.com, 4/62018).

Walaupun publik masih mempertanyakan dalil shahih dari hasil rilis BNPT tersebut. Kampus sudah mengambil tindakan untuk merespon pernyataan BNPT. ITB bekukan organisasi mahasiswa yang diduga berafiliasi HTI (cnnindonesia.com,6/6/2018). UI siap pecat mahasiswa yang  terbukti radikal (cnnindonesia.com, 26/5/2018).

Universitas Brawijaya akan menggandeng pihak intelejen untuk membendung paham radikal (cnnindonesia, 6/6/2018).

Tak cukup sampai disitu, Professor Suteki, guru besar Fakultas Hukum di Universitas Diponegoro di bebastugaskan dari jabatan strukturalnya terkait beberapa status dan komentar di media sosial yang dianggap membela ormas HTI (pro syariah dan khilafah) (cnnindonesia.com, 6/6/2018).

Di ITS, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Profesor Daniel M Rosyid dan beberapa orang dosen lainnya diberhentikan sementara dari jabatannya karena sebuah postingan di medsos yang menyebut mereka sebagai pendukung HTI.

Pengulangan Sejarah Masa Represif
Inilah fakta rezim panik. Rezim melancarkan propaganda negatif terhadap ajaran Islam, Khilafah dengan label radikal. Ditambah mengkriminalkan para pengemban dakwah, khususnya dalam dunia kampus. Semuanya dilakukan untuk membungkam para pengemban dakwah dan melenyapkan ide Khilafah.

Nyatanya, fenomena pemerintah masuk ke dalam dunia kampus bukan kali pertama, fenomena ini pernah terjadi saat masa Orde Baru. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan.

Pemerintah yang menyadari potensi mahasiswa yang akan mengguncang kursi kekuasaannya, mengeluarkan kebijakan NKK/BKK ini untuk membungkam mahasiswa dari kegiatan politik dan fokus  belajar saja. Mahasiswa diminta untuk memahami politik dalam teori saja, tanpa perlu dipraktikan.

Kebijakan NKK/BKK setidaknya boleh dibilang efektif dalam jangka waktu tertentu. Gerakan mahasiswa khususnya organisasi intra kampus tak berkutik berhadapan dengan pihak Rektorat yang merupakan kepanjangan tangan penguasa.

Setiap tindakan yang mengarah kepada kritikan terhadap pemerintah, langsung dihadapi oleh cara-cara represif melalui penculikan dan penembakan misterius (petrus). Namun, sejarah membuktikan akhirnya para mahasiswa bisa keluar dari belenggu kebijakan pemerintah, dan berperan penting dalam reformasi negeri.

Mengapa Kampus?
Harus diakui jika ketakutan orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan masih terus ada terhadap potensi mahasiswa. Mereka menikmati keadaan negara yang justru menguntungkan mereka. Ketakutan mereka cukup beralasan karena mahasiswa memiliki energi untuk mendobrak kemapanan.

Daya ktitis mahasiswa dan kepeduliannya terhadap kondisi bangsa-negara dimandulkan dengan strategi terbilang cukup halus. Mahasiswa kritis dianggap tidak normal dan untuk itulah perlu dinormalkan. Organisasi kemahasiswaan perlahan-lahan dimampatkan.

Dari dulu hingga kapan pun, mahasiswa adalah aktor-aktor penting pembaruan bangsa. Di belahan bumi mana pun, mahasiswa selalu tampil sebagai agen pembaharu. Sikap kritis dan kepedulian terhadap kondisi riil masyarakat terus dimiliki mahasiswa sehingga tak segan-segan melakukan pengorbanan demi kejayaan bangsanya.

Sejarah bangsa ini mencatat bahwa Mahasiswa selalu ambil bagian untuk melakukan perubahan sosial. Dalam hal ini, pergerakan mahasiswa tidak hanya diartikan dengan pemahaman sempit dan dangkal yang merujuk pada gerakan berunjuk rasa dan membuat kerusuhan di jalan-jalan.

Akan tetapi lebih pada gerakan mahasiswa yang berpartisipasi aktif dalam proses perubahan tatanan sosial-politik.

Karena itu, kampus dengan segala potensinya, yang juga miniatur masyarakat, tak terlepas dari dakwah. Pengemban dakwah mengajak semua elemen kampus kepada islam kaffah. Baik mahasiswa baru, senior, para aktivis, dosen, pihak administrasi, hingga dekan dan rektor.

Sehingga ide islam kaffah dan khilafah menyebar di seluruh civitas akademika kampus, mereka ikut menyuarakan syariah dan khilafah, ikut berkontribusi dalam perjuangan, bahkan menjadi bagian dari pengemban dakwah.

Kampus sebagai institusi yang menjadi tempat bertukarnya berbagai pemikiran, menjadi gerbang bagi pengemban dakwah untuk melontarkan ide syariah dan khilafah.

Dengan keyakinan dan keimanan bahwa Islam adalah sebuah ideologi yang darinya muncul aturan kehidupan dari Rabb semesta alam, yang akan menjadi solusi bagi semua permasalahan yang hadir di dunia kini.

Para pengemban dakwah menjual ide syariah dan khilafah ke tengah forum-forum diskusi, baik diskusi diantara para mahasiswa yang ‘awam’, mahasiswa yang aktif dalam keorganisasian, hingga jajaran dosen, dekan dan rektor. Tentu, forum diskusi dikemas sesuai dengan peserta diskusi sehingga diskusi yang terjadi pun tepat, baik pembahasaannya, juga penerimaannya.

Hasilnya, kita dapati banyak civitas akademika kampus yang akhirnya tercerahkan dengan ide islam kaffah, syariah dan khilafah. Mereka memiliki kesamaan pemikiran, perasaan, dan rindu akan diterapkannya kembali islam kaffah dalam bingkai khilafah. Dengan kesadaran, mereka pun ikut menyuarakan syariah dan khilafah dalam berbagai forum.

Tantangan Dakwah Fase Interaksi
Penguasa menganggap dakwah islam membahayakan dan mengancam posisi mereka, semakin serius menghadang dakwah ini. Mengingat tahapan dakwah kini sudah masuk pada fase terakhir sebelum penerapan Islam, semakin massif pula seruan kepada syariah dan khilafah di tengah-tengah ummat khususnya di kalangan intelektual kampus.

Sehingga kini kita dapati semakin banyak orang yang mengenal dan mendukung juga menjadi pejuang syariah dan khilafah. Namun, tak dipungkiri, pada fase ini, semakin intens pula benturan dengan penguasa. Kebijakan demi kebijakan digulirkan untuk memandulkan potensi besar akademisi kampus.

Islam, sebagai solusi sistemik yang ditawarkan menjadi sesuatu yang baru di tengah masyarakat. masyarakat tak asing dengan Islam sebagai agama, tapi belum akrab dengan Islam sebagai sistem kehidupan. Sesuatu yang baru ini tak akan mudah untuk langsung diterima, khususnya bagi penguasa. Aturan di dalam Islam bertentangan dengan aturan masyarakat kini.

Kalau mau dilihat dari satu aspek saja, misalnya ekonomi, secara jelas dalam Alquran, Islam menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sementara aturan yang ada di tengah masyarakat sekarang justru sangat memfasilitasi masyarakat agar menggunakan transaksi ribawi baik secara individu ataupun institusi negara. Ini baru dari satu aspek kecil, belum lagi dari aspek lainnya.

Perbedaan antara Islam dan aturan yang diterapkan saat ini membuat penguasa dan para stakeholder terancam posisinya. Kenyamanan dan keuntungan yang mereka dapatkan dari aturan ini dalam bahaya. Mereka pun melancarkan berbagai macam cara untuk menghalangi dan memerangi dakwah Islam.

Diantaranya dengan melancarkan propaganda negatif untuk menentang ideologi islam, mengusir para pengemban dakwahnya, atau pun dengan menggunakan kekuatan fisik (kekerasan). Kesemuanya ini sudah kian tampak sekarang.

Walau tantangan ada di hadapan, tak lantas kita berdiam diri, justru para pemuda, pengemban dakwah harus tetap menjelaskan secara gamblang pemikirannya. Membeberkan kepalsuan dan kebatilan pemikiran dan tsaqofah lainnya. Serta menjelaskan akibat-akibatnya yang berbahaya. Sehingga ummat pun akan berpaling kepada Islam

Pengemban dakwah pun harus menjadikan dakwah sebagai titik sentral dalam kehidupannya. Sehingga tak kan goyah jika dibenturkan oleh kepentingan pribadinya, termasuk pekerjaannya. Sebagai mahasiswa tak lantas menjadi mahasiswa yang study oriented tanpa mau ikut memperjuangkan islam.

Sebagai dosen tak lantas takut menyuarakan ide syariah dan khilafah karena takut dipersekusi, dan seterusnya. Ingatlah, Allah telah membeli jiwa dan harta para pengemban dakwah dengan surga. 

Sitgma negatif radikal yang kian masif, persekusi di dalam institusi kampus kian gencar, membuat pengemban dakwah tersadar. Kita tak bisa tinggal diam, juga tak boleh gegabah dalam bertindak. Walau benturan dengan penguasa merupakan suatu keniscayaan, hingga berpeluang dipersekusi atau ditindak fisik.

Namun, tak lantas membuat kita pasrah, berdiam diri menerima siksaan penguasa. Pengemban dakwah harus pandai-pandai menjaga diri dari siksaan dengan segenap kemampuan, menentang propaganda-propaganda sesat, membalas opini dengan opini, dan senantiasa menjelaskan dakwah Islam ke tengah ummat.

Agar ummat melihat kebenaran yang kita bawa, dan melihat betapa dzalimnya penguasa.

Bersabar, Istiqomahlah dalam Perjuangan
Tantangan dakwah yang menghadang di hadapan kita tak lantas menjadi alasan untuk mundur ke belakang atau lari dari medan pertempuran. Saat ini kita sudah berada di fase akhir, kegelapan yang semakin pekat adalah tanda bahwa fajar kemenangan sudah kian dekat.

Kini tiada lagi abu-abu, yang batil dan haq sudah terlihat jelas sebagaimana jelasnya membedakan hitam dan putih. Semua kebijakan yang digelontorkan untuk memberantas ide syariah dan khilafah tidak akan mampu menghentikan cahaya dakwah Islam yang sudah terlanjur bersinar.

Rezim ini harus menerima kenyataan bahwa ummat menghendaki Islam, Khilafah. Karena Khilafah adalah ajaran Islam, bahkan mahkota kewajiban demi menyempurnakan ketaqwaan sebagai umat terbaik, ummat Muhammad saw.

Saat ini pemuda, khususnya mahasiswa tidak boleh sembarangan mengambil posisi atau membiarkan dirinya dipetakan oleh pihak lain. Sebab kondisi hari ini memang menuntut setiap aktivis untuk berpikir lebih mendalam dan lebih kritis dalam menyikapi berbagai kondisi yang ada.

Kebijakan rezim yang mengatasnamakan program deradikalisasi ini dirasakan sangat represif terhadap umat Islam. Tetaplah tegar sambil terus menggali pemikiran Islam dengan bahan bakar iman, agar berani bersikap, berani bersuara dan berani ambil posisi. Walaupun konsekuensinya harus berhadap-hadapan dengan penguasa.

Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Bersabarlah dalam menyuarakan kebenaran, menyuarakan Islam. Sungguh Rasulullah saw dan para sahabat yang dijanjikan surga atas mereka pun menapaki jalan yang sama, menghadapi tantangan dan rintangan yang sama, juga menghadapi penyiksaan seperti kita saat ini.

Cukuplah keimanan akan janji Allah yang menguatkan kita untuk istiqomah berjuang di jalan dakwah ini.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka, dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)[MO/sr]





Posting Komentar