Oleh : Rahmawati Ayu K., S.Pd

Mediaoposisi.com- Galau! Mungkin kata itu yang paling pas untuk menggambarkan kondisi rupiah saat ini. Tidak berlaku untuk rupiah saja. Mata uang negara lain pun bisa galau jika nilainya tidak stabil, bahkan terus merosot dibandingkan standar mata uang dunia yakni dolar Amerika Serikat (AS).

Seperti yang diberitakan detik.com,  nilai tukar rupiah yang kembali keok setelah libur panjang lebaran, membuat dolar AS kini kembali bertengger di atas level Rp 14.000,-. Meski membuat panik kalangan dunia usaha dan investor, namun Analis Indosurya Sekuritas, William Surya Wijaya, kondisi ini dipercaya hanya bersifat sementara.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani ikut angkat bicara perihal ini. Dia mengatakan jika faktor pelemahan rupiah utamanya adalah karena kebijakan pemerintah dan Bank Sentral AS. Sri Mulyani mengungkapkan,  penyebab kurs rupiah melemah lebih banyak dipengaruhi kebijakan ekonomi dari pemerintah AS, seiring dengan perbaikan data ketenagakerjaan dan inflasi di Negeri Paman Sam.

Selain itu, ujarnya, The Fed juga akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate sebanyak tiga sampai empat kali di 2018. Namun demikian, diakui Sri Mulyani, The Fed akan mengerek suku bunga acuan secara hati-hati.

Menurut dia, kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan AS akan sangat mempengaruhi dunia, termasuk berdampak ke nilai tukar rupiah maupun negara lain. Pasalnya, AS merupakan negara terbesar di dunia. (www.liputan6.com)

Dampak Lemahnya Rupiah
Dolar menguat benar-benar menjadi isu yang sangat hangat akhir-akhir ini. Kemampuannya menggempur rupiah hingga bercokol di posisi 14.000 ke atas membuat banyak orang kebakaran jenggot. Kepanikan terjadi karena banyak sektor akan terkena imbas dari menguatnya mata uang negeri Paman Sam ini.

Dampak pelemahan rupiah berimplikasi pada beberapa hal, antara lain: Pertama, menekan produsen dalam negeri terutama importir dan perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor. Imbasnya, mereka terpaksa menyesuaikan produk, menaikkan harga atau mengurangi kapasitas usaha mereka yang sebagian berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja.

Banyak orang mengatakan jika rupiah melemah artinya Indonesia tamat. Bisa jadi benar atau salah. Indonesia adalah negara yang memiliki hobi mengimpor banyak sekali barang kebutuhan dari luar negeri.

Hal inilah yang membuat negara ini jadi kucing kebakaran ekornya saat dolar meroket menembus 14.000 rupiah. Kita terbiasa apa-apa dibayar dengan dolar, akibatnya saat nilai dolar naik kita pun jadi tekor.

Ekspor Indonesia ke luar negeri mungkin akan meraup untung lebih besar. Para pelaku di bidang ini  akan mendulang untung lebih banyak lagi. Barang-barang yang mereka jual ke luar negeri  harganya bisa jadi sama. Namun selisih harga dolar terhadap rupiah tentu menjadi untung yang tak terbilang sedikit. Ambil contoh selisih dolar bulan ini dan bulan lalu 500 rupiah.

Kecil sih, tapi jika dikalikan dengan total penjualan, bisa jadi untung yang lumayan. Meski demikian, pelaku ekspor tetap ingin rupiah menguat karena jika terus tertekan akan memberikan efek domino yang sangat besar bagi Indonesia.

Kedua, menurunkan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga barang (imported inflation) dan menaikan jumlah pengangguran. Sektor-sektor lain yang tidak berhubungan secara langsung dengan perdagangan luar negeri ikut terkena dampaknya.

Banyak importir mengeluhkan rupiah yang tak memiliki daya untuk melawan. Mau tidak mau importir akan menaikkan harga barangnya jika ingin dapat untung. Namun apa yang mereka lakukan justru membunuh calon pembeli.

Dampaknya, barang tidak laku dan mereka semakin merugi. Mulai dari benda elektronik, otomotif, pakaian, hingga makanan. Banyak orang akan berpikir dua kali untuk menebus benda ini dan dibawa pulang. Sementara itu, produk dalam negeri harganya masih akan stabil, walau ada kenaikan mungkin tidak signifikan.

Salah satu sektor yang paling deras terkena imbas adalah sektor barang elektronik. Kita tahu jika Indonesia masih belum mampu  membuat barang elektronik canggih. Sebut saja ponsel pintar, laptop, hingga perangkat rumah lainnya.

Selain itu, barang-barang yang berasal dari luar negeri pasti harganya kian meroket. Jika dolar kian kokoh artinya sektor impor akan terus tertekan. Permintaan kian menipis namun harga kian tak terkontrol!

Ketiga, meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri. Menurut keterangan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pada tahun 2013, utang luar negeri Pemerintah membengkak sebesar Rp 164 triliun akibat pelemahan rupiah.

Kerugian kurs akibat pelemahan rupiah juga kerap menimpa BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta yang mengandalkan utang luar negeri. Pada semester pertama 2015, misalnya, kerugian kurs PLN mencapai Rp 16,9 triliun.

Yang jelas, utang luar negeri akan makin membengkak. Terlebih utang ini dalam bentuk dolar. Jika rupiah makin keok seperti ini, utang kita ke luar negeri nilainya akan semakin fantastis. Bisa-bisa negara ini mengalami krisis moneter kembali yang membuat seluruh warganya menderita.

Pemerintah mau tidak mau, suka tidak suka harus mengurangi perilaku utang ke luar negeri. Dolar tak terbendung lagi saat ini. Jika mau semuanya terkontrol harus belajar hemat.

Sektor pariwisata ternyata juga mendapatkan imbas yang cukup besar dari naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah. Akan banyak sekali turis yang datang atau berbelanja di Indonesia karena “murahnya” biaya hidup di sini. Jika sebelumnya 100 dolar sama dengan 1,2 juta rupiah, saat ini 100 dolar menjadi 1,4 juta rupiah.

Selisih yang cukup signifikan ini akan menguntungkan mereka yang menggunakan dolar untuk berwisata. Meski demikian, efek untuk sektor pariwisata biasanya musiman. Dolar tak akan selamanya berada di puncak kemenangannya. Bisa jadi beberapa bulan kemudian akan terjun. Itulah mengapa saat dolar naik, orang-orang dari sektor pariwisata akan gencar melakukan promosi.

Pelajaran Berharga Dari Zimbabwe
Rumput tetangga tak selalu lebih hijau. Buktinya ada negara lain yang kondisinya lebih parah dari negara ini. Mungkin dari Zimbabwe bangsa ini harus banyak mengambil pelajaran. Jangan sampai  mata uangnya  terjun bebas  seperti terjadi di Zimbabwe.

Jika dalam buku tabungan Anda terdapat sebuah angka dengan deretan 15 nol di belakangnya, maka Anda bisa menganggap diri sebagai orang kaya. Namun, tidak demikian bagi warga Zimbabwe yang pemerintahnya menarik peredaran uang lokal dan menggantinya dengan uang dolar AS.

Penarikan ini disebabkan nilai dolar Zimbabwe sudah sangat jatuh dan tidak berharga lagi. Hiperinflasi yang terjadi beberapa tahun lalu menghancurkan nilai tukar dolar Zimbabwe. Kini, 1 dolar AS setara dengan 35 kuadriliun dolar Zimbabwe. Jumlah 35 kuadriliun adalah angka 35 dengan deretan 15 angka nol di belakangnya.

Di puncak krisis ekonomi Zimbabwe pada 2008,  harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak dua kali sehari. Untuk membeli kebutuhan pokok, seperti roti atau susu, warga Zimbabwe harus menyediakan beberapa kantong plastik untuk membawa setumpuk uang.

Akibat begitu tak berharganya mata uang lokal mereka, pada 2009,  warga Zimbabwe lebih banyak menggunakan mata uang asing, seperti dolar AS dan mata uang Afrika Selatan, rand, dalam transaksi sehari-hari.

Pecahan tertinggi yang pernah dicetak Bank Sentral Zimbabwe (RBZ) adalah 100 triliun dolar yang hanya cukup untuk ongkos naik bus selama sepekan. Adapun uang sebesar 100 miliar dolar Zimbabwe hanya bisa ditukar dengan tiga telur.

Selain untuk naik bus dan membeli telur, apa lagi yang bisa dibeli dengan mata uang dolar Zimbabwe? Sebuah situs belanja online Zimbabwe menawarkan dua gulung sosis dengan harga 50,7 kuadriliun dolar Zimbabwe atau sekitar Rp 19.000,- saja.

Pembersih toilet dihargai 102,5 kuadriliun dolar Zimbabwe atau Rp 40.000, dan sepasang sarung tangan lateks bisa diperoleh dengan harga 107,4 kuadriliun dolar Zimbabwe atau hampir Rp 50.000,-.

Namun, mulai Senin (16/6/2015) waktu setempat, warga Zimbabwe bisa mengatakan selamat tinggal untuk mata uang mereka yang tak berharga itu. Pada Senin, warga Zimbabwe bisa pergi ke bank setempat untuk menukarkan uang lama mereka dengan dolar AS.

Setiap orang yang menukarkan 250 triliun dolar Zimbabwe akan memperoleh 1 dolar AS. Artinya, pemilik 100 triliun dolar Zimbabwe hanya akan mendapatkan uang sebesar 40 sen AS atau kurang dari Rp 7.000,- saja. (www.kompas.com)


Indonesia memang tidak separah Zimbabwe. Namun jika ketidakstabilan mata uang tidak segera diatasi, tidak menutup kemungkinan negara ini akan mengalami krisis ekonomi seperti Zimbabwe. Apalagi dengan jumlah utang luar negeri yang terus merangkak naik hampir tembus 5000 Trilyun.

Menjaga Kestabilan Mata Uang Dengan Solusi Islam 
Anjloknya rupiah terhadap dolar yang mengganggu kestabilan ekonomi kerap terjadi di negeri ini. Peristiwa serupa juga terjadi di negara-negara lain, termasuk di negara-negara maju sekalipun seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah ini sesungguhnya merupakan salah satu ‘penyakit’ dari sistem ekonomi kapitalisme yang saat ini diterapkan global, dan secara inheren rentan menimbulkan krisis.

Anjloknya nilai tukar rupiah dipicu oleh berbagai faktor, seperti perlambatan ekonomi Cina dan Uni Eropa yang menjadi tujuan ekspor Indonesia dan merosotnya harga-harga komoditas. Dampaknya, penerimaan devisa Indonesia yang berasal dari ekspor menurun, sehingga menggerus neraca transaksi perdagangan.

Selain itu, ada pula faktor spekulasi di sektor finansial yang kemudian memicu pelarian modal keluar yang antara lain dipengaruhi oleh anjloknya bursa saham Cina, devaluasi yuan, dan rencana penaikan suku bunga the Fed (Federal Fund Rate). Semua ini berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah.

Pemerintah dan Bank Indonesia memang tak tinggal diam.

Sejumlah langkah ditempuh di antaranya:

intervensi pasar oleh BI dengan melepas cadangan devisa; rencana bail-out pasar saham oleh BUMN-BUMN senilai Rp 10 triliun yang diinisasi oleh Kementerian BUMN; menambah utang dengan menarik utang-utang siaga (stand by loan); hingga membuat sejumlah paket kebijakan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun sayangnya usaha tersebut kurang mujarab.

Ada beberapa faktor fundamental yang menjadi sebab krisis mata uang, yaitu: penggunaan mata uang kertas (fiat money), sistem finansial yang berbasis riba dan bersifat spekulatif, serta liberalisasi perdagangan dan investasi. Saat ini digunakan mata uang kertas (fiat money) yang nilai nominalnya tidak ditopang oleh nilai yang bersifat melekat pada uang itu (intrinsic value).

Uang menjadi berharga lantaran ia dilegalkan oleh stempel pemerintah atau otoritas moneter suatu negara. Dampaknya, jika ekonomi atau politik negara tersebut melemah, mata uangnya ikut melemah.

Standar tersebut juga membuat pemerintah lebih mudah untuk menambah pasokan uang yang selanjutnya dapat mendorong kenaikan inflasi, seperti yang terjadi di Zimbabwe. Contoh mutakhir lainnya adalah kebijakan quantitave easing oleh bank-bank sentral Eropa, AS dan Jepang yang menambah uang beredar dengan membeli surat-surat utang pemerintah.

Dampaknya, inflasi menggerogoti nilai kekayaan masyarakat dan mengurangi daya beli dalam jangka panjang. Kondisi tersebut membuat mata uang kertas menjadi salah satu sasaran spekulasi di pasar uang. Pemerintah tak jarang harus turun tangan untuk melakukan intervensi pasar dengan menggelontorkan cadangan devisanya untuk menstabilkan mata uangnya.

Jika kurang, mereka terpaksa berutang kepada negara lain ataupun kepada institusi internasional terutama IMF yang menjadi penanggung jawab utama sistem moneter global saat ini.

Sementara itu, Islam sebagai agama dan ideologi yang memiliki aturan sempurna dari Allah SWT telah mensolusi masalah ekonomi seperti yang tertuang dalam nash-nashnya. Di dalam Islam, negara wajib mengadopsi standar mata uang emas dan perak.

Dengan demikian uang yang beredar baik dalam bentuk emas dan perak, ataupun mata uang kertas dan logam yang ditopang oleh emas dan perak, nilainya ditopang oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, nilai nominalnya ditentukan oleh harga komoditas yang menjadi fisik atau penopangnya (intrinsic value).

Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak bebas memproduksi uang yang beredar. Ia hanya dapat menambah jumlah uang subtitusi baik kertas ataupun logam sejalan dengan peningkatan cadangan emas dan perak yang dimiliki negara.

Kegiatan para spekulan untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang negara-negara akan menjadi sangat berat. Pasalnya, yang mereka spekulasikan sejatinya adalah emas dan perak.

Meskipun demikian, negara akan berupaya agar negara-negara di dunia ini kembali mengadopsi standar emas dan perak sehingga harga emas di pasar global dapat bergerak lebih stabil, sebagaimana yang terjadi ketika negara-negara di dunia ini mengadopsi standar ini hingga Perang Dunia I berkecamuk.

Faktor lain yang menjadi penyebab melemahnya rupiah dewasa ini adalah liberalisasi perdagangan dan investasi. Liberalisasi di sektor perdagangan membuat produk-produk asing membanjiri pasar domestik.

Di sisi lain, akibat tidak adanya visi negara ini untuk menjadi negara yang tangguh dan mandiri, produsen dalam negeri dibiarkan bersaing bebas tanpa proteksi dan dukungan yang memadai. Akhirnya, barang-barang yang sangat penting seperti pangan dan produk industri-industri strategis yang semestinya diproduksi di dalam negeri, harus bergantung pada impor.

Dalam pandangan Islam kebijakan liberalisasi ekonomi diharamkan. Sektor perdagangan luar negeri seluruhnya harus terikat pada hukum syariah dan diawasi oleh negara. Sebagai contoh, tidak semua negara boleh melakukan transaksi perdagangan dengan Negara Islam.

Islam melarang hubungan dagang dengan negara-negara yang berstatus kafir harbi fi’lan, yakni negara yang sedang berkonfrontasi dengan Negara Islam. Barang-barang tertentu yang oleh negara dipandang dapat memperkuat negara-negara kufur dalam memerangi kaum muslim dilarang untuk diekspor.

Lebih dari itu, Islam mendorong agar negara menjadi mandiri dan melarang ketergantungan yang dapat mengakibatkan negara-negara kafir menjajah negara tersebut. Oleh karena itu barang dan jasa yang esensial seperti pangan, energi, infrastruktur dan industri berat harus mampu dihasilkan secara mandiri.

Kemandirian dan produktivitas yang tinggi akan mendorong negara menjadi eksportir barang dan jasa yang bernilai tinggi. Hal ini tentu saja akan memberikan keuntungan berupa peningkatan cadangan devisa yang dapat dipergunakan dalam banyak hal untuk membangunan kekuatan negara.

Selain itu, Islam mengharamkan adanya liberalisasi investasi. Sebagai contoh, investor yang berasal dari negara yang berstatus dârul-harbi tidak diperkenankan masuk ke negara. Objek investasi juga dibatasi; investasi swasta pada sektor yang masuk kategori barang milik umum, seperti pertambangan yang depositnya besar, tidak diperkenankan.

Problem lemahnya mata uang rupiah di hadapan dolar AS sebetulnya bukan sekedar persoalan tehnis yang cukup dihadapi dengan solusi taktis pragmatis, seperti menaikkan suku bunga dsb.

Namun ini menyangkut persoalan paradigmatis. Dimana umat harus disadarkan, bahwa selama sistem ekonomi dan moneter yang diterapkan adalah Kapitalisme, maka mata uang di negara manapun tidak akan pernah stabil.

Dolar AS yang dijadikan standar mata uang dunia sebenarnya adalah cara AS untuk mengokohkan hegemoni penjajahan atas Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Sepanjang Indonesia tidak mandiri, pemerintahannya lemah, dan sistem moneternya masih berbasis fiat money, mata uang Indonesia akan terus galau terombang-ambing.[MO/sr]

Posting Komentar