Oleh: Masita
(Anggota SWI Community Kolaka)

Mediaoposisi.com- Isu terorisme masih dianggap jadi alat efektif membungkam pergerakan Islam ideologis, seperti dilansir dalam Kompas.com_Seperti sebuah cerita berepisode, lagi-lagi dilakukan penangkapan beberapa orang yang diduga sebagai seorang teroris.

Ada empat orang terduga yang ditangkap pada dua tempat berbeda, yaitu di Bandung, Jawa Barat dan Kebumen, Jawa Tengah. Terduga diduga bergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang terafiliasi dengan ISIS. Mereka berkomunikasi melalui media sosial Telegram.

Adapun barang bukti yang dapat diamankan oleh Densus 88 antara lain dompet berisi KTP, sejumlah uang dan juga ponsel.

Sudah tidak menjadi hal baru lagi berita tentang penangkapan teroris diberitakan. Beberapa bulan ini sudah beberapa kali dilakukan penangkapan oknum-oknum yang diduga sebagai teroris yang terjaring dalam organisasi ISIS. Densus 88 harus bekerja maksimal untuk menangkap jaringan ISIS tersebut guna menjaga keamanan Negara.

Dulu teroris diidentikan dengan bukti panci presto dan buku-buku islam, kemudian sekarang berubah menjadi kalimat Takbir bahkan al-qur’an pun dijadikan bukti sebagai seorang teroris. Yang tidak kalah penting bahwa teroris itu beragama islam dengan ciri-ciri, antara lain celana cingkrang, berjenggot ataukah bercadar. Yang perlu digaris bawahi yaitu agama Islam. Why must Islam?

Terorisme, Membidik Islam Politik
Saat pelaku yang meresahkan masyarakat itu bukan dari seorang Muslim, meski ia membunuh bahkan demo sampai merusak fasilitas negara bahkan lebih parah dari itu, kenapa tidak dikatakan teroris?? Indonesia merdeka atas persatuan anak bangsa yang membela dan mempertahankan teritorialnya atas akidah islamnya,

bahkan perjuangannya tidak lepas dari pekikan suara Takbir yang menggelegar menggetarkan semangat anak bangsa saat menghadapi penjajah kafir yang menguasai indonesia mulai dari budaya, sumber daya baik alam maupun manusia.

Saat wali songo sang utusan dari Khilafah islamiyah Turki Utsmani masuk ke indonesia menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alaamiin melalui syiar-syiar baik itu musik, budaya, kesenian ataukah adat istiadatnya.

Islam menjelma bak obat untuk segala macam penyakit, seiring berjalannya waktu indonesia dengan gagah berani mengusir penjajah kafir serakah dan mulai membangun negaranya.

How About Now? Not again! Islam menjadi dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya, islam hanyalah ibadah ritual saja, hanya di mesjid. Bahkan saat dunia tak dipimpin lagi oleh seorang pemimpin yang menerapkan segala aturan berdasarkan Sang Pencipta, kini telah menjadi Nation State.

Masing-masing berdiri atas ideologi yang dianutnya, menciptakan hukum berdasarkan kehendak penguasa dan asasnya memisahkan agama dari kehidupan begitu juga pemerintahannya agama tidak boleh ikut andil dalam memutuskan suatu perkara dalam ruang lingkupnya.

Dari 100% Islam di dunia sekian persen adanya beberapa kelompok yang tergabung atas kesadarannya bahwa islam adalah satu-satunya agama yang benar bukan cuma mengatur urusan individu atas hubungannya dengan pencipta ataukah dirinya tapi mengatur hubungan individu dengan masyarakatnya,

bagaimana cara bermuamalah, uqubat dan lain sebagainya. Tapi, justru semakin tajam pisau itu diasah. Semakin kuat pengembannya berdakwah, semakin berani pula musuh untuk menikamnya.

Kepercayaan orang kafir atas kembali tegaknya islam di bumi Allah, seolah menjadi motivasi terhebatnya untuk terus mengembangkan berbagai macam cara membungkam islam, mematahkan semangat pejuangnya, semakin gencar merusak akidah penerusnya, serta mengadu domba,

membenturkan para kelompok islam antara kehidupan dunia dan akidahnya. Islam diberikan label sebagai teroris, radikalis, tidak toleran dan sebagainya. Kerusuhan yang terjadi dimasyarakat seperti pengeboman yang terjadi di 3 gereja bandung, di pos polisi jalan Tamrin dan masih banyak lagi, pelakunya adalah seorang muslim yang tergerak dalam jamaah ISIS.

Padahal apa yang dibawa oleh ISIS jelas-jelas bertolak belakang dengan ajaran islam.
Masyarakat pun bak bebek yang dengan mudahnya mempercayai berita, seolah tak ingin mencari kebenaran tentang ajaran agamanya. Dampaknya saat diajak untuk mengkaji islam kaffah menolak dengan dalih maunya islam yang biasa.

Karena merasa khawatir atas agamanya sendiri. Pengaruh ideologi orang kafir menjadi dampak yang sangat buruk bagi umat muslim. Pasalnya umat muslim saling berpecah belah, meyalahkan satu sama lain dan menjadi egois atas pemahamannya.

Memikirkan diri sendiri dan enggan untuk berjuang menyatukan umat lagi yang dipimpim oleh seorang khalifah yang akan menerapkan islam kaffah dalam pemerintahannya.

Kembali ke Islam Kaffah
Tugas besar pengemban dakwah islam sangatlah tidak mudah, karena ia harus berjuang bagaimana menyadarkan umat atas rusaknya ideologi yang digalakkan orang kafir serta menyatukan umat atas kesadaran individu tentang menyatukan pemikiran,

perasaan dan peraturan agar mewujudkan kehidupan yang lebih islami sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para khalifah setelahnya yang berkuasa selama 1300 tahun/13 abad dengan bukti kegemilangannya bukan hanya akidahnya melainkan ilmu pengetahuan, sains dan teknologinya menjadi unggul terdepan,

bahkan keberanian individunya dalam menentang kebathilan dan melawan setiap musuh yang ingin menghancurkan islam atas nama kebenaran. Berdakwah, menyebarkan islam keseluruh penjuru dunia, saling menjaga hubungan dan menolak perpecahan.

Pelabelan islam adalah agama teroris tidak menjadikan seorang muslim ciut nyalinya dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran melainkan semakin gagah berani membuktikan bahwa islam bukanlah agama sebagaimana yang telah dituduhkan di masyarakat.

Islam mengajarkan kedamaian dan tidak berbuat berdasarkan hawa nafsunya melainkan ada aturan dan tata cara pelaksanaan yang akan berefek pada pemuasan fitrah, akal dan menentramkan hatinya.
Walhasil, Umat harus meningkatkan kesadaran politik sehingga tidak mudah digiring oleh opini yang menjauhkan mereka dari Islam ideologis. [MO/sr]

Posting Komentar