Oleh: Nayla Mutiara
(Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Jurusan Bahasa dan Sastra Arab)

Mediaoposisi.com-Peristiwa yang menimpa negeri hari ini dihiasi dengan berbagai berita yang sungguh membuat sebagian masyarakat menghela nafas panjang, terlebih rakyat kecil. Kabar naiknya harga BBM tentunya merambah ke segalah hal termasuk bahan pokok pun ikut naik harga.

Telur misalnya, dengan alasan karena bahan baku makanan untuk ternak sebagian besar adalah impor jadi tentu bahan tersebut akan ikut naik.

Bahkan kehadiran gas non subsidi melengkapi pemberitaan bagi warga negeri yang mulai beredar per satu Juli 2018 dengan alasan agar menjadi alternatif bagi masyarakat serta penggunaan elpiji subsidi (gas melon) tepat sasaran.

Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi, Kementrian ESDM, Djoko Siswanto mengatakan “Jadi, yang mampu gak usah beli yang ijo (bersubsidi). Ini juga menjadi salah satu cara mengendalikan gas melon bisa tetap dikonsumsi oleh yang membutukan” (m.detik.com).

Bagi pengendara motor, mobil termasuk di dalamnya kendaraan umum jelas merasakan bagaimana kenaikan harga tersebut.

Inilah yang terjadi di negeri kita, negeri dengan sumber daya alam yang melimpah tambang minyak, emas dll. Namun rakyat hari ini dihimpit dengan segala permasalahan hidup kemiskinan, harga-harga naik. Hal tersebut bisa teratasi jika memang sumber daya alam yang ada itu dikelola dengan baik oleh negara sehingga negara tidak  lagi melakukan impor  karena sudah tersedia di dalam negari.

Di dalam Islam ada tiga hal penting yang menjadi kepemilikan umum yaitu air, api dan padang rumput. Ketiga hal tersebut merupakan kebutuhan hidup masyarakatyang wajib dimanfaatkan bagi orang umum dan tidak dimiliki oleh individu.

Dulu keluhan yang dirasakan masyarakat tersampaikan oleh lisan yang menuntut keadilan, disampaikan oleh sekelompok pemuda yang katanya penyambung lidah masyarakat dengan penguasa bahkan katanya adalah tonggak perubahan, dialah mahasiswa.

Namun kini, dimanakah hadirnya mahasiswa yang dulu  begitu lantang menyuarakan hak-hak rakyat? Berada di barisan terdepan ketika ada kebijakan yang mencekik rakyat termasuk naiknya harga BBM.

Mengapa seolah hari ini mahasiswa diam, dininabobokan dengan sederet tugas kuliah yang menumpuk bersama dengan ajang-ajang pencarian bakat. Maka dari itu sejatinya mahasiswa kembali pada identitasnya sebagai intelektual muda yang peduli pada kondisi negeri. Berkumpul dibarisan utama untuk membela keadilan umat bersama.[MO/sr]

Posting Komentar