Oleh: Hafshah Damayanti, S.Pd
(Forum Muslimah Pantura)

Mediaoposisi.com- Boleh jadi terinspirasi dari lagu "Lagi Syantik"nya penyanyi dangdut Siti Badriyah, jelang pesta Demokrasi 2019, semua partai politik berikut politisinya lagi cantik di mata kamera, lagi ingin dipilih rakyat jadi partai idola. 

Jagad perpolitikan Indonesia pun digaduhkan  sejumlah politisi berpindah ke lain partai. Demi posisi cantik nan strategis untuk menang. Politisi kutu loncat pun disematkan kepada mereka.

Sebagaimana yang diwartakan indonesia.com, setidaknya ada 16 anggota DPR RI yang kembali mencalonkan diri melalui partai politik berbeda.

Sebagian besar wakil rakyat tersebut pindah dari partai asal ke Partai NasDem. Dikabarkan adanya janji pembiayaan kampanye dalam jumlah besar menjadi salah satu alasan para anggota DPR tersebut rela berpindah ke partai politik berlambang bulan dan matahari tersebut.(18/8/2018)

Meski bukan sesuatu yang asing lagi, ini bukti bahwa partai politik dalam Demokrasi sangat cair dalam mengikat para kadernya. Satu-satunya ikatan yang kuat adalah kepentingan dan manfaat yang didapat, bagi partai politik maupun politisi.

Sejurus dengan itu hawa politik saat ini kian panas, goreng-menggoreng isu seksi kubu lawan politk jadi santapan utama publik. Partai  politik pun  memboyong sejumlah selebritis jadi kandidat wakil rakyat. Berharap pada popularitas sang selebritas, ambang batas suara partai berada di angka yang aman untuk melenggang ke senayan.

Semua partai politik  tampak lebih sibuk, setelah lolos dari verifikasi panitia pemilihan, dilanjut pendaftaran para caleg partai, inilah saatnya  menyiapkan kekuatan penuh sebagai peserta kompetisi ajang pemilihan calon legislatif.

Tentu saja kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan propaganda dan finansial, modal bertarung memperebutkan suara rakyat. Semakin banyak suara rakyat diraih, partai politik pun makin berjaya, jalan mulus ke singgasana parlemen di depan mata. Suara rakyat adalah harga mati demi memenangkan kompetisi agar partai tak dieliminasi.

Demikianlah partai politik dalam Demokrasi, hadir merakyat disaat-saat seperti ini. Mengambil hati rakyat dengan kaos dan sembako. Diselingi tebar pesona dan janji-janji bahwa rakyat akan dibela sampai mati jika duduk di kursi parlemen nanti.

Tapi rakyat tidak seperti dulu lagi, mudah  termakan janji yang tak pasti. Rakyat pun paham bahwa suara mereka sangatlah berarti. Bantuan dari partai apa pun diterima dengan senang hati, soal pilihan itu urusan nanti.

Dalam Demokrasi, meniscayakan partai politik dan politisi hingga rakyat sama-sama pragmatis oportunis. Partai tak pernah sungguh-sungguh menyuarakan aspirasi rakyat. Sebaliknya rakyat pun tak pernah benar-benar percaya pada partai. Rakyat sangat tahu pada akhirnya mereka akan terlupakan, janji-janji partai dan politisinya menguap entah kemana.

Ibarat mengikuti ajang kontes kecantikan yang berebut mahkota kemenangan. Partai politik berdandan secantik mungkin dengan canggihnya pencitraan. Rakyat pun terpesona seketika. Untuk kembali kecewa dan merana setelah pesta Demokrasi usai.

Tentu bertolak belakang dengan Partai Politik dalam Islam. Keberadaannya adalah panggilan dari seruan Sang Maha pencipta di dalam surat Ali Imran ayat 104, yang mewajibkan rakyat memiliki partai politik untuk amar ma'ruf nahi munkar.

Agar setiap urusan rakyat terjaga hanya diurus dengan aturan Islam. Karena sejatinya Islam adalah sistim kehidupan bukan agama ritual semata. Islam selalu mampu menjawab semua persoalan kehidupan. Dengan kaffah diterapkan, Islam mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi.

Tentu saja partai politik dalam Islam didirikan berdasarkan ideologi Islam saja. Agar setiap sepak terjang partai selaras dengan aturan yang terpancar dari ideologi Islam.

Sudah semestinya partai politik Islam saat ini menyadari peran strategisnya untuk kemaslahatan rakyat berdasarkan Islam semata. Bukan dengan Demokrasi, yang meniscayakan partai politik menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan pemilik  modal, asing maupun lokal.

Setidaknya ada tiga peran strategis partai politik Islam yang harus dilaksanakan, yaitu:

Pertama, berupaya melakukan perubahan terhadap masyarakat yang kental diwarnai kehidupan tidak Islami menuju masyarakat yang Islami dengan penerapan aturan Islam di semua lini kehidupan.

Kedua, mendidik masyarakat dengan ideologi Islam. Agar pemikiran dan sikap masyarakat terjaga dari ideologi rusak dan bertentangan dengan Islam.

Ketiga, melakukan koreksi (muhasabah) terhadap penguasa zalim yang melakukan penyimpangan terhadap Islam ketika mengurusi kehidupan masyarakat.

Hanya dengan Islam saja, partai politik berikut politisinya mendapatkan kemuliaan. Selalu jadi pemenang manakala amar ma'ruf nahi munkar konsisten diemban. Bukan jadi pecundang dan pesakitan di kursi sidang kasus korupsi dan manipulasi kebijakan.

Layaknya di sistim Demokrasi saat ini. Partai politik dan politisinya direndahkan hanya menjadi budak kepentingan dari penggenggam modal dan kekuasaan. Sudah saatnya Kembali kepada Islam semata yang mampu mengembalikan partai politik dan politisinya ke posisi yang lurus. Sebagai penjaga urusan masyarakat yang terpercaya.[MO/sr]


Posting Komentar