Oleh: Syukrika Putri

Mediaoposisi.com-  Dahulu ada perdebatan antara geosentris dan heliosentris. Kalangan geosentris menolak teori helio sentris karena tidak rela jika bumi harus mengelilingi matahari, secara di bumi ada suatu entitas bernama manusia, ciptaan Tuhan paling sempurna di alam semesta. “Gengsi donk masa ciptaan Tuhan paling sempurna ini yang harus tawaf mengelilingi matahari”.

Begitu kira-kira pemikiran kalangan geosentris. Maka manusia harus jadi pusat alam semesta. Karena itu matahari dan seluruh benda angkasa lainnya yang harus mengelilingi bumi (geosentris). Sementara kalangan heliosentris, melalui pengamatan/ observasi tidak dapat memungkiri bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi tapi bumilah yang mengelilingi matahari (heliosentris).

Merasa diri penting melebihi yang lain ternyata tidak berhenti pada kalangan geosentris. Di era saat ini dimana kehidupan manusia terkotak-kotak dalam batas-batas nasional telah memunculkan sentris yang lain yaitu nation sentris, perasaan bahwa nationnya atau bangsanya lebih penting dari bangsa lain bahkan lebih penting dari apapun termasuk agama.

Saat ini berkembeag sebuah peandangan bahwa Islam Indonesia lebih baik dari Islam Arab yang dikesankan sebagai Islam yang penuh dengan kekerasan. Lalu akhirnya muncul upaya-upaya ingin “menasionalisasi” Islam atau mengindonesiakan Islam seperti perkataan Prof. mahfud MD.

Maksudnya jelas, menginginkan Islam sesuai dengan semangat nasional, yaitu semangat Nusantara. Maka Islamnya disebut Islam Nusantara. Dalam konteks Islam nusantara keberadaan variabel Arab dalam praktek keislaman adalah hal yang sangat mengganggu karena tidak sesuai dengan semangat nasionalisme.

Maka dalam prakteknya Islam Nusantara berupaya untuk senusantara mungkin dengan mengurangi atau bahkan menghapus semua variabel Arab. Misal sholat dengan bahasa Indonesia, tilawah dengan langgam jawa, dan seterusnya.

Pada gilirannya Islam nusantara inilah yang seringkali dijadikan sebagai alasan untuk menolak penerapan syariat Islam kaffah dalam bingkai Khilafah karena seringkali dikesankan dengan Arab. Sungguh sangat nasionalis.

Tapi tunggu dulu, apakah semangat nation sentris ini dikenal dalam Islam ? atau justru malah pemahaman baru yang bertentangan dengan Islam itu sendiri ? faktanya Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah melarang umat Islam untuk bersikap ashobiyah atau bangga banggaan terhadap kaum atau golongannya.

Karena dasarnya Islam bukan memecah belah tetapi mempersatukan. Bagaimana jadinya jika dahulu Muhammad Rasulullah yang orang Arab itu bersikap Arab sentris, membangga banggakan kearabannya ? Niscaya segala kejahiliahan orang Arab tidak akan berubah. Karena orang Arab menganggapnya sebagai sesuatu yang membanggakan.

Misalnya dahulu bangsa Arab sangat bangga dengan aktivitas minum-minum khamr atau bermain judi. Tapi Islam datang menghapusnya tanpa mempertimbangkan perasaan orang-orang Arab yang sudah terlanjur menjadikan itu sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Jika Islam mengajarkan nation sentris maka akan sangat kontradiktif dengan fakta bahwa justru terjadi perubahan yang revolusioner pada wilayah yang pernah disentuh dakwah Islam.

Kita tahu bahwa Nusantara jauh sebelum datangnya Islam, masyarakat sudah lebih dahulu menganut kepercayaan animisme (menyembah roh-roh leluhur), kemudian di susul oleh kepercayaan Hindu Budha. Hasilnya pengaruh kepercayaan tersebut telah melekat erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Namun tatkala masuk dakwah Islam keadaan tersebut berubah. Islam bukan hanya mengubah keyakinan masyarakat menjadi tauhid dan tatacara peribadatan sehingga hasilnya saat ini umat Islam menjadi penghuni mayoritas negeri ini, tetapi Islam juga mengubah tatanan kehidupan masyarakat.

Salah satunya dalam bidang hukum seperti tercermin dari perkataan A.C Milner yang menyebutkan bahwa Aceh dan Banten adalah kerajaan Islam di Nusantara yang paling ketat melaksanakan hukum Islam sebagai hukum negara pada abad ke-17.

Di Banten, hukuman terhadap pencuri dengan memotong tangan bagi pencurian senilai 1 gram emas telah dilakukan pada tahun 1651-1680 M di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Iskandar Muda pernah menerapkan hukum rajam terhadap putranya sendiri yang bernama Meurah Pupok yang berzina dengan istri seorang perwira.

Kerajaan Aceh Darussalam mempunyai UUD Islam bernama Kitab Adat Mahkota Alam. Sultan Alaudin dan Iskandar Muda memerintahkan pelaksanaan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam dan ibadah puasa secara ketat. Hukuman dijalankan kepada mereka yang melanggar ketentuan. (Musyrifah Sunanto, 2005).

Islam tidak mengajarkan nation sentris karena manusia tetaplah manusia yang memiliki kelemahan dan keterbatasan apapun suku, ras, bangsa, dan warna kulitnya. Islam telah begitu detail mengatur seluruh tata cara pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri-naluri manusia melalui sumber-sumber hukum syara’ yaitu Al-Qur’an dan As-sunnah dan apa yang ditunjukkan oleh keduanya.

Islam sama sekali tidak melibatkan akal manusai dalam penentuan baik buruk suatu perbuatan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-An’am: 7 yang artinya:

menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik

Jika kaum muslim hanya berhukum kepada hukum Allah saja niscaya Islam tidak akan pernah terpecah-belah menjadi Islam Arab, islam Nusantara atau islam-islam lainnya.

Praktis, seorang muslim harusnya bersikap Islam sentris yaitu berhukum kepada Islam saja, tanpa dicampur adukkan dengan variabel ras, suku, budaya, adat atau bangsa. Sehingga kam muslimin bisa menjadi ummatan wahidan (umat yang satu) di seluruh penjuru dunia.

Justru dengan Islam sentris, kaum muslim bisa mempersembahkan dunia yang lebih layak untuk dihuni oleh seluruh spesies manusia muslim maupun non muslim. Sebagaimana dinyatakan oleh Bloom and Blair (2002):

"In the Islamic lands, not only Muslims but also Christians and Jews enjoyed a good life
Seperti itulah Islam, diturukan oleh Allah untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.[MO/sr]





Posting Komentar