Oleh: Shafayasmin Salsabila 
(Pengasuh MCQ Sahabat Hijrah Indramayu) 

Mediaoposisi.com-Ibarat memancing di air yang keruh. Maniak bom kembali melakonkan drama berseri. Seperti sengaja mencari gara-gara. Menebar teror di tengah kondisi umat yang tengah dilanda banyak masalah.

Alih Fungsi Panci
Setelah penangkapan terduga teroris di wilayah hukum Polres Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (14/7/2018), Mapolres Indramayu diserang oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai motor. Keduanya diduga membawa bom panci, namun tidak terjadi ledakan (KOMPAS.com, 15/07/2018).

Bom panci atau pressure cooker bomb adalah bom yang menggunakan panci presto sebagai wadah alat ledaknya. Di dalam panci presto tersebut dimasukan beragam jenis bahan peledak dan partikel lain seperti paku, bongkahan besi, kaca, dan sebagainya.

Bom ini pertama kali ditemukan di Indonesia dari hasil penggerebegan Densus 88 di sebuah kosan di Kawasan Bintara, Bekasi pada 10 Desember 2016.

Menjadi ironis saat panci beralih fungsi. Panci yang awalnya hanyalah salah satu anggota dapur, kini menjadi momok menakutkan yang dapat mengancam nyawa. Jika sudah begini apakah pedagang panci lah yang  layak untuk dicurigai? Atau para ibu yang berbisnis panci?

Ada Apa Dibalik Panci?
Bukan pancinya yang salah. Tapi oknum jahat yang memanfaatkan kekuatannya. Peledak panci yang mendapat gelar teroris, disinyalir hendak membuat gaduh negara. Cara mereka memprotes kezaliman penguasa. Bentuk kemarahan yang salah arah. Sesat pikir.

Jika saja kita berani untuk berpikir sejenak. Tentu akan ditemukan kejanggalan yang amat parah. Labelisasi teroris sudah kadung dilekatkan kepada orang Islam. Mereka yang sangat bersemangat ingin menegakkan Islam. Dari sini, siapapun yang berakal pasti akan mencium ada ketidak sinkronan.

Bagaimana bisa Islam tegak dengan teror? Tidak mungkin Islam menjadi termuliakan justru dengan cara mencorengi kesuciannya. Bukankah menjadi satu hal yang konyol, saat ada seorang ibu yang ingin membersihkan badan anaknya dengan mengguyurinya menggunakan air comberan?

Sayangnya, sebagian kalangan mudah menelan kabar. Tanpa mencernanya lebih dahulu. Karena sangat jelas dari rentetan kasus peledakan ada upaya pencitraburukan bagi Islam dan pemeluknya.

Tuduhan Islam itu radikal, barbar, haus darah menjadi lengket dan kental dalam benak. Tidak sadar, bahwa ada pihak yang ingin membuat orang Islam menjadi takut dengan ajaran Islam. Dan menanamkan kebencian pada semua hal yang beraroma Islam.

Islamophobia yang didefinisikan oleh Runnymede Trust seorang Inggris sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam", kini turut menjangkiti kaum muslim. Itulah yang menyebabkan mereka merasa alergi dengan agamanya sendiri. 

Melahirkan sikap defensif apologetik (red. Sikap membela diri karena merasa diri menjadi pihak tertuduh) sebagai reaksi alami demi steril dari cuci otak Islamisasi. Apabila ada ajakan untuk mengkaji Islam, langsung mengambil langkah seribu.

Daripada nanti terciduk sebagai teroris.
Imbasnya, generasi Islam akan semakin jauh dari agamanya. Enggan mengenal Islam. Apalagi menjadikannya sebagai navigator kehidupan.

Defensif apologetik tentu akan mengganjal kebangkitan Islam. Jika dibiarkan, umat akan takut menyerukan kewajiban menegakkan sistem politik Islam dan akhirnya menerima gagasan moderasi islam. Padahal hanya dengan sistem politik islam umat ini bisa bangkit kembali dan mengalahkan hegemoni Barat atas mereka.

Saatnya Panci Merdeka
Sebagian besar umat mulai menyadari peranan Islam sebagai sebuah sistem yang mengatur kehidupan manusia (red. ideologi) akan menjadi penawar kesempitan. Obat bagi luka rakyat yang makin menganga lebar. Pedih.

Kabar islam akan membawa kebangkitan, menjadi mimpi buruk bagi pihak tertentu. Mereka adalah para penikmat kezaliman. Musuh Islam yang memenuhi perut dengan darah rakyat kecil.

Sebisa mungkin mereka melakukan tipu daya untuk menghentikan laju dakwah Islam. Apapun mereka akan lakukan termasuk menghipnotis umat agar berlari dari agamanya. Memilih keteduhan lewat Islam kompromi ala Barat. Mereka sangat berbahagia, tatkala umat memilih waspada pada syariat Islam.

Islam sedari awalnya sudah disetting akan menang. Keberadaannya akan membawa keselamatan. Menyebarkan kesejahteraan. Bukan hanya bagi mereka yang telah bersyahadat, tapi untuk seluruh yang memadati bumi. Bukankah hakikat diutusnya Rasul adalah demi terwujudnya rahmat bagi semesta alam?

Allah Ta'ala berfirman: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (TQS. Al. Anbiya : 107)

Bukanlah Islam kecuali  membawa segudang kebaikan. Kerusakan, teror dan keadaan mencekam justru menjadi buah busuk saat Islam disisihkan dari kehidupan. Islam bukan penyebab masalah tapi pemecah masalah.

Darimana rahmat bisa dirasakan? Tentu prasaratnya adalah ketika kesempurnaan aturannya diterapkan. Sempurnanya aturan Islam telah ditegaskan dalam dua ayat-Nya:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (TQS. Al Maidah : 3)

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (TQS. An Nahl : 89)

Islam syamil wa kamil, sempurna dan paripurna. Menyelesaikan masalah hingga tuntas. Aturannya dibuat oleh Allah Yang Maha Mengetahui. Allah sebagai pencipta manusia tentu paling memahami apa yang terbaik bagi keberlangsungan hidup ciptaan-Nya.

Islam membawa kedamaian bukan ketercekaman. Maka menjadi sangat tidak relevan, saat Islam dikaitkan dengan isu panci meledak. Tidak ada satupun ajaran Islam yang mengajarkan sikap pengecut.

Rasul tidak pernah mencontohkan terorisme. Sebaliknya keberanian, cinta dan ketulusan amat nampak dari sosoknya. Muhammad Saw, sang Rasulullah. Pemimpin Islam, sebaik-baik suri tauladan.

Dengan demikian, hanya dalam naungan Islam panci mendapat kemerdekaan. Bebas dari tangan lancang yang meledakannya. Panci bahagia, ibu pun ceria.
Mari kembalikan panci pada tempatnya. [MO/sr]




Posting Komentar