Oleh:  Erni Susanti

Mediaoposisi.com- Isu radikalisme nampaknya semakin digencarkan untuk menjadikan kaum muslimin menjauh dari ajaran Islam. Baru-baru ini dirilis hasil survai dari Rumah Kebangsaan dan Dewan Pengawas Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat yang menyatakan bahwa 41 mesjid di kantor pemerintahan terindikasi sebagai tempat penyebaran paham radikal.

Adapun yang dijadikan indikator konten radikal ini dilihat dari tema Khotbah Jumat seperti ujaran kebencian, sikap negatif terhadap agama lain, sikap positif terhadap khilafah, dan sikap negatif terhadap pemimpin perempuan.  Indikator yang digunakan untuk  menentukan radikalisme ini  jelas sesuatu yg aneh   dan sangat menyudutkan Islam.

Betapa tidak? Yang dijadikan indikator terkesan mengada-ada, ujaran kebencian yang dimaksud masih tidak jelas, mendukung khilafah dianggap radikal padahal itu ajaran Islam.

Jika isu radikalisme yang terus menerus digulirkan  di tengah kaum muslim,  dengan menjadikan indikator ajaran Islam sebagai sumber dari radikalisme maka perlahan tapi pasti kaum muslim akan takut dengan agamanya sendiri. Kaum muslim akan semakin menjauh dari ajaran-ajaran Islam. Walhasil justru islamophobia muncul dari kaum muslim sendiri.

Ironis, bak bola api yang dilempar mengena pada sasaran. Isu ini akan menghancurkan kaum muslim. Islam adalah ajaran yang sempurna dengan aturan-aturan yang komperehensif tentang kehidupan, tidak hanya mengatur masalah ibadah, akhlak dan muamalah.

Islam juga mempunyai aturan tentang politik, pengaturan masyarakat dan juga negara. Aturan-aturan tersebut sudah dibuktikan sejak zaman Rasulullah saw hingga kejayaan kaum muslim bahwa aturan Islam ketika diterapkan secara keseluruhan akan mengantarkan kepada kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat.

Maka ketika umat dibenturkan dengan tuduhan radikalis dan memicu tidakan teroris, perlahan umat takut dan meninggalkan ajaran Islam.

Isu radikalisme tidak terlepas dari upaya barat dalam menghancurkan kaum muslim. Ini senada dengan laporan yang dilakukan oleh Rand Corporatiopn (RC).  RC  adalah sebuah pusat penilitian dan pengkajian strategi tentang Islam–California. Dalam penelitiannya RC menyebutkan bahwa gerakan kaum muslim terbagi menjadi empat kelompok diantaranya:

Pertama, kelompok “Fundamentalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan sangat kritis terhadap pengaruh Barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “BAHAYA”, sehingga penanganannya harus “DIHABISI”, karena kelompok ini “MUSUH BARAT”.

Kedua, kelompok “Modernis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro Demokrasi, tapi tetap kritis terhadap pengaruh Barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIRANGKUL”, walau terkadang masih mengkritisi Barat saat “kepentingan” mereka terganggu. Namun kelompok ini tetap dianggap “KAWAN BARAT”.

Ketiga, kelompok “Liberalis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro Demokrasi dan menerima sepenuhnya pengaruh Barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAT AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIBESARKAN”, karena kelompok ini adalah “ANTEK BARAT”,

Keempat, kelompok “Tradisionalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta juga pro Demokrasi tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat.

Kelompok ini oleh RC diberi status “WASPADA”, sehingga penanganannya harus “DIAWASI”, karena tiga dari empat ciri kelompok ini sama dengan ciri “Fundamentalis”, sehingga jika sering bersentuhan dengan “Fundamentalis”, maka dengan sangat mudah menjadi “Fundamentalis”.

Karenanya, kelompok “Tradisionalis” harus dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan harus “DIADU-DOMBA”.

Untuk itu seharusnya kaum muslim kembali kepada ajaran Islam secara keseluruhan alias Islam Kaffah. Dengan kembali menerapakan Islam kaffah, kaum muslim tidak akan mudah di benturkan dengan isu-isu yang justru membuat kaum muslim terpuruk dan jauh dari Allah swt. [MO/sr]





Posting Komentar